Ponpes Mathla’ul Huda, Juara Dua Pildacil dan Penulis Kaligrafi Tingkat Nasional

×

Ponpes Mathla’ul Huda, Juara Dua Pildacil dan Penulis Kaligrafi Tingkat Nasional

Share this article
Aktivitas hafalan Quran para santri santriwati di Ponpes Mathla'ul Huda Desa Tingkohubu, Suwawa, Bone Bolango. (foto.Istimewa)

Kabupaten Bone Bolango memang layak dijuluki Kota Pendidikan. Selain memiliki sejumlah sekolah formal unggulan dan berkualitas. Di daerah Bone Bolango Cemerlang ini juga memiliki wadah pendidikan nonformal yang tidak kalah berprestasi di bidang agama. Seperti halnya Pondok Pesantren (Ponpes) Mathla’ul Huda yang berada di Desa Tingkohubu Kecamatan Suwawa Kabupaten Bone Bolango. Ponpes ini selain mencetak para hafiz atau penghafal Quran, juga mencetak para Da’i cilik. Tak heran Ponpes ini bisa meraih juara dua pada ajang Pemilihan Da’i Cilik (Pildacil) dan Penulis Kaligrafi hingga Tingkat Nasional.

Peliput : Arfandi Ibrahim – Bone Bolango
Editor : Roy Tilameo

Hargo.co.id GORONTALO   USAI salat Jumat (25/6) sekira pukul 13.40 wita, para santri dan santriwati di Ponpes Mathla’ul Huda Desa Tingkohubu, Suwawa seperti biasanya disibukan dengan rutinitas hafalan Alquran. Mereka (santri,red) dibagi menjadi dua bagian. Ada yang melakukan aktivitas hafalan di dalam masjid, ada juga di dalam ruang kelas.

Khusus untuk ruang kelas secara fisik bangunanya memang masih semi permanen. Ini terlihat dari dinding ruang kelas yang berukuran 3×5 meter itu hanya berbahan tripleks. Meski dengan kondisi bangunan yang masih serba pas-pasan, namun hal itu tidak menyurutkan semangat para santri untuk belajar Alquran.

Demikian pula dengan para tenaga pengajar yang senantiasa sabar mengajarkan hafalan Quran kepada para santri ditengah minimnya fasilitas. Bahkan, pesantren yang didirikan ustad Gusaeri,M.Pd ini kini memiliki 102 santri dari berbagai kecamatan yang ada di Bone Bolango. Pesanteren yang berdiri sejak 2011 tersebut sudah mencetak sekitar 30 orang para hafiz-hafis cilik.

Tempat penggodokan hafis ini memiliki pengasuh lima orang. Metode yang digunakan untuk mengajar para siswa yakni setiap siswa harus menyetor satu ayat setiap harinya, dan ditargetkan setiap siswa itu minimal harus menghapal 1 Zus per santri yang umurnya setera dengan anak SD. Namun guru sering mengalami kesulitan ketika santri yang setiap harinya menyetor hafalan, lupa ketika hafalannya sudah terlalu banyak.Â