Headline

BI Gorontalo Dorong Wartawan Lebih Cermat Membaca Angka Ekonomi

×

BI Gorontalo Dorong Wartawan Lebih Cermat Membaca Angka Ekonomi

Share this article
BI Gorontalo Dorong Wartawan Lebih Cermat Membaca Angka Ekonomi
Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo meningkatkan kapasitas wartawan melalui pelatihan membaca data ekonomi dan keuangan bagi wartawan ekonomi di Provinsi Gorontalo, Selasa (18/8/2026). (Foto: Jitro Paputungan)

Hargo.co.id, GORONTALO – Angka pertumbuhan ekonomi, inflasi, harga pangan hingga berbagai indikator keuangan tidak cukup hanya disajikan dalam bentuk angka.

Berita Terkait:  Pemeriksaan Airlangga di Kejagung Ricuh, Wartawan Diancam akan Ditembak

Di tangan wartawan, data tersebut perlu diterjemahkan menjadi informasi yang akurat, kontekstual, dan mudah dipahami masyarakat.

Hal inilah yang menjadi fokus Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Gorontalo saat membekali wartawan ekonomi melalui pelatihan membaca data ekonomi dan keuangan yang digelar di Bohulo Camp, Kabupaten Gorontalo, Selasa (18/8/2026).

Berita Terkait:  Sopir Truk Gelar Demo di Perlimaan Telaga, Tuntut Penindakan Mafia Solar Bersubsidi

Kegiatan tersebut diikuti jurnalis dari 24 media, baik media cetak, elektronik maupun daring.

Selain memperkuat pemahaman terhadap perkembangan ekonomi dan kebijakan BI, kegiatan ini juga diarahkan untuk mempererat sinergi antara media dan BI dalam menyampaikan informasi ekonomi kepada publik.

Berita Terkait:  Bendera PAN Dirusak Oknum Caleg Gerindra, Dimediasi, Berakhir Damai

Suasana pelatihan dibuat tidak hanya serius. Sebelum memasuki sesi materi, para peserta mengikuti permainan paintball. Para wartawan ditantang menyusun strategi, bergerak cepat, berlindung hingga merebut bendera.

Aktivitas tersebut menjadi ajang membangun kekompakan sekaligus mencairkan suasana sebelum peserta memasuki sesi utama pelatihan.
Berita Terkait:  Mundur dari PAN, Indra Gobel Pilih Bergabung Gerindra

Setelah permainan, peserta mendapatkan materi dari perwakilan BI, Firdaus, serta Henri Cahyo Dwi Safitri dari Badan Pusat Statistik (BPS). Pembahasan diarahkan pada cara membaca, memahami, dan mengolah data ekonomi menjadi produk jurnalistik yang informatif.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Gorontalo, Ciptoning Suryo Sondro, mengatakan kemampuan membaca data menjadi penting bagi wartawan karena pemberitaan ekonomi memiliki dampak yang luas terhadap masyarakat.

Berita Terkait:  Siswi SMP di Bone Bolango Ditemukan Tewas Gantung Diri

Menurutnya, informasi ekonomi tidak boleh disampaikan secara serampangan karena pilihan kata dalam sebuah berita dapat memengaruhi persepsi dan ekspektasi publik.

“Kalau berita kriminal ditulis secara jelas, efeknya biasanya berada di sekitar korban dan pelaku. Namun berita ekonomi berbeda. Dampaknya bisa meluas ke mana-mana. Untuk itu, perlu belajar mengolah kata agar informasi yang disampaikan tidak menimbulkan kepanikan,” jelas Cipto.

Berita Terkait:  Satu Rumah di Desa Tinelo Ayula Dilalap Jago Merah

Ia mencontohkan penggunaan istilah “menurun” dan “melambat”. Dalam konteks ekonomi, kedua istilah tersebut memiliki konsekuensi makna yang berbeda sehingga penggunaannya harus disesuaikan dengan data dan kondisi yang sebenarnya.

Cipto berharap pelatihan tersebut tidak hanya meningkatkan kapasitas wartawan, tetapi juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan antara BI dan media.

Berita Terkait:  Tak Terima Diviralkan di Medsos, dr. DT Laporkan Ayah Pasien

“Harapannya, teman-teman media semakin memahami bagaimana membaca angka dan menyampaikannya dalam bentuk berita yang tepat, sehingga informasi ekonomi dapat dipahami masyarakat dengan baik,” tandasnya.

Dalam kegiatan itu, wartawan juga diperkenalkan dengan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) sebagai salah satu sumber data yang dapat dimanfaatkan untuk memantau perkembangan harga pangan.

Berita Terkait:  BEM UNG Kritik Surat KKN Kontroversial, Kampus Lakukan Revisi

Melalui penguatan kemampuan membaca data tersebut, BI berharap pemberitaan ekonomi di Gorontalo semakin berbasis angka,

tidak kehilangan konteks, dan mampu membantu masyarakat memahami kondisi ekonomi secara lebih utuh.(Csr) 

Berita Terkait:  Ini Hasil Olah TKP Kasus Penyerangan Polisi di Gorontalo dengan Sajam