Kamis, 30 Juni 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Padeti Ismail, Simbol Perekat dan Pertaruhan Gorontalo

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Rabu, 30 Maret 2016 | 21:13 Tag: ,
  

========= Funco Tanipu (Sosiolog Universitas Negeri Gorontalo).

PEDETI Ismail adalah jargon Gorontalo kekininan yang luar biasa. Tidak saja menghipnotis, tapi juga membangunkan kembali ingatan sosial warga Gorontalo tentang kebersamaan, kekerabatan dan harmoni. Ismail adalah simbol Gorontalo hari ini di pentas nasional.

Walaupun Ismail adalah gejala hiperealitas dalam cultural studies, tapi bagi saya momentum ini tak bisa kita lepas begitu saja. Hiperealitas yang sengaja dikonstruksi oleh media secara manipulatif memang mengkhawatirkan, namun gejala ini bisa kita manfaatkan serta diperalat untuk tujuan luhur.

Simbol Perekat

Gorontalo hari ini secara faktual bisa dikatakan minus icon pemersatu. Pasca Nani Wartabone, Gorontalo kekurangan “idol” dan “hero”. Ismail adalah potongan manusia Gorontalo yang sedikitnya telah berhasil menyatukan dan mempererat identitas ke-Gorontalo-an kita yang mulai cair.

Secara sosiologis, memori kolektif Gorontalo cukup sedikit dan terbatas. Beberapa memori kolektif antara lain ; 23 Januari 1942, Perlawanan terhadap Permesta, dan Pembentukan Provinsi adalah ingatan sosial Gorontalo yang menjadi pengikat identitas dalam konteks kewaktuan yang tentatif.

Setelah itu, belum ada momentum pemersatu secara kolektif dalam ingatan sosial. Momentum “bersatunya” seluruh warga Gorontalo dalam derap Dangdut Academy Indosiar adalah poin penting untuk bisa dijadikan pemantik babak baru kolektifitas Gorontalo secara utuh.

Gorontalo juga punya potensi keretakan sosial dengan model politik lokal yang belum punya pola stabil. Belum lagi ditambah dengan ulah pemimpin politik lokal yang hanya bersifat sektoral, berpihak ke wilayahnya, dapilnya, kelompoknya dan golongannya.

Semua masih berada dalam ego sektoral yang berpotensi merusak harmoni Gorontalo.

Momentum ini begitu penting untuk menstabilkan kembali tatanan politik yang telah diacak oleh komprador politik minus nurani. Kesederhanaan Ismail juga menjadi pelajaran bagi politisi yang sering tampil jetset.

Karena itu, kehadiran Ismail yang secara tiba-tiba di Dangdut Academy Indosiar dan menyita perhatian warga Goronta secara massif menjadi momentum perekat ke-Gorontalo-an kita.

Keteladanan Gorontalo

Ismail yang lahir dari keluarga sederhana, yatim piatu, punya keluarga kecil dengan istri yang sedang hamil, adalah perekat dan pemersatu secara kontemporer. Identitas kesederhanaan Ismail adalah penting untuk digalakkan di tengah serbuan hedonisme yang merebak.

Ismail yang berkulit hitam legam, jerawatan dan polos adalah sosok yang apa adanya. Ismail menjadi icon yang apa adanya, bukan yang ada apa-apanya. Identitas ini penting untuk pelajaran bagi pola konsumsi warga yang kini menghipnotis. Hidup yang apa adanya.

Untuk Gorontalo hari ini yang minim nilai keteladanan, Ismail bisa dijadikam rujukan (sementara) akan perjuangan hidup. Kehidupan Ismail yang sederhana dari kampung Buliide adalah penanda bagi sebagian keluarga-keluarga Gorontalo yang kini mengalami pergeseran dalam hal pembinaan keluarga. Bahwa Ismail adalah simbol perjuangan hidup keluarga, banting tulang, dan berdarah-darah.

Pertaruhan Gorontalo

Maka dari itu, momentum langka ini mesti dijadikan modal sosial penting untuk merekatkan kembali sekat-sekat kekerabatan, kekeluargaan, kewilayahan, tatanan politik dan harmoni sosial Gorontalo.

Walaupun Ismail adalah bagian dari desain media dan dijadikan icon pop culture yang itu bersifat sesaat, namun momentum ini mesti sering dikomodifikasi agar bisa merawat ingatan secara kolektif dan jangka panjang.

Ismail adalah pertaruhan identitas dan masa depan Gorontalo. Mendukung Ismail bukan saja membuat cerah wajah Gorontalo di pentas nasional, tetapi ikut menyelamatkan masa depan Gorontalo.

Karena itu, jangan biarkan Ismail berjuang sendirian mencerahkan wajah Gorontalo. Jangan biarkan Ismail berjuang sendirian menyelamatkan masa depan kita.

Sekali lagi, Padeti Ismail, Padeti Gorontalo. (*)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar