Problem paling mendasar yang dirasakan pembalap baru biasanya adalah sakit pada leher. Akibat menahan efek gravitasi (G-Force) selama hampir dua jam. Menurut Rio, lehernya juga ternyata tidak terlalu bermasalah.
”Capek sih iya. Tapi gak berlebihan gitu. Padahal, balapan ini panjangnya dua kali lipat dari GP2,” papar Rio, yang tahun lalu memenangi tiga lomba di ajang GP2 (ajang tertinggi di bawah F1).
Rio yakin ini adalah buah latihan fisik dan asupan nutrisi yang selama ini diterapkan para pelatihnya. Juga, strategi minum di tengah balapan yang membuatnya terhindar dari dehidrasi.
”Saya hanya turun satu kilogram setelah balapan. Padahal biasanya lebih. Pernah sampai dua kilo. Mungkin karena saya banyak-banyak minum pas balapan,” jelasnya, lantas tertawa.
Dari GP Bahrain, Rio mengaku juga mendapatkan satu pelajaran penting. Yaitu, strategi pemilihan ban. Rio yakin bisa meraih hasil lebih baik seandainya menerapkan strategi yang sama dengan rekan setimnya, Pascal Wehrlein, yang finis di urutan ke-13.
Dalam lomba tersebut, Rio dan Wehrlein (dan hampir seluruh pembalap lain) menerapkan strategi tiga kali pit stop, membagi lomba dalam empat bagian.Â
