J.S. Badudu dikaruniai 9 anak masing-masing Dharmayanti Farnsisca, Erwin Suryawan, Chandramulia Satriawan, Chitra Meilani, Armadn Edwin, Rizal Indrayana, Sari Rezeki Andrianita, Mutia Indrakemala, dan Jusar Lakmikusala serta 9 menantu, 23 cucu, dan 2 cicit.
Istrinya, Eva Henriette Alma Koroh, lebih dulu berpulang pada 16 Januari 2016 lalu pada usia 85 tahun. Mereka hidup bersama dalam ikatan pernikahan selama 62 tahun. Prof. Dr. J.S. Badudu lahir di Gorontalo pada 19 Maret 1926.
Sepanjang usia ia mengabdikan diri untuk Bahasa Indonesia melalui kegiatan belajar-mengajar dan tulis-menulis.
Ia telah menjadi guru sejak usia 15 tahun dan mengakhiri pengabdiannya di bidang pendidikan pada usia 80 tahun, itu pun karena kondisi fisik yang terus menurun seiring bertambahnya usia.
J.S. Badudu dikenal masyarakat luas sejak ia tampil dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia yang ditayangkan di TVRI pada 1977-1979, dilanjutkan tahun 1986-1986.
Pada saat itu TVRI adalah satu-satunya siaran televisi di Indonesia. Bahkan demi integritas bahasa Indonesia, JS Badudu berani mengkritik cara berbahasa Presiden Soeharto kala itu. Presiden Suharto sering menggunakan kata berakhiran “-keun†yang tidak dikenal dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Kemudian, JS Badudu menyampaikan kritikan tersebut di televisi dan menjelaskan bahwa yang benar adalah kata yang menggunakan akhiran “-kanâ€. Beberapa karya besar di antara puluhan buku yang pernah ditulisnya: Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994), revisi kamus Sutan Muhammad Zain; Kamus Kata-kata Serapan Asing (2003); Pelik-pelik Bahasa Indonesia (1971); Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1993); Kamus Peribahasa (2008); Membina Bahasa Indonesia Baku (1980) dan lain-lain.
