Informasi yang beredar, Ketua Yayasan RSI tak mau menerima hasil keputusan rapat. Bahkan menolak untuk dilakukan perombakan/dilebur. Alhasil para dokter spesialis yang tergabung dalam Komite Medik RSI Gorontalo tetap kukuh pada pendiriannya. Sehingga mogok praktek dokter terus berlanjut.
Ketua Yayasan RSI Gorontalo Idris Rahim yang ditemui Gorontalo Post usai mengisi dialog di Stasiun TVRI Gorontalo mengaku belum bisa berbuat banyak. Hal itu dikarenakan dirinya baru diusulkan menjadi Ketua Yayasan RSI. “Baru diusulkan, sampai sekarang saya belum menerima SK,” kata Wakil Gubernur Gorontalo itu.
Disinggung mengenai persoalan yang mendera RSI Gorontalo, Idris memilih enggan menanggapi lebih jauh persoalan tersebut. Â Bahkan sejak awal Juli lalu, para dokter umum maupun dokter spesialis sudah tak lagi menangani pasien baru. Mereka hanya menangani pasien yang
Terpisah, Ketua Yayasan RSI Mintje Kasim belum berhasil ditemui Gorontalo Post.
Saat disambangi kediamannya, pintu pagar depan rumah dalam keadaan terkunci. Meski Gorontalo Post berupaya menyampaikan salam, tak terdengar ada jawaban di balik pintu pagar depan rumah. Sementara itu Walikota Gorontalo Marten Taha menegaskan, Pemkot Gorontalo tidak memiliki kewenangan untuk menentukan nasib RSI.
Pemkot hanya melakukan mediasi. “Keputusannya dikembalikan ke Yayasan untuk dibicarakan di internal mereka antara Dewan Pembina, Dewan Pengawas, dan Pengurus Yayasan. Sehingga ini (keputusan) bisa dijalankan sesuai dengan mekanisme dan anggaran dasar,†kata Marten Taha.
“Itukan kami usulkan dalam forum dan semuanya menyetujui, kecuali pihak yayasan, pembina yayasan dan pengawas yayasan juga setuju. Jadi terserah internal mereka, tinggal tiga lembaga ini yang akan berembuk,” sambung Marten Taha.
Sesuai Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) RSI Gorontalo, pergantian yayasan ditentukan bersama Dewan Pengawas, Dewan Pembina dan Dewan Pengurus. Kalaupun dewan pengurus menolak, Dewan Pembina dan Dewan Pengawas harusnya bisa mengambil tindakan.
“Kalau ini tidak jalan, para komite medik tidak akan menjalankan fungsinya, tidak akan ada yang memasukkan pasien. Ini yang saya khawatirkan berlarut-larut ini, pelayanan akan tetap fakum,” tambah Marten.
Dirinya berharap, pihak yayasan bisa mengambil keputusan yang terbaik dengan memikirkan semua pihak. Sebab jika dibiarkan terus menerus, bisa jadi menimbulkan masalah yang baru. Â “Kita sudah maksimal mencoba mencari solusinya, nama-nama kita sudah usulkan, mekanisme kerja kita sudah usulkan, program kerja kita sudah sodorkan, pendampingan juga kita sudah lakukan. Tapi yaa terserah yayasan,” terang Walikota Marten Taha.
Karena itu Marhten Taha berharap pembina dan pengawas untuk segera bertindak melakukan penyelamatan. “Jika sepakat dengan keputusan kemarin, segera buat akta ke notaris dan langsung melakukan penggantian pengurus,” tutup Marten Taha.(tr-49/tr-51/wan/tr-45/nat/hargo)
