Sementara itu Nawa (samaran,red). Ia juster berperilaku biseksual. Perempuan 26 tahun ini, terang-terangan mengaku suka dengan sesama jenis, tapi juga suka dengan laki-lakil.
Ia mengaku, menjalani biseks ketika bangku SMA. Saat itu ia menjadi korban perkosaan. Memang ketika itu kata Nawa, ia mabuk berat setelah pulang dari kelab malam di Kabupaten Gorontalo.
“Saya bangun ada banci, padahal banci kan sukanya pada perempuan,”ujarnya.
Sejak saat itu, ia mengaku orientasi seksualnya berubah, menjadi penyuka laki-laki dan perempuan. Kehidupan biseksual itu juga diketahui keluarganya. Ia laku kerap dibully, tapi tak peduli karena memang kenyataanya seperti itu. Lain lagi dengan kehidupan gay. Mereka sulit ditebak. Dari penampilan seperti laki-laki tulen.
Sebut saja R (nama samaran). Kehidupan gay ia jalani karena latarbelakang keluarga yang tidak harmonis. Ia menyendiri dan memilih tinggal di kos-kosan. Bukan sulit mendapatkan wanita sebagai pacar, ia justeru memiliki wajah tampan yang menjadi modal untuk pacaran dengan wanita.
Tapi entah kenapa kata R setiap kali di kos ia malah lebih tertarik dengan pria. Yang ganteng, berbodi sixpac, tinggi dan putih terus membayanginya. Ia kemudian menelusuri siapa saja yang juga suka sesama jenis, selain banci.
“Ternyata dan banyak,”aku pria berkulit putih itu.
“Saya punya cowok juga,”terangnya. Fenomena LGBT menjadi warnah kehidupan sebagian masyarakat Gorontalo saat ini. Mereka ada dimana-mana yang juga hidup layak. (tr-46/roy/tr-49/wie/hargo)
