Dalam ”pengakuan dosanya”, Obama mengungkapkan bahwa kekacauan Libya tidak lepas dari peran Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron. Sebab, ketika itu AS bermitra dengan Inggris dan negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang lain untuk menggempur Libya.
Sayangnya, saat serangan memasuki tahap penting dan setelah Kadhafi tewas, Cameron tidak bisa terlalu berfokus dalam misi di Libya. ”Dia justru mengurusi berbagai hal lain setelah operasi (pelengseran Kadhafi) berhasil,” ungkap Obama tentang Cameron dalam wawancara dengan The Atlantic.
Menurut dia, itulah salah satu faktor yang membuat AS dan NATO tidak bisa berkonsentrasi pada pemulihan Libya pasca tewasnya Kadhafi. Tetapi, Cameron dan Presiden Prancis Francois Hollande membantah pernyataan tersebut.
Dalam kesempatan itu, Obama juga prihatin melihat kondisi Libya sekarang. Padahal, menurut dia, campur tangan AS dan negara-negara Barat dalam pemulihan Libya sudah berjalan sangat baik.
”Kini semua terlihat sangat kacau,” ujar presiden 54 tahun tersebut tentang Libya saat ini. Namun, pemulihan memang sangat bergantung pada pemerintahan baru dan rakyat Libya.(BBC/CNN/hep/c14/ami/pda/hargo)
