Pasalnya ia sangat menyukai keberadaan hiu paus, bahkan dirinya belum mengetahi pasti pengaruh dari hiu paus yang tak lagi muncul di lokasi itu. “Saya berharap hiu pas tetap kembali bermunculan,” ungkap Sri Endang.
Di sisi lain, kalangan warga setempat mulai merasakan dampak dari tidak munculnya hiu paus selama dua hari terakhir. Meski para pengunjung masih berdatangan, tetapi dari sisi jumlah terjadi penurunan.
“Mungkin lantaran sudah menyebar dari mulut ke mulut bahwa sudah tak ada hiu paus makanya orang mulai sedikit yang datang,†ungkap Salma salah seorang warga setempat.
Ibu rumah tangga yang menjual jajanan ringan itu mengaku, pekan lalu jumlah pengunjung yang datang masih sangat ramai. “Sabtu-Minggu itu, pagi saja sudah ratusan orang yang datang. Hampir semua perahu terpakai. Alhamdulillah, imbasnya juga kepada kami pedagang kecil,†tutur Salma.
“Namun sejak Sabtu dan hari ini (kemarin), yang datang tidak sama dengan minggu lalu. Lebih sedikit. Itupun mereka datang, pas tahu sudah tak ada ikan (hiu paus) langsung pulang,†sambungnya dengan mimik kecewa.
“Kami terus berdoa agar ikan tersebut kembali ada di lokasi Botubarani. Sebab, sudah dua hari ini sunyi sekali tempat jualan, tidak sama dengan sebelumnya,” timpal warni penjaja makanan ringan lainnya.
Ketua Kelompok Sadar Wisata Hiu Paus Yansur Pakaya juga turut mengakui bila keberadaan hiu paus, sangat berdampak terhadap pendapatan masyarakat setempat.
Sehingga ketika hiu paus bermigrasi (pindah tempat) maka imbasnya terhadap pendapatan masyarakat cukup signifikan. “Hari biasa rata-rata pendapatan yang bisa diperoleh bisa Rp 1 juta per hari.
Kalau akhir pekan Rp 2 juta. Nah kalau hiu paus itu benar-benar hilang, otomatis pendapatan masyarakat juga akan ikut hilang,†tandasnya.(tr-48/tr-45/hargo)
