Roem Kono Soroti Bandara Djalaludin

×

Roem Kono Soroti Bandara Djalaludin

Share this article
Salah satu petugas bandara yang tiduran ditas conveyor, padahal conveyor biasanya bertuliskan dilarang duduk karena memang bukan tempat untuk duduk apalagi tidur.

“Disini bukan hanya tempat buang air, tapi harus mengabdi untuk Gorontalo,”tandasnya. Ia mengaku akan menyinggung persoalan ini ketika rapat dengar pendapat dengan Menteri Perhubungan Ignasius Djonan.
“Saya (juga)laporkan ke Menteri, itu bandaranya belum lengkap (garbarata),”tandasnya.

Sementara itu, pantauan Gorontalo Post, kemarin, pada conveyor tempat menanti bagasi pada ruang kedatangan justru ada satu

Hargo.co.id GORONTALO – Gedung terminal bandara Djalaludin Gorontalo resmi beroperasi pada 10 Juni 2016 lalu, berdiri megah dan mewah. Bahkan menjadi kebanggaan Gorontalo. Namun tetap saja mendapat sorotan.

Anggota Komisi V DPRRI Roem Kono dibuat kecewa dengan kondisi bandara yang diresmikan pada 1 Mei 2016 oleh Menteri Perhubungan Ignasius Djonan itu. Ia menyebut, kondisi bandara masih semraut. “Saya bangga bisa menikmati, turun di bandara yang bagus, mewah, dan besar.

Ini kebanggaan kita bersama. Tapi saya khawatir apakah maintanance (perawatan) bisa terjamin atau tidak,”kata Roem Kono, saat tiba dari Jakarta dengan pesawat Garuda Indonesia, (25/6) kemarin.

Kader Golkar yang ikut memperjuangkan pembangunan gedung terminal bandara itu menambahkan, penilaianya dengan kondisi bandara itu, ditemuinya saat pertama masuk ke ruang kedatangan.

Bagitu turun dari peswat, ia tak melalui gharbarata termasuk penumpang lainya, padahal belalai gajah itu sudah tersedia. Ia juga disambut dengan listrik bandara yang padam, ternasuk melihat kebersihan tidak terjaga, lantai di kawasan bandara kotor, begitu pun toilet masih kurang bersih, bahkan ia menyaksikan orang-orang keluar masuk di gate kedatangan.

Padahal harusnya hanya penumpang yang bisa keluar dari pintu kedatangan itu. “Orang-orang datang ke sini, lihat airport langsung berubah pikiran. Gorontalo luar biasa. Tapi lihat semraut, kebersihan tidak terjamin, toilet tidak bersih, maka itu jadi kesan yang tidak baik bagi Gorontalo,”ujarnya.

Tak hanya itu, kondisi gharbarata yang masih belum difungsikan juga turut ia sesalkan. Menurut Roem Kono, jangan sampai gharbarata jadi besi tua karena tidak difungsikan. “Ini suatu keterlambatan yang tidak diperhitungkan secara matang,”kata Roem Kono.

Ia berharap agar bandara yang menjadi ikon baru Gorontalo itu dikelola secara profesional. Yang terpenting kata Roem Kono adalah maintanancenya, sebab jangan sampai bangunan berdiri megah dan mewah yang menyedot anggaran negara ratusan miliar itu terlihat kumuh.

“Pengelola bandara saya harap perhatikan ini mulai sekarang. Ini berbahaya bagi kenyamanan pengunjung, terutama bagi turis. Kita harus berikan citra yang baik bagi daerah ini, karena bandara adalah pintu gerbang Gorontalo,”ujarnya.

Ia juga mengkritisi Kepala Bandara yang tak berada ditempat. Padahal kata Roem Kono saat ini adalah masa mudik lebaran. “Saya juga datang untuk mengecek kesiapan arus mudik. Tapi kok kepala bandaranya nggak ada.

Kepala bandara jangan sering-sering ke Jakarta, harus disini (Gorontalo), bersama mengelola bandara ini dengan baik. Jangan hanya seminggu disini keluar daerah lagi,”ujar Roem Kono. Ia juga menyoroti kepala bandara yang selalu diganti, padahal belum cukup lama bekerja di Gorontalo.

“Disini bukan hanya tempat buang air, tapi harus mengabdi untuk Gorontalo,”tandasnya. Ia mengaku akan menyinggung persoalan ini ketika rapat dengar pendapat dengan Menteri Perhubungan Ignasius Djonan.
“Saya (juga)laporkan ke Menteri, itu bandaranya belum lengkap (garbarata),”tandasnya.

Sementara itu, pantauan Gorontalo Post, kemarin, pada conveyor tempat menanti bagasi pada ruang kedatangan justru ada satu petugas yang tiduran, padahal conveyor biasanya bertuliskan dilarang duduk karena memang bukan tempat untuk duduk apalagi tidur.

Bagitu pun lantai, beberapa kepingan sampah justeru tidak langsung dibersihkan petugas.
Terpisah, Kepala Seksi Teknisi dan Operasional Bandara Djalaluddin Gorontalo Deden Chandra mengatakan, pihaknya sudah berupaya keras untuk memaksimalkan pelayanan di Bandara Djalaluddin Gorontalo.

Jika memang ada yang belum optimal. Hendaknya disampaikan langsung ke pihak Bandara. Sebagai contoh, jika menyangkut Toliet. “Tunjukan ke kita Toilet yang mana itu. Nanti akan kita perbaiki dan bersihkan kalau memang ada,” jelasnya.

Deden membantah jika warga bebas keluar masuk Bandara. Sebab, pengamanan Bandara sudah cukup ketat dan protektif menyeleksi pihak-pihak tertentu yang bisa masuk. “Itu tidak benar. Kita sudah sangat protektif terkait ini,” katanya.

Hanya saja Deden tak memungkiri menyangkut masalah lampu padam. Menurutnya hal tersebut jangan serta merta disalahkan ke pihak Bandara. Sebab, hal itu dipicu oleh daya yang diberikan PLN masih sangat terbatas.

Ada pun berkaitan dengan garbarata memang masih ada kendala berkaitan fasilitas mobil pendorong pesawat (pushback car). Pushback car tersebut berfungsi untuk mendorong mundur pesawat setelah menurunkan penumpang lewat garbarata. Pushback car ini sedianya seperti di Bandara lainnya yang sudah dilengkapi garbatata, dikelola operator atau pihak ketiga.

“Untuk itu solusinya, seluruh petugas Bandara berinisiatif untuk mengumpulkan uang secara pribadi. Dengan uang itu, mobil pendorong di pesan dari Jakarta. Insya Allah paling lambat sebulan sudah ada,” jelasnya. (tro/and/hargo)

Bagitu pun lantai, beberapa kepingan sampah justeru tidak langsung dibersihkan petugas.
Terpisah, Kepala Seksi Teknisi dan Operasional Bandara Djalaluddin Gorontalo Deden Chandra mengatakan, pihaknya sudah berupaya keras untuk memaksimalkan pelayanan di Bandara Djalaluddin Gorontalo.

Jika memang ada yang belum optimal. Hendaknya disampaikan langsung ke pihak Bandara. Sebagai contoh, jika menyangkut Toliet. “Tunjukan ke kita Toilet yang mana itu. Nanti akan kita perbaiki dan bersihkan kalau memang ada,” jelasnya.