Minggu, 27 November 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Partai Besar Rawan Hilang Kursi, Begini Analisanya 

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Kabar Politik , pada Kamis, 12 Juli 2018 | 12:00 Tag: , ,
  

Hargo.co.id, GORONTALO – Partai politik besar yang mendapatkan kursi pimpinan di DPRD Provinsi tak boleh jumawa di pemilu 2019. Pasalnya, hasil positif yang diperoleh pada pemilu lima tahun silam, berpotensi tak akan terulang. Karena para jagoan partai yang menjadi pendulang suara di pemilu 2014, tak lagi mencalonkan diri.

Setidaknya ada tiga partai yang jumlah kursinya berpotensi menurun. Yaitu PAN, PDIP dan Golkar. Ketiga partai ini mendapatkan kursi pimpinan DPRD di pemilu 2014. Golkar yang mengoleksi 12 kursi mendapatkan kursi Ketua DPRD. Sementara PAN dengan 7 kursi dan PDIP 6 kursi, masing-masing mendapatkan kursi Wakil Ketua DPRD.

Tiga partai ini berpotensi kehilangan kursi di daerah pemilihan (dapil) Kota Gorontalo. Karena figur-figur caleg yang menjadi magnet suara di Pemilu 2014 sudah tak mencalonkan diri.

Jagoan PAN di Pemilu 2014 yaitu Feriyanto Mayulu yang mendapatkan suara tertinggi semua caleg untuk dapil Kota Gorontalo, tak lagi menjadi caleg. Feriyanto Mayulu pada pemilu 2014 mendapatkan suara sebanyak 9.630.

Jagoan PDIP Alifudin Djamal yang mendapatkan suara terbanyak kedua di dapil Kota Gorontalo sejumlah 9.218, juga memutuskan untuk tidak ikut pencalegan.

“Saya ingin konsentrasi dengan usaha saya. Dan keputusan itu bisa diterima dan dimaklumi oleh partai dan teman-teman,” ujar Alifudin Djamal kepada Gorontalo Post, kemarin.

Meski tidak lagi mencalonkan diri, Alifudin menyatakan dia akan tetap menjadi pengurus partai. “Saya tetap akan bekerja mengurus partai,” ujar Bendahara DPD PDIP itu sambil memastikan, figur caleg yang akan ditawarkan PDIP di pemilu 2019 memiliki popularitas dan elektabilitas yang kompetitif.

Begitupun dengan Golkar. Dua figur yang menjadi magnet suara di pemilu 2014 yaitu Totok Bahtiar yang memperoleh 5.678 suara dan Lisna Alamry yang mendapatkan 5.083 suara juga tak akan mencalonkan diri.

Khusus untuk PAN, kehilangan figur yang menjadi magnet suara tidak hanya di dapil Kota Gorontalo. Jagoan PAN di dapil Bone Bolango saat pemilu 2014 yaitu Loly Junus, juga dikabarkan tak akan mencalonkan diri melalui PAN. Pada lima tahun silam, Loly mendapatkan 5.532 suara.

Di dapil Boliyohuto grup, jagoan PAN yang kini menjadi Wakil Ketua DPRD Provinsi, Cony Gobel juga sudah tidak akan mencalonkan diri ke Deprov. Pada pemilu 2019, Cony Gobel memutuskan maju ke DPD. Ketika ikut pencalonan DPRD Provinsi, Cony Gobel meraih 4.468 suara.

Soal potensi kehilangan kursi ini, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Gorontalo, Ariston Tilameo mengatakan, meski tanpa Alifudin Djamal, pihaknya tetap optimis bisa mempertahankan satu kursi dari Dapil Kota Gorontalo di DPRD Provinsi. “Kita optimis masih bisa dapat kursi dari Dapil Kota Gorontalo,” ujarnya.

Dia menjelaskan, keputusan untuk tak lagi ikut pencalegan atas keinginan sendiri dari Alifudin Djamal. Yang bersangkutan sudah tidak bersedia lagi menjadi calon anggota DPRD Provinsi Gorontalo periode 2019 -2024. “Beliau (Alifudin,red) memang sudah tidak mau lagi menjadi caleg,” kata Ariston.

Karena itu, bacaleg PDIP dapil Kota untuk DPRD Provinsi yang telah dikirim ke DPD sudah tidak lagi mencantumkan nama Alifudin Djamal. “Ya, benar nama Pak Alifudin tidak masuk,” ungkapnya.

Sekretaris DPW PAN Gorontalo Salahudin Tuli sebelumnya memastikan, PAN akan menyodorkan figur caleg yang akan mampu bersaing di pemilu 2019. Karena pihaknya menargetkan untuk bisa mempertahankan tujuh kursi di DPRD Provinsi. “Perolehan kursi di semua dapil saat pemilu 2014 akan kita pertahankan,” jelasnya.

Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD I Golkar Gorontalo Fikram Salilama memastikan, Golkar tetap mematok target sebagai pemenang pemilu 2019. Secara otomatis Golkar akan bisa mempertahankan kursi Ketua DPRD Provinsi.

“Target kita perolehan kursi akan bertambah menjadi 15 kursi di DPRD Provinsi,” ungkapnya. Dia meyakini, target itu akan bisa dicapai. Apalagi konversi suara partai ke kursi DPRD sudah menggunakan metode baru yaitu SLM (Saint League Murni).

“Sistem baru itu akan sangat menguntungkan Golkar yang selalu unggul dalam perhitungan suara partai,” tandasnya. (wan/rmb/gp/hg)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar