Hargo.co.id, GORONTALO – Selama kurang lebih 2 tahun pandemi Covid-19 telah mengakibatkan terjadinya perubahan pada tatanan kehidupan di segala bidang. Terutama perubahan tatanan di bidang pendidikan yang mana ditutupnya sekolah-sekolah untuk mencegah penyebaran virus corona kepada siswa.
Kondisi tersebut, mengharuskan dan mewajibkan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan melakukan pembelajaran secara daring (online). Meskipun vaksinasi juga telah gencar dilaksanakan Pemda Bone Bolango, tetapi para siswa dan siswi belum sepenuhnya bisa datang setiap hari ke sekolah untuk belajar. Lebih tepatnya 70 persen pembelajaran dilaksanakan secara daring dan 30 persen dilaksanakan secara tatap muka.
Pembelajaran daring (online) membuat siswa dan siswi lebih sering menggunakan handphone/laptop lengkap dengan paket data seluler. Banyak dari siswa yang terlena sehingga ketika tidak diawasi oleh orangtua dengan baik, mereka hanya menghabiskan waktu belajar untuk bermain game online maupun bermain medsos (media sosial).
Akibat pembelajaran daring tersebut juga banyak menjadikan siswa malas untuk belajar sehingga memilih untuk putus sekolah. Disini peran orangtua sangat dibutuhkan untuk mendampingi pendidikan anak.
“Para anak tolong diperhatikan pendidikannya dan jangan sampai putus sekolah. Pengawasan orang tua diperlukan di tengah masa sulit pandemi ini kita harus memperhatikan masa depan para anak untuk meneruskan kepemimpinan di Bone Bolango” ungkap Wakil Bupati Bone Bolango, Merlan Uloli ketika memberikan sambutan dalam kegiatan pembagian paket Limbako di Kecamatan Suwawa Timur, Bone Bolango pada Kamis, (24/02/2022)
Merlan Uloli yakin tongkat estafet kepemimpinan di Bone Bolango 10-20 tahun kedepan akan digantikan oleh anak-anak yang sekarang tengah menuntut ilmu di sekolah. Oleh karena itu, ia menegaskan kepada para orang tua untuk menjaga para anak agar tidak terlibat dalam pergaulan bebas khususnya para anak gadis jangan biarkan mereka menikah muda.
“Ini harus diseriusi karena ditengah pembelajaran melalui daring banyak yang putus sekolah,” kuncinya. (***)
Penulis : Rita Setiawati
