Soal posisi PDIP dalam koalisi yang hanya akan menyodorkan Calon Wakil Gubernur (Cawagub), Kris menjelaskan, ini menjadi bukti bahwa PDIP mengedepankan rasa kebersamaan  dalam koalisi meski hasil Pileg 2014 menjadikan PDIP sebagai partai terbesar ketiga.
“Bagi kami (PDIP) yang terpenting bagaimana koalisi ini bisa melahirkan calon-calon pemimpin yang berakhlak dan punya kemampuan untuk membangun dan mensejahterakan rakyat,†ujarnya.
Sementara, Ketua DPW PPP Gorontalo, Muhalim Litty menjelaskan, koalisi ini telah menjadi kesepakatan koalisi nasional. Ketua umum PPP Rohmahurmuzy dan Ketua Umum PDIP Megawatisoekarno Putri sudah bertemu dan membahas hal ini.
Oleh karena itu penandatanganan koalisi di Gorontalo akan menjadi contoh koalisi PDIP-PPP di Pilkada 2017 bagi daerah-daerah lain. “Pada salah satu kegiatan partai, ketua umum telah mengisyaratkan sudah merindukan koalisi mega bintang (koalisi Megawaty-Hamzah Haz di pemilu 1997). Dan alhamdulilah ini terbangun dari Gorontalo,†ungkapnya.
Lebih jauh Muhalim mengatakan, terkait pembagian porsi dalam hal pengusulan calon, memang hal itu sudah menjadi kesepakatan bersama. “Walau PPP hanya punya 4 kursi tapi dapat porsi papan satu. Mungkin PDIP memandang kader-kadernya yang akan disodorkan dalam pencalonan memang untuk papan dua. Makanya porsi usulan Cagub diberikan kepada PPP,†tambahnya.
Dalam kesempatan itu, juga telah disepakati bahwa, yang akan menjadi juru bicara koalisi adalah Sekretaris DPD PDIP La Ode Haimudin dan Sekretaris DPW PPP Awaludin Pauweni.Â
