Berkali-kali Zulfadhli memuji langkah-langkah konkret Kemenpar di borderland. “Ini kreatif. Alam, budaya, semuanya dieksplorasi. Dampaknya saya sudah mulai amati, di lapangan. Warung makan penuh, hotel dan home stay penuh, antrean kendaraan dari Kuching ke Entikong mengular panjang di perbatasan,†paparnya.
Faktanya, menurut dia, wilayah perbatasan Entikong memang seksi. Di 2015 saja, angka kunjungan wisatawan yang masuk lewat jalur darat Entikong jumlahnya mencapai 85.000 orang. Jumlahnya diyakini bisa terus bertambah bila Kemenpar berani main menyerang lewat program-program kreatif seperti cross border tourism.
“Ibarat main bulutangkis, pemainnya sudah berani smash. Berani nyerang. Memang harus berani ambil risiko supaya menang,†papar Zulfadhli.
Ini memang tak ubahnya seperti bermain games. Kalau masuk ke gawang dapat poin 2, kalau gagal minus 1. Bagi yang takut mengambil risiko, takut belok kiri kanan, takut membentur mistar, jumlah golnya pasti sedikit. Tapi bagi yang berani, semua peluang pasti dicoba. Semua akan dilakoni.
“Kemungkinan gagal pasti ada, tapi jumlah gol yang dicetak ke gawang lawan lebih banyak. Ini yang saya tangkap dari program cross border tourism Kemenpar. Berani ambil peluang lewat konser musik yang disuka warga Malaysia. Saya kira ini harus didukung. Ini harus terus kontinu supaya target 12 juta wisatawan mancanegara bisa terpenuhi. Kalau perlu, durasi eventnya hatus agak lama. Sekitar dua sampai tiga hari,†paparnya.
Menpar Arief Yahya setuju untuk menggarap cross border tourism lebih gencar lagi. Potensinya sangat besar. Atraksinya juga tidak sulit. Titik-titik yang bisa dibuat juga banyak. “Kami akan programkan lebih serius,” ungkap Arief Yahya, Menpar RI. (ndi/hargo)
