HeadlineKabar Nusantara

Amnesty International Minta MBG Dihentikan Sementara

×

Amnesty International Minta MBG Dihentikan Sementara

Share this article
Amnesty International Minta MBG Dihentikan Sementara
Sejumlah masa aksi yang tergabung dalam Aliansi MBG Watch menggelar aksi didepan Kejaksaan Agung. (Foto: Jp)

Hargo.co.id, JAKARTA – Amnesty International Indonesia mendesak pemerintah menghentikan sementara pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) serta melakukan evaluasi menyeluruh setelah muncul rentetan dugaan keracunan massal yang menimpa ratusan siswa dan guru di Jayapura, Papua, serta Semarang, Jawa Tengah.

Berita Terkait:  Akhirnya Warga Perum Wongkaditi Permai III Bisa Nikmati Jalan Mulus, Setelah 10 Tahun Berjibaku dengan Jalan Berlubang

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai dua insiden yang terjadi dalam sepekan terakhir menjadi sinyal kuat bahwa pelaksanaan program MBG perlu ditinjau secara serius.

“Besarnya jumlah siswa yang dilaporkan mengalami keracunan di Jayapura dan Semarang harus menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera menghentikan sementara sekaligus mengevaluasi program tersebut,” ujar Usman dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).

Berita Terkait:  Puluhan Personel TNI Seruduk Mapolrestabes Medan, Ada Apa?

Ia mengkritik cara pandang pemerintah yang disebut membandingkan jumlah korban dengan total penerima manfaat MBG. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak tepat karena setiap anak memiliki hak yang sama atas perlindungan kesehatan dan keamanan pangan.

Usman menyebut kasus keracunan yang terus berulang mengindikasikan adanya persoalan mendasar dalam tata kelola program.

Berita Terkait:  Gubernur dan Bupati Temui Sandiaga Uno, Bahas Rencana Pendirian Bank Daerah

Ia mengutip data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) yang mencatat lebih dari 37 ribu pelajar diduga menjadi korban keracunan terkait MBG sejak program berjalan pada Januari 2025 hingga Mei 2026.

Dari jumlah itu, sekitar 9.000 kasus terjadi sepanjang Januari hingga Mei 2026. Amnesty menilai kondisi tersebut bertolak belakang dengan tujuan awal MBG yang dirancang untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah.

Berita Terkait:  Kapolda Gorontalo Warning Anggota yang Terlibat Peredaran Miras

Lembaga itu juga menyoroti belum adanya investigasi menyeluruh maupun proses hukum yang dianggap memadai

terhadap sejumlah kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan pelaksanaan MBG.

Berita Terkait:  Soal PETI Balayo, Kapolsek: Saya Sudah Lakukan Himbauan untuk Dihentikan

Menurut Amnesty, insiden di Jayapura dan Semarang tidak dapat dipandang sebagai kasus yang berdiri sendiri,

melainkan mencerminkan persoalan sistemik dalam perlindungan hak anak dan hak atas kesehatan.

Berita Terkait:  Polri Gelar Wayang Kulit Berlakon Wahyu Cakraningrat, Dedi: Rangkaian Hari Bhayangkara

Usman turut menyinggung temuan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada Juni lalu yang menyebut

terdapat indikasi pelanggaran hak atas kesehatan, hak anak, dan hak atas pangan dalam implementasi program MBG.

Berita Terkait:  Seorang Warga Sulteng Diringkus Polisi di Sipatana Lantaran Sabu-sabu

Selain itu, Amnesty juga menyoroti aspek tata kelola anggaran program.

Menurut Usman, penggunaan anggaran pendidikan untuk mendukung MBG sebagaimana disinggung

Berita Terkait:  Polisi Ringkus 9 Terduga Pelaku Pengrusakan Kantor Finance yang Viral di Medsos

dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi pada Juli lalu turut memunculkan persoalan konstitusional yang perlu menjadi perhatian pemerintah.

Amnesty International mendesak pemerintah melakukan investigasi menyeluruh terhadap seluruh rantai pasok MBG di berbagai daerah, termasuk Jayapura dan Semarang.

Berita Terkait:  Kejari Tetapkan 5 Tersangka Dugaan Kasus Korupsi Revitalisasi GOR David-Tony, 2 Diantaranya Pejabat

Jika ditemukan unsur kelalaian yang menyebabkan keracunan massal, pihak yang bertanggung jawab diminta diproses sesuai ketentuan hukum secara transparan.

“Pemerintah harus memastikan tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban dalam pelaksanaan program ini,” tegas Usman. (jp) 

Berita Terkait:  Pejabat Basarnas Terjaring OTT KPK, Kapuspen: Hukum Sesuai Prosedur