Menurut dokter spesialis saraf dr Wardah Rahmatul Islamiyah SpS, sleep paralysis bisa dialami siapa pun. Sleep paralysis merupakan kondisi di antara bangun dan tidur. Penderita sudah bangun, namun otak tidak bisa memerintah otot untuk bergerak karena masih dalam fase tidur. ”Ibaratnya itu motor belum panas,” jelasnya.
Sleep paralysis biasanya terjadi pada fase tidur rapid eye-movement (REM). Fase tersebut merupakan saat tidur paling nyenyak. Seluruh otot dalam keadaan rileks. Saat REM itulah terjadi mimpi. ”Tandanya, mata akan bergerak-gerak,” kata Wardah.
Sebenarnya, tidur mempunyai empat fase. Yakni, stadium pertama adalah ketika orang dalam kondisi setengah sadar, namun masih bisa mendengarkan lingkungannya. Jika dibiarkan, mereka akan masuk fase kedua, tidak mendengar namun masih mudah dibangunkan. Nah, stadium ketiga adalah fase ketika seseorang tidur dan susah dibangunkan. Fase puncak adalah REM.
Biasanya sleep paralysis terjadi pada mereka yang mengalami narkolepsi. Yakni, mereka yang mudah tidur atau mampu tidur dalam waktu lama. Penderita narkolepsi bisa tidur saat diajak berbicara. ”Mereka mengalami kerusakan fase tidur. Fasenya tidak urut,” tutur dokter yang juga praktik di RS Unair tersebut.
