Sawo Tegalsari

×

Sawo Tegalsari

Share this article

Oleh : Dahlan Iskan

“Pendeta Reno, Met Natal ya…, Tuhan memberkati.”

Itu saya kirim ke pendeta Kristen yang sudah lama saya kenal: Reno de Topeng.

Tepat di Hari Natal minggu lalu.

Ucapan seperti itu selalu saya tulis sendiri. Meski hanya beberapa kata. Saya tidak pernah mengucapkan Natal lewat copy-an. Demikian juga ucapan selamat Idul Fitri. Pun bila sampai ratusan jumlahnya.

Pendeta Reno membalas dengan ucapan terima kasih. Disertai foto bersama. Saya pikir itu foto keluarga. Setelah saya perhatikan ternyata foto bersama Anies Baswedan.

“Foto di mana itu?” tanya saya.

“Saya lagi berupaya mengabadikan joglo kuno Tegalsari. Ternyata ada di sini,” jawabnya.

Reno memang penggemar benda budaya. Koleksi topengnya sangat kaya. Termasuk topeng kuno peninggalan 1.000 tahun sebelum Masehi.

Reno punya lebih 1.500 topeng. Yang paling muda berumur 60 tahun.

Setelah itu Reno mengirim puluhan WA susulan. Juga puluhan foto yang terkait dengan joglo di rumah Anies –yang berumur hampir 500 tahun itu.

Tentu saja saya pernah ke Tegalsari, di selatan Ponorogo. Keluarga saya selalu bercerita tentang Tegalsari  –terutama tentang kehebatan Kiai Kasan Besari.

Di Jawa, kata Arab ”Hasan” –yang harus diucapkan sebagai huruf ”hak” yang berat– menjadi Kasan yang bisa diucapkan dengan ringan. Buyut saya, yang secara Arab harusnya dipanggil Hasan Ulama (sungguh sulit mengucapkan `u itu bagi lidah Jawa), menjadi Kasan Ngulomo. Belakangan baru ditulis Hasan Ulama.

“Saya akan membuat film dokumenter tentang joglo itu,” ujar pendeta Reno.

Ia bertemu Anies sebagai bagian dari risetnya.

Joglo itu memang sudah NYARIS jadi meja atau kursi –harus ditulis dengan huruf besar.

Rumah joglo itu sudah dibongkar –karena sudah mau roboh. Sudah lebih 30 tahun tidak dihuni. Setelah dibongkar, kayu-kayunya ditumpuk: lama jadi tumpukan kayu yang nyaris dilupakan. Semua kayu jati tua.

Keturunan Kasan Besari di Tegalsari menunggu saja: siapa tahu ada yang membeli –tanpa dipasar-pasarkan.

Pikiran pemiliknya: siapa tahu masih bisa dipotong-potong. Lalu bisa dijadikan bahan untuk meja atau kursi.

Tentu bagian-bagian tertentu dari kayu itu sudah keropos. Atau hilang.

Akhirnya datanglah orang bernama Danang. Anak muda dari Yogyakarta. Ia pemerhati joglo-joglo tua. Ia beli onggokan kayu itu.

Itu tahun 2009.

Danang pun memeriksa kayu-kayu itu. Matanya nanar ketika melihat ada kayu yang sangat panjang: 11 meter. Ia periksa: apakah itu kayu utuh atau panjang karena disambung. Tidak. Kayu itu utuh, tanpa sambungan.

Kesimpulan sementara Danang: pohon yang ditebang dulu pastilah pohon yang sudah tua.

Kecurigaan lain muncul: apakah ada banyak lubang di lonjoran kayu panjang itu. Danang meneliti lebih cermat: benar. Banyak sekali lubangnya. Lubang buatan manusia.

Danang masih penasaran: ada berapa lonjor kayu panjang seperti itu. “Harusnya ada empat,” katanya dalam hati. Kalau jumlah itu benar, cocok sekali dengan ilmu yang ia pelajari selama ini: ada joglo biasa, ada joglo khusus, ada juga joglo yang sangat istimewa.

Kalau kayu panjang berlubang banyak itu ada empat, berarti ini bekas rumah joglo yang istimewa.

Maka mulailah tumpukan kayu itu diperiksa: benar, ada empat. Empat lonjor kayu itu disisihkan untuk diperiksa lebih mendalam.

“Inilah kayu yang fungsinya untuk blandar gantung,” ujar Danang. Lubang-lubang tadi sengaja dibuat untuk mengaitkan kayu ini dengan bagian-bagian lain konstruksi joglo.

Periksalah rumah Anda. Pun yang bukan joglo. Blandar, pada umumnya, harus ditopang oleh tiang. Pun seandainya blandar itu terbuat dari cor beton –seperti blandar zaman sekarang.

Blandar itu harus kuat. Blandar berfungsi sebagai penyangga apa pun di atasnya: usuk, reng dan –terutama genteng, jemuran baju, dan mungkin juga solar cell.

Bayangkan istemewanya joglo Tegalsari ini: blandarnya yang begitu panjang tidak ditopang oleh tiang satu pun. Padahal ada empat blandar yang membentuk segi empat.

“Ini pasti joglo yang ada kaitannya dengan raja Solo,” ujar Danang dalam hati. Ini bukan joglo biasa.

Ia pun semakin seru melakukan penelitian: apa hubungan Tegalsari yang begitu pelosok di Ponorogo dengan raja Solo.

Misteri besar.

Misteri panjang. Pun sampai seorang Gus Dur –keturunan Kasan Besari– menyimpulkan Tegalsari adalah cikal bakal lahirnya istilah pondok, mondok, yang kini jadi pondok pesantren.

Gus Dur sering ke Tegalsari. Tentu. Pun selama menjabat presiden keempat Indonesia.

Pangeran Diponegoro lulusan Tegalsari.

Sastrawan besar pujangga Ronggowarsito alumnus Tegalsari.

Kiai Kasan Besari adalah guru besar mereka.

Aneh. Beliau bukan wali. Tidak pernah mendapat gelar wali. Tapi barangkali beliau adalah walinya para wali.

Atau bukan.

Beda konsep.

Semua wali ada di pesisir pantai.

Kasan Besari di pedalaman. Dari ”hasan” menjadi ”kasan” saja sudah terlihat jelas: Kasan Besari lebih Jawa. Bukan Habib. Aliran tarekatnya pun sangat dekat dengan kejawen: Syatariyah. Beliau adalah mursyid –dianggap sebagai wasilah nabi– di tarekat itu.

Kasan Besari hidup di tahun 1700-an. Yakni pada masa kerajaan Solo diperintah oleh Pakubuwono II.

Terjadilah pemberontakan di Keraton Solo. Pakubuwono II digulingkan dari takhta. Sang raja menyingkir ke Ponorogo. Untuk minta perlindungan ke kiai terkemuka di Tegalsari. Nama Kasan Besari telah besar –populer sangat sakti, pun sampai di telinga Solo. Kasan Besari menampung dan melindungi sang raja.

Anda pun kini bisa menghubungkan sendiri mengapa ada joglo khusus nun di Tegalsari.

Tapi tidak sesederhana itu. Lebih dari itu. Selama di Tegalsari itulah Pakubuwono menyusun kekuatan. Untuk kembali merebut kekuasaan di Solo. Berhasil. Pakubuwono kembali berkuasa di Solo.

Para pengikut Kasan Besari-lah yang membantu Pakubuwono.

Sang raja tahu balas budi. Pakubuwono menganugerahkan jabatan bupati ke kiai Kasan Besari: ditolak.

Masih ada dua kehormatan lagi yang diberikan ke Kiai Kasan Besari. Dua-duanya diterima.

Pertama, Pakubuwono II memberikan tanah perdikan di Tegalsari. Melebihi hak milik. Tidak perlu membayar pajak.

Kedua, putri Pakubuwono II, diserahkan ke kiai untuk dijadikan istri.

Joglo itu adalah hadiah perkawinan putrinya tersebut.

Setelah itu banyak perubahan terjadi.

Setelah Pakubuwono pulang dari Tegalsari, Keraton Solo tidak lagi mengundang guru. Kebiasaan lama dihapus. Selama itu para pangeran dan putri dididik di dalam keraton. Yakni di keputran (bagi laki-laki) dan di keputren (bagi yang wanita). Guru, ustad, dan pendekar didatangkan ke keraton untuk mengajar.

Sejak berkuasa kembali itu, Pakubuwono II memilih mengirim para pangeran ke Tegalsari. Belajar di sana. Tinggal di sana. Termasuk pelajaran bela diri –seperti pencak silat.

Mereka mondok –tidak pulang pergi.

Maka praktik belajar di Tegalsari pun ikut berubah.

Selama itu yang belajar di sana hanyalah anak-anak dari kampung setempat. Selesai pelajaran mereka pulang ke rumah masing-masing. Tidak perlu mondok.

Sejak para pangeran Solo mondok di Tegalsari, mulailah ada pondok. Tempat mondok. Kian terkenal. Tidak lagi hanya pangeran dari Solo, tapi juga dari Yogya. Bahkan juga anak-anak bangsawan lain dari luar keraton.

Gus Miftah –kiai muda yang bulan lalu mengajak Nikita Mirzani ke pondok Bina Insan Mulia Cirebon– adalah keturunan langsung Kasan Besari Tegalsari.

Mengapa di akhir perang Diponegoro banyak pengikut utamanya melarikan diri ke sekitar Ponorogo? Tentu terkait dengan Tegalsari. Mereka sudah mengenal ada pondok hebat yang akan melindungi mereka.

Apalagi Pangeran Diponegoro alumni Tegalsari. Sang pangeran dan pengikutnya, umumnya satu aliran: tarekat yang diajarkan Kasan Besari.

Pertanyaan yang belum terjawab adalah: apakah joglo Tegalsari itu rumah yang baru dibangun. Atau rumah lama di Solo yang dibongkar, dipindah ke Tegalsari.

Yang jelas, tidak ada joglo di mana pun yang konstruksinya menggunakan blandar gantung. Kecuali dari dan atas seizin Keraton Surakarta.

“Pak Dahlan harus ke rumah Pak Anies. Harus lihat sendiri. Itu jenis joglo seperti apa,” ujar Reno de Topeng yang tinggal di Surabaya.

Saya mengenal Reno bukan saja sebagai aktivis gereja, juga sebagai salah satu pemuka masyarakat Tionghoa di Surabaya. Saya tidak pernah tahu nama aslinya. Tapi untuk kepentingan tulisan ini saya harus bertanya.

“Pak Reno bermarga apa?”

“Marga saya Halsamer,” jawabnya.

“Mana ada marga Tionghoa Halsamer…” tukas saya.

“Saya ini Jawa Belanda,” jawabnya. “Kakek saya Belanda, nenek saya Jawa,” tambahnya.

“Kok selama ini saya mengenal Anda sebagai Tionghoa?”

“Saya ada juga keturunan Tionghoa. Ayah saya Tionghoa asli Tiongkok. Tidak mau jadi WNI. Tetap memilih sebagai WNA. Sehingga saya ikut marga ibu,” kata Reno Halsamer.

Untuk menelusuri joglo Tegalsari itulah Reno harus bertemu Anies Baswedan. Harus ke rumah Anies di Jakarta. Joglo itu telah menjadi rumah Anies. Sejak tahun 2012.

Pekan lalu Reno ke Jakarta. Bersama keluarga dari Tegalsari. Ia mengambil foto, video, dan membaca dokumen-dokumen joglo itu.

“Waktu kecil saya tidur di joglo ini,” ujar anggota rombongan Reno dari Tegalsari.

Reno juga ngobrol panjang dengan Anies Baswedan. Berfoto bersama –sebagian dikirim ke saya.

“Pak Dahlan harus ke sana,” tulisnya di WA.

“Punya alamatnya?” tanya saya.

“Nanti saya carikan. Rumahnya masuk gang sempit. Hanya cukup untuk satu mobil,” katanya. “Kalau ada mobil dari arah lawan, salah satu harus kembali mundur,” tambahnya. “Ini kok gubernur rumahnya di dalam gang sempit,” ujar pendeta itu.

Saya pun diam-diam ingin ke joglo itu. Tapi tidak bisa siang hari. Hari itu saya banyak rapat. Sejak jam 6 pagi. Siangnya ada rapat CIMA. Saya baru saja diminta jadi chairman asosiasi management China Indonesia. Yakni untuk menggantikan Arief Harsono, yang Anda sudah tahu: pemilik PT Samator –produsen oksigen terbesar di Indonesia. Arief meninggal karena kekurangan oksigen enam bulan lalu. Akibat Covid-19. Sorenya saya masih ada janji bertemu KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Jam 17.00-an baru bisa merdeka.

Untuk bertemu Jenderal Dudung, saya harus datang agak awal. Baru sekali ini saya ke Mabes Angkatan Darat. Kalau ke Mabes TNI-AU dan TNI-AL pernah –secara tidak langsung. Yakni ketika saya beberapa kali ke Mabes TNI di Cilangkap. Hanya Mabes TNI-AD yang tidak di Cilangkap.

Saya suka dengan penataan ruang KSAD ini. Termasuk penempatan empat bintang besar menggantung di antara meja tamu dengan meja kerja. Saya juga terkesan dengan penataan bendera-bendera pataka di sepanjang koridor menuju ruang kerja KSAD.

Di situ saya berpapasan dengan seorang habib yang saya kenal. Kami sama-sama kaget. Tidak menyangka bertemu di situ –ia yang tidak menyangka. Saya sudah tahu beliau: habib itu dekat sekali dengan Jenderal Dudung. Sangat dekat. Namanya: Habib Husin Baagil –keponakan Habib Jamal Baagil dari pesantren di Batu, Malang.

Kami pun saling pandang. Lama. Kok ketemu di situ –setelah lama tidak berjumpa.

“Bib, di mana ya kita ketemu terakhir?” tanya saya.

Ia berpikir agak lama.

“Di Surabaya. Di acara besar Maulid Nabi. Di Surabaya Bersholawat. Yang dihadiri Habib Riziq,” jawabnya.

Itu tahun 2014.

Keluar dari Mabes TNI-AD, saya baru berani menghubungi Anies Baswedan. Sudah pasti bisa ke sana. Acara-acara terpenting hari itu sudah selesai.

Saya pun kirim WA. “Pak Gubernur, saya ingin melihat Joglo Tegalsari. Malam ini. Baru bisa berangkat dari Grand Hyatt setelah magrib,” tulis saya di WA. “Tidak harus ada Pak Gub. Yang penting ada tour guide yang bisa menjelaskan,” kata saya lagi.

Tentu saya harus memaklumi kesibukan seorang gubernur Jakarta. Yang harus bekerja sampai malam –pun begitu ketika saya menjadi sesuatu dulu.

Bagi saya, ke rumah Anies tanpa tuan rumah pun tidak masalah. Ini kan mendadak. Tanpa bikin janji pula. Dan lagi ini bukan urusan yang penting dan mendesak. Pokoknya saya akan ke joglo itu –ada atau tidak ada tuan rumahnya.

Saya pun harus tahu. Anda juga sudah tahu: pada jam habis magrib seperti itu lalu-lintas dari Jalan Thamrin ke Lebak Bulus sangat berat. Jakarta sudah kembali padat –pertanda pada umumnya orang tidak lagi takut Covid-19. Rendahnya angka Covid di Indonesia memang sangat mengagumkan. Nama pemerintah harum sekali di penanganan pandemi ini.

Lalu-lintas memang benar-benar padat. Maka benar:  jangan bikin janji dengan orang penting pada jam seperti itu. Saya tidak bikin janji. Saya hanya memberi tahu.

Pun sebelum ada jawaban dari Anies: saya berangkat menuju joglo itu. Lewat Wolter Mongisidi. Lalu depan RS Fatmawati. Lalu-lintas benar-benar berat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba layar HP menyala. “Jangan-jangan kita tiba di joglo pada waktu yang sama”. Anies Baswedan yang mengirim WA itu. “Saya juga dari arah Ancol,” tambahnya.

Oh, rupanya hari itu ia tidak pulang larut malam.

Sampai di Jalan Fatmawati hari sudah benar-benar gelap. Saya baru sekali ini lewat depan RSUP Fatmawati di malam hari. Ampuuuuun. Dari luar, rumah sakit milik Kemenkes itu seperti berduka: sangat tidak cukup cahaya. Entah karena lampunya yang sangat minim atau memang lagi diadakan penghematan.

Sampai di ujung Jalan Fatmawati, Google masih minta saya terus ke arah sana. Lalu ada gang sempit. Kami harus belok kanan memasuki gang itu.

“Oh… Inilah gang sempit yang dimaksud Pendeta Reno de Topeng,” kata saya dalam hati. Ternyata tidak terlalu sempit. Mobil masih bisa berpapasan –asal yang satu mengalah, melambat.

Tapi gang ini kok panjang sekali. Berkelok-kelok pula. Bukankah Reno mengatakan gang sempit itu hanya sekitar 200 meter?

Ternyata ini memang bukan gang yang dimaksud. Masih akan ada gang yang lebih sempit lagi: Lebak Bulus II Dalam.

Saya pun sampai di mulut gang itu: hahaha…benar. Sempit sekali. Benar-benar pas untuk satu mobil. Pun dengan sepeda motor, tidak bisa berpapasan.

Anies membeli lokasi ini tahun 2009. Berarti hampir bersamaan dengan teman satu bangkunya membeli tumpukan kayu di Tegalsari.

Rumah Anies itu mulai dibangun tahun 2012.

Selesai 2014.

Sebelum pindah ke gang ini Anies tinggal di rumah kontrakan. Bertahun-tahun. Sejak pulang dari sekolah di Amerika –delapan tahun di Maryland dan Chicago.

Ia masih ingat betul: hari itu adalah Jumat Agung. Hari besar Kristen. Libur. Karena itu ia bisa salat Jumat di dekat rumah kontrakan –biasanya salat Jumat selalu di dekat kantornya di Jakarta Pusat.

Selesai salat Jumat, Anies ngobrol dulu di teras masjid. Secara iseng ia bertanya: apakah di dekat sini ada tanah kosong dijual. Ia tahu diri: hanya mampu membeli tanah di daerah kampung seperti itu. Ia memang sudah bergelar doktor dan sudah menjadi rektor. Tapi itu di Universitas Paramadina –yang tidak punya misi bisnis yang didirikan cendekiawan muslim liberal Prof Dr Nurcholish Madjid.

Anies masih ingat nama orang yang diajaknya ngobrol itu, tapi saya lupa mencatatnya. “Ada. Tidak jauh dari masjid ini,” kata orang itu –belakangan Anies tahu profesi orang itu memang jual beli tanah.

Anies ingin langsung melihatnya.

“Jangan sekarang. Panas sekali. Nanti malam saja,” jawab orang itu –belakangan Anies tahu itu hanyalah bagian dari trik jual tanah: untuk menutupi kekurangan yang bisa terlihat di siang hari.

Malamnya Anies datang lagi. Memang mengesankan –untuk orang yang punya tabungan pas-pasan. Lokasi ini memang di pinggir gang sempit, tapi luas. Pun dari situ bisa melihat dataran yang lebih rendah di arah sungai Grogol. Meski agak jauh, sungai itu masih terlihat –”di sana itu” kata si penjual tanah di kegelapan. Itulah sungai yang sebelum mencapai laut melewati daerah Grogol di Jakarta Barat.

Siangnya Anies datang lagi tanpa diantar. Ia mengajak istrinya. Kaget. Tanah itu miring drastis. Pinggir gang itu langsung curam. Tapi harganya juga sangat miring. Harga curam. Drastis pula. Rupanya ini adalah tanah yang dihindari banyak pembeli.

Daya tariknya: luasnya 1.800 meter. Harganya hanya sama dengan tanah 250 m2 di perumahan Bona, tempatnya mengontrak.

Sambil memandangi tanah itu Anies ingat Danang, teman satu bangkunya di SMA di Yogya dulu. Saya sendiri ingat rumah Rocky Gerung (Disway 9/10/2021: Pendaki Gerung).

Luas tanah itu, dan suasana kampung itu, bisa cocok dengan jiwa Anies. Cocok pula dengan misi hidupnya: bermasyarakat. Soal miring bisa diatasi oleh teman-temannya. Ia banyak punya teman arsitek di Yogya: teman sebangku itu.

Tapi bagaimana dengan gang yang begitu sempit?

Ada jalan keluar –jalannya orang kepepet.

Itu gang buntu.

Anies pun menghitung: ada berapa rumah yang memiliki mobil di gang itu. Tiga orang. Empat kalau ditambah dirinya nanti. Berarti kemungkinan berpapasan sangat kecil. Sesekali tidak apa.

Jadilah.

Biarlah di kampung. Di gang sempit. Itulah kemampuannya saat itu. Yang penting bisa punya tanah di Jakarta untuk kali pertama.

Kakek Anies sebenarnya orang kaya raya. Tuan tanah pula. Kakeknya itu, ketika di Surabaya, disebut raja tanah. Puluhan hektare tanahnya berserakan di pusat kota Surabaya. Sebelum pindah-pindah karena ikut perjuangan merebut kemerdekaan, tanah-tanah itu dibagikan ke lembaga-lembaga sosial. Termasuk tanah luas yang kini menjadi kampus C Universitas Airlangga.

Yang terakhir, justru rumah tinggalnya sendiri yang disumbangkan. Yang di Jalan KH Mas Mansyur, Surabaya. Yang besar dan megah. Ada dua kubah kaca gaya art deco di atasnya: diserahkan untuk dijadikan rumah sakit. Itulah rumah sakit Al Irsyad sekarang.

Harta lainnya banyak dijual untuk membiayai perjuangan kemerdekaan.

Sang kakek lantas hidup berpindah-pindah. Mengikuti arah perjuangan kemerdekaan. Anak-anaknya lahir di banyak tempat –sesuai dengan perjalanan perjuangan.

Ayah Anies, Rasyid Baswedan lahir di Kudus. Saat itu sang kakek lagi jadi redaktur di koran Tionghoa, Sin Tit Po, Semarang.

Sampai pun ketika sang kakek ikut Bung Karno pindah ke Yogya, tidak punya lagi rumah. Sang kakek, A.R. Baswedan, diangkat Bung Karno menjadi salah satu menterinya.

Sebagai menteri, A.R. Baswedan tinggal di rumah pondokan yang diberikan oleh Haji Bilal. Satu rumah untuk beberapa menteri.

Ayah Anies tinggal di rumah kakek pemberian Haji Bilal itu.

Sang ayah kemudian jadi dosen ekonomi di UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta. Dosen UII itu lantas mengawini dosen IKIP Yogyakarta: Aliyah. Asli Sunda. Dari Kuningan. Di kaki Gunung Ceremai.

Ketika hamil, Aliyah diminta pulang ke Kuningan. Ibunyi menghendaki anak wanitanyi itu melahirkan pertama harus di Kuningan. Begitu adat keluarganyi. Anies Baswedan lahir di Kuningan. Di tangan bidan desa. Berarti Anies itu suku campuran: Arab, Jawa, Sunda.

Umur satu bulan Anies dibawa balik ke Yogya. Tumbuh di Yogya. TK di Yogya. SD, SMP, SMA dan kuliah di Yogya. Jadilah Anies orang Yogya. Teman-teman aktivisnya pun orang Yogya.

Tamat SMA, Anies ke Amerika. Ke Milwaukee. Ikut pertukaran pelajar. Pulang dari Amerika barulah masuk Universitas Gadjah Mada, di fakultas Ekonomi. Teman satu bangkunya di SMA masuk ke fakultas peternakan.

Setelah lulus keduanya mengambil jalan yang berbeda: Anies jadi guru. Temannya, si sarjana peternakan, jadi ahli bangunan.

Tapi baik yang guru maupun yang ahli bangunan sama-sama tetap menaruh minat di kebudayaan. Dua-duanya lebih dikenal sebagai intelektual-budayawan. Bahkan temannya itu menjadi sangat spesialis: budaya Jawa. Termasuk sampai ke soal rumah joglonya.

Itulah Danang, si pembeli onggokan kayu bekas rumah joglo di Tegalsari.

Danang masih sedarah dengan pelukis terkemuka Basuki Abdullah.

Kapan-kapan saya harus ke Yogya. Bertemu Danang. Agar tidak hanya Pendeta Reno yang dapat cerita langsung darinya.

Begitu bisa membeli tanah di gang sempit itu Anies menghubungi Danang. Ia menceritakan soal tanah miring itu. Anies bertanya: apakah bisa dicarikan rumah joglo.

Jawaban Danang mengejutkan Anies. “Sudah saya sediakan,” ujar Danang.

“Apa maksudnya?” tanya Anies.

“Sudah ada. Tenang saja,” jawabnya.

Danang memang tidak pernah bercerita bahwa ia pernah membeli kayu joglo satu unit. Itu sudah empat tahun lalu. Danang memindahkan tumpukan kayu di Tegalsari itu ke Yogya. Ia pilih-pilih. Ia pilah-pilah. Berdasar fungsi masing-masing kayu.

Setelah itu, Danang mencoba merangkai kembali joglo itu. Di tanahnya di Yogya. Sampai bisa berdiri sebagai joglo utuh.

Setelah dibawa ke Yogya, Danang tidak pernah punya rencana akan diapakan joglo itu. Yang jelas, sejak tahu riwayat di balik joglo itu ia tidak akan menjadikannya sebagai mebel.

Maka begitu dihubungi Anies, ia berpikir: joglo Tegalsari itu akan dipindah ke Jakarta. Jadi rumahnya Anies.

Danang pun ke Jakarta. Melihat tanah itu. Bersama teman arsitek Yogya. Mereka pun sepakat: akan digali tiga kolam di lahan itu. Tanah galian kolam itu akan dipakai mengurug bagian miring terdekat dengan gang.

Tiga kolam itu:

1. Kolam ikan hias di cerukan dekat gang.

2. Kolam pemisah antar ruang keluarga dengan halaman.

3. Kolam khusus: yang dalamnya sampai 4 meter, panjang 6 meter, dan lebar 3 meter. Inilah kolam resapan.

Ukuran kolam khusus itu disesuaikan dengan hitungan: atap rumah itu akan membuang berapa kubik air hujan. Harus tertampung 100 persen di kolam itu. Atap rumah tidak boleh menyumbangkan banjir sedikit pun. Betapa pun di belakang sana ada sungai Grogol.

Itulah konsep rumah modern yang ramah lingkungan. Kalau semua rumah bisa menampung sendiri air hujan dari atap mereka, maka tidak akan ada banjir. Itulah sistem perkotaan baru yang Anies ikut pelajari selama di Amerika.

Lalu diputuskan pula soal penampakan joglo itu nanti.

Saya sudah melihat beberapa rumah joglo desa yang dipindah ke kota. Kesan saya: banyak yang wagu –kurang pas. Rumah joglo itu, yang di desa kelihatan berwibawa, menjadi terlihat ndeprok setelah di kota. Ndeprok adalah gambaran seperti posisi orang yang duduk lemas di lantai –sementara yang lain duduk gagah di kursi yang lebih tinggi.

Teman Anies kelihatannya juga tahu kelemahan itu. Maka mereka memutuskan: tidak akan menaruh joglo itu landed –di atas tanah yang rendah.

Joglo Tegalsari itu akan didirikan di atas. Mereka merencanakan: rumah tinggal Anies-lah yang harus di bawah –di basement. Joglo didirikan di atas rumah tinggal itu. Dengan demikian posisi joglo tidak akan lebih rendah dari gang sempit itu.

Dengan demikian, halaman depan rumah joglo itu pada dasarnya adalah atap dari rumah Anies yang ada di bawahnya. Di halaman itu diberi lubang besar berjeruji: dari atas halaman itu bisa melihat kolam ikan di bawah sana.

Lalu di mana mobil tuan rumah ditaruh? Disediakanlah jalan mobil di samping joglo. Jalan menurun. Menuju halaman belakang –yang sekaligus menjadi halaman depan rumah tinggal.

Joglonya di atas, menghadap ke gang sempit.

Rumah Anies di bawah, menghadap ke arah sungai Grogol. Atasnya menghadap ke barat. Bawahnya menghadap ke timur.

Saya datang langsung berhenti di dekat halaman joglo. Disediakan sedikit tanah di pinggir gang itu. Hanya cukup untuk meminggirkan satu mobil. Di situlah mobil saya parkir.

Saya pun melangkah ke halaman joglo. Melongok lewat lubang berteralis itu: ada kolam ikan di bawah sana.

Ada pula teras –bagian depan joglo. Dengan melewati teras, saya pun masuk joglo. Ada petugas yang menemani saya. Bisa menjelaskan banyak hal.

Perhatian saya tentu langsung ke apa yang diceritakan Pendeta Reno de Topeng: blandar gantung. Yakni blandar yang posisinya sekitar 1 meter di luar empat pilar utama joglo. Itulah yang membedakan joglo Tegalsari dengan joglo pada umumnya: blandar penyangga atap itu tidak bertumpu pada tiang satu pun.

Rumah kakek saya di Kebondalem, Tegalarum, Magaten, juga joglo. Kokoh. Dengan pohon sawo di sekitarnya. Tapi joglo kakek saya itu memang tidak ada blandar gantungnya.

Rumah tempat saya lahir hanya sepelemparan batu dari joglo itu. Saya selalu melewatinya saat berjalan menuju masjid. Kakek adalah kiai di masjid itu. Ayah saya menantu di situ. Hanya jadi imam pengganti.

Kalau bermain kami juga bermain di joglo itu. Atau di halamannya.

Setahun sekali, setiap Idul Fitri, seluruh keluarga besar berkumpul di joglo itu. Yakni setelah salat hari raya. Semua bersila melingkar di atas tikar. Yang laki-laki pakai sarung dan kopiah. Yang wanita pakai kain batik dan kebaya. Di kepala para wanita itu ada kerudung –yang umumnya dibiarkan jatuh di pundak. Belum ada budaya jilbab saat saya masih kecil.

Kakek dan nenek duduk di tempat paling sentral: di bawah talang yang memisahkan joglo dengan kamar tidur. Yang kecil-kecil, seperti saya, kebagian duduk di tikar nun jauh di dekat pintu keluar. Itu berarti saya harus berjalan sambil jongkok sangat jauh. Dilihat banyak orang: kalau cara saya ”laku dodok” salah bisa di-bully. Kami harus berjalan sambil dalam posisi ndodok –sedikit lebih tinggi dari duduk–menyeberangi hamparan tikar yang luas menuju tempat kakek-nenek duduk.

Tiba di depan kakek saya harus bersila. Lalu menangkupkan telapak tangan: menyembah kakek. Lalu mencium lutut kakek. Menyembah lagi –lalu beringsut ke depan nenek: menyembah, mencium lutut, menyembah, beringsut ke Pak De –yang duduk di sebelah nenek. Pun membuat gerakan yang sama. Beringsut lagi ke Pak De satunya. Dan satunya. Baru beringsut ke bapak saya, beringsut ke paman-paman. Ke sepupu yang lebih besar. Ke sekeliling joglo itu.

Anak sekarang bisa semaput kalau diikat dengan adat seperti itu.

Joglo menjadi seperti balai RW.

Pun joglo Tegalsari itu. Pun setelah dipindah ke Jakarta. Anies memfungsikannya sebagai arena publik.

Toh dengan desain atas-bawah –dan hadap yang beda arah– publik tidak mengganggu kegiatan keluarga di lantai bawah.

Maka halaman depan joglo itu dipakai Posyandu warga kampung Lebak Bulus II –tidak hanya dari LB2D. Terasnya untuk kongkow para remaja. Di dalam joglonya untuk pertemuan RT, pengajian, dan sangat sering untuk perkawinan warga sekitar.

Gratis.

Itulah ruang publik satu-satunya di kampung itu. Sejak joglo berdiri. Sejak jauh sebelum Anies menjabat gubernur. Pun sebelum lahan ini dibangun: sudah sering dipinjam untuk dipasangi tenda –untuk tempat perkawinan.

Setelah terbangun, Joglo ini manis.

Tidak ndeprok.

Ternyata memang ditinggikan sekitar 80 cm. Empat tiang utamanya bertumpu pada kolom beton setinggi 80 cm. Itu adalah bagian kolom yang dipakai fondasi joglo.

Maka bagian bawah seluruh dinding joglo ini juga bahan tambahan.

Tambahan dinding itu tidak terlihat. Tertutup oleh rak buku setinggi 80 cm. Di keempat sisinya.

“Semua buku yang ada di rak itu adalah buku milik kakek saya,” ujar Anies.

Anies akhirnya memang tiba di rumah itu. Rumahnya. Tugas tour guide pun ia ambil alih.

Saya tertarik pada foto lukisan Bung Karno dan Bung Hatta. Kelihatan rukun sekali.

Lalu juga tertarik pada lukisan pensil sosok Pangeran Diponegoro. Yang dilukis di tengah beberapa corak batik Yogyakarta. “Itu karya pelukis pensil terkenal dari Bandung,” ujar Anies.

Nama pelukis itu: Rosid. Anda pasti sudah tahu itu.

Lalu, ehm, ada lambang Garuda Pancasila. Ia memasang lambang Garuda itu setengahnya sebagai protes sosial. “Di kampung-kampung kita sering melihat lambang Garuda dipasang di rumah penduduk,” ujar Anies. “Coba lihat di rumah kelas menengah dan atas. Adakah yang masih memasang lambang Garuda?” lanjutnya.

Lambang itu ia sendiri yang mencari. Yang memilih. Buatan seorang perajin di Yogya.

Setelah cukup melihat pendopo, tentu, saya juga ingin melihat rumah kediaman Anies yang di bawah. “Boleh?” tanya saya.

Saya pun diajak menuruni tangga –di satu sisi pinggir joglo. Ujung bawah tangga itu jatuh di dekat kolam ikan yang tadi terlihat dari halaman joglo. Di dekat kolam itu giliran saya mendongak. Melihat dedaunan pohon di halaman joglo di atas sana.

Berada di basement ini tidak merasa di bawah tanah. Inilah basemen yang terhubung dengan halaman luas. Bahkan pandangan tidak terhalang apa pun –karena posisi rumah-rumah di sebelum sungai itu lebih rendah lagi. Mungkin ini memang tidak bisa disebut basement.

Ada ruang besar setengah terbuka di basement ini. Ada meja panjang dengan delapan kursi di sekelilingnya. Misalkan lagi makan di meja itu bisa melihat halaman luas di arah sungai.

Ada pula dua kamar tidur –kalau orang tua datang, tidur di situ. Atau kalau ada tamu keluarga dari Yogya.

Di ujung ruang besar ini ada koridor ke kanan. Menuju ruang keluarga. Kamar anak perempuan di seberang persis kamar tidur utama. Begitulah adat Jawa. Lalu ada tiga kamar untuk tiga anak laki-lakinya.

Ketika tiga anak itu masih kecil, tiga kamar itu masih berupa satu ruang tidur besar. Ketika yang satu sudah besar mulailah disekat. Yang besar di kamar tersendiri. Yang dua masih kecil jadi satu kamar. Ketika satunya lagi juga sudah mulai besar, ruang itu disekat lagi. Jadi tiga kamar tidur.

Dari empat anak itu yang dua lahir di Amerika.

Koridor ruang keluarga ini terhubung juga ke halaman luas. Itu halaman depan –kalau rumah basement ini dianggap menghadap ke arah sungai. Atau itu halaman belakang kalau posisi kita di joglo atas.

Meski tersambung, dari koridor ini tidak bisa melangkahkan kaki ke halaman. Kelihatannya menyatu, tapi terpisah. Dipisahkan oleh kolam ikan yang lebarnya hanya dua depa.

Saya harus sedikit memutar untuk bisa ke halaman. Saya pun berlama-lama di halaman. Sambil agak mendongak, menatap joglo. Indah sekali joglo itu. Di waktu malam.

“Kalau pagi banyak suara burung di sini,” ujar Anies.

Tentu. Saya lihat ada beberapa sangkar burung –digantung di pepohonan.

Di salah satu sudut halaman inilah garasi mobil Anies. Tidak terlihat. Tertutup pepohonan.

Ketika pamit saya tidak naik lagi lewat tangga. Saya pilih naik menelusuri jalan mobil yang agak menanjak. Lalu berhenti di lokasi biasanya Anies turun dari mobil –untuk masuk rumah dari samping.

Pintu masuk itu serbakayu. Kayu bekas. Kayu kuno. Yang coraknya dibiarkan telanjang. Yang lubang-lubang kayunya ditutup dengan kayu. Tidak dihaluskan, apalagi dicat. “Seluruh bahan bangunan rumah ini tidak ada yang buatan pabrik,” katanya. “Kecuali lubang kunci dan engsel,” tambahnya.

Pun lantainya. Terbuat dari semen yang dihaluskan dengan tangan –sangat halus, mengilap. Bukan keramik atau tegel tapi hampir tidak kalah halus dengan keramik. “Biayanya mungkin sama. Tidak lebih murah. Tapi komponen untuk tukang, lebih besar daripada harga semen dan campurannya,” katanya. “Kalau saja dipasangi keramik, komponen terbesarnya untuk membeli keramik dari pabrik,” tambahnya.

Tentu semen itu buatan pabrik. Maksudnya, bukan beli bahan jadi. Lemari dibuat. Meja dibuat. Dinding dibuat.

Saya pun kembali ke halaman joglo. Posisi saya sudah kembali di lantai atas. Tinggal satu lagi agenda saya: melihat pohon sawo kecik. Anies harus menanamnya di halaman joglo itu.

Harus?

Dulu, ketika masih di Tegalsari, joglo ini dijaga oleh pohon sawo kecik. Sekarang pun harus ada yang menjaganya. Hanya saja makna pohon kecik di Lebak Bulus ini sudah berbeda. Anies menanamnya sebagai pengingat. Sedang aslinya, pohon sawo kecik di Tegalsari itu sebagai penanda politik.

Beginilah kisahnya: –jangan-jangan Anda sendiri sudah tahu. Begitu Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda (1830), pengikutnya bercerai berai. Tapi hati mereka tetap satu: menunggu Diponegoro pulang. Lalu bertekad akan bersama-sama lagi bertempur melawan Belanda.

Sangkaan mereka, Diponegoro lagi dinaikkan haji. Begitulah yang dikatakan Belanda: Diponegoro dibawa ke Jakarta untuk seterusnya akan diberangkatkan ke Makkah. Mereka tidak tahu bahwa Diponegoro dibuang ke Tondano, dekat Manado –kecuali mereka yang menyertainya.

Di saat para pengikut tercerai-berai itulah mereka sepakat untuk memiliki penanda seperjuangan: menanam pohon sawo kecik di halaman rumah masing-masing.

Yang mengungsi ke Tegalsari pun menanam pohon itu di dekat joglo.

Sekarang ini masih ada tiga pohon sawo kecik di Tegalsari. Yang dua di dekat masjid. Yang satu di dekat rumah kiai.

Pohon sawo kecik di depan rumah kakek buyut saya, di Takeran, juga masih ada. Berumur lebih 140 tahun.(Dahlan Iskan)

Komentara Pilihan Dahlan Iskan di Artikel Berjudul Pikul Baru 

Azza Lutfi
Pagi ini sepertinya para pemburu sedang kelelahan setelah, mungkin, semalaman asik ngobrol ria sambil bakar2 menunggu pukul 00.00, apapun itu alram ping anda justru mengantarkan anda pada tahta singgasana ini diawal tahun yg baru, ini sejarah bagi anda, tercatat yg pertama di tahun ini, tersenyumlah…selamat, tunggu Otole mengesahkannya…

Hariyanto
Ha ha ha ha….. Saya sungguh sungguh sedih pak, tapi entah mengapa yang keluar justru tawa, tawa derita yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Maafkan saya pak, yang terpaksa tertawa sedih, tanpa saya tahu apa sesungguhnya penyebabnya.

Disway Reader
Kata Pak Luhut, sebelumnya tidak dikenali siapa pemilik tanah utk green industrial estate terbesar di dunia itu. Setelah di survey, diketahui disitu milik Pak Boy Thohir. Sungguh beruntung Pak Boy Thohir ini. Abah boleh tulis berita profil orang beruntung itu? Siapa dia?

Parikesit
— Ikut menghabiskan devisa negara —  Kata teman diskusi saya (insya Allah beliau cukup faham ekonomi makro) :   “Penguras devisa terbesar adalah adanya lubang besar defisit neraca perdagangan suatu negara.  Ketika nilai import terlalu besar jika dibandingkan  eksport”. Kita banyak meng-eksport bahan baku, yg mana bahan baku tersebut setelah jadi, kita import dengan value yg lebih besar. Correct Me If I’m Wrong.

Sea Lead
Question??? emange rika arep melu kuis “siapa berani” ya Ji,, wkwkkw. QUOTIENT ✓ kiye sing bener, Ji.

diwaluhi = dibohongi, finally..  ulun paham jua,, kada tabahirak maning,,

Disway 19082892
ar urang scandinavia… DIWALUHINYA…!!!!!!

yea aina
asal duit PMN juga dari APBN (tanpa atau dengan P). Sumber pendapatannya, kita semua tahu dari phajak dan pinjaman (yang bakal diwariskan). Lebih tragis bila awalnya proyek tersebut B to B tapi berakhir dengan PMN. Seperti cerita jalan tool yang dikerjakan BUMN karya dan berakhir dengan pinjaman sebesar gajah bengkak disengat lebah

Udin Salemo
PMN itu mungkin menurut mereka gak masuk APBN. Tapi masuk APBN-P. Jadi menurut mereka tetap gak bohong. Kan beda. Satu gak pakai P satunya lagi pakai P. Wkwkwkwk… wkwkwkwkwk…. wkwkwkwk….

munawir syadzali
Setiap tahun baru saya teringat salah satu wejangan Abah. Disalah satu tulisan, sy lupa judulnya. sdh 2 tahun sy terapkan. Hasilnya cespleng. Tidak buruk2 amat. Wejangan itu soal target hidup. Dlm konteks tahun baru, utk bahasa alay nya, revolusi tahun baru. Bagini, “Mending gag usah buat target kalo kita tidak yakin utk mencapainya, gag usah banyak target yg penting tercapai”. Buat 1 target, fokus utk mencapainya. Konsisten. Jangan mendua. Udah fokus saja. Sampai tercapai. Kalo belum tercapai gag usah pindah target. Udah fokus saja. Sampai tercapai. Kalau sudah tercapai, buat target lagi. Naikkan levelnya. Fokus. Sudah tercapai. Naikkan lagi. Gitu terus. Sampai kita menjadi besar. Dan yg terbesar. 2 tahun ini sy terapkan. Alhamdulillah. Puji Tuhan. Satu satu tercapai. Memang yg paling tidak mudah itu konsisten. Kontinyu. Istiqomah. Makanya, Al istiqomatu khoirun min Alfi Karomah. Konsisten itu lebih baik dr seribu keramat. Konsisten dlm hal kabaikan. Selamat Tahun Baru 2022 Abah Dis. Panjang Usia, Sehat Selalu, Bahagia Selamanya. Amien

Hafidz Syaikhu
Sedikit koreksi abah..Bupati bulungan bernama SYARWANI Bukan SYARKAWI..terimakasih

Aryo Mbediun
Optimis…  Oppsss tibak’e mung lamis.  Optimislah garuda akan baik2 saja, optimislah waskita akan oke2 saja, optimislah pertalite akan selalu ada, optimislah freeport akan menambah devisa, OPTIMISLAH. Tutug2no lek omong, kateg2no lek pidato lan entek2no lek nggedabrus.  CATAT BAIK2. Bila yang tidak boleh disebut namanya berbicara OPTIMIS, maka wahai rakyat bersiap2lah u pesimis.

Purnomo Inzaghi
Pertanyaan nya begini… Presiden Jokowi akan habis masa baktinya pada 2024, nah apa yg terjadi pada proyek-proyek besar tersebut setelah pak Jokowi lengser? Apakah tetap sesuai rencana atau berakhir jadi rongsokan seperti hambalang? Tergantung siapa yg akan berkuasa kelak.

Mbah Mars
JURNAL KOMENTAR DISWAY DESEMBER Desember ini adalah bulan rekor. Rekor komen terbanyak sebelumnya ada pada artikel Profesor Doktor (667 komen). Rekor ini disalip oleh “Tahun Komitmen” yang sampai saat ini mendapat komentar 797 serta melahirkan 40 komen terpilih. Komen terpilih sebanyak 40 komen juga merupakan rekor baru. Banyak yang sepakat bahwa “Tahun Komitmen” merupakan artikel terbaik di tahun 2021. Dua tulisan tentang Pak Dakelan tersebut ternyata lebih menarik dari tema-tema lain. Rekor jumlah komen terpilih juga terpecahkan. Di bulan ini ada 401 komen terpilih. Mengalahkan bulan Nopember dengan hanya 289 komentar terpilih. Rekor artikel terpendek juga ada di Desember ini. Yaitu “Ikut Hongkong”. Dalam artikel yang banyak “dinyinyiri” komentator ini Pak “Anda Sudah Tahu” mengutip ide yang datang dari Selawe Disway. Bahwa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dikhususkan saja untuk memberantas korupsi di kalangan penegak hukum. Menurut Abah, meski pendek artikel ini punya kontribusi besar bagi negara. Jika bisa pendek mengapa harus dipanjang-panjangkan. Toh, banyak yang panjang tetapi tidak berdaya. Desember juga diwarnai sengitnya persaingan perebutan tahta pertamax. Setelah Bang Fadil -sebagai pemegang rekor pertamax dalam kurun waktu “berabad-abad”- off dengan alasan waktu bertubrukan dengan sholat subuh, perebutan pertamax menjadi seru. Hidayat berhasil mendudukinya 14 kali. Amat: 9 kali. Fadil: 4 kali. Sutrisno: 1 kali. Yang istimewa, Amat pernah menduduki empat singgasana sekaligus: 1,2,3 dan 4. Selain, laporan-laporan yang menggembirakan dan gayeng di atas, ada satu laporan yang memprihatinkan kita. Di bulan ini muncul komen-komen berbau SARA dari Disway 051076. Ummi Hilal dengan komen-komen sampahnya juga masih eksis. Terakhir, inilah 10 besar kolektor komen terpilih Desember: 1. Amat: 19 komter 2. Aryo Mbediun: 14 3. Mbah Mars: 13 4. Mirza: 12 5. Pryadi dan Sadewa: 10 6. Komentator Spesialis, Robban, Johan: 9 7. Leong Putu: 8 8. Buzzer NKRI, Hariyanto, Jo Neka: 7 9. Aji Muhammad, Liam, Alexs Sujoko, Parikesit, Pedro, Sin: 6 10. Anak Alay, Donwori, Udin Salemo: 5 Untuk jurnal komen terpilih di tahun 2021 silahkan baca di laporan lain Mbah Mars. Nanti. Saya sarapan dulu.

REKAP KOMEN TERPILIH 2021 Komen terpilih di Disway baru muncul sejak Agustus 2021. Program komen terpilih ini terbukti efektif mendongkrak minat pembaca untuk memberikan komentarnya. Bahkan, banyak komentator dalam sehari memberikan komennya berkali-kali, baik komen serius maupun slengekan atau sekedar komen untuk menunjukkan eksistensinya. Naiknya jumlah komentar setelah adanya program Komentar Terpilih membenarkan teori bahwa manusia itu butuh aktualisasi diri dan cenderung ingin berprestasi. Teori reward juga klop dengan program ini. Program Komentar Terpilih juga menjadi ajang pembuktian, bahwa Pak Dakelan benar-benar membaca komen-komen yang ada. Sungguh sebuah penghargaan yg luar biasa untuk orang sekaliber beliau bagi para komentator Disway. Baiklah, Mbah Mars akan memaparkan data 12 orang kolektor komen terpilih di tahun 2021. Rekap data disajikan secara detail dari Agustus hingga Desember. Jangan terlalu serius menanggapinya. Mari kita bersenang-senang. Bukankah manusia itu homo ludens ? 1. Mbah Mars: 7+9+13+16+12: 57 2. Pryadi: 7+5+13+11+10: 46 3. Leong: 0+8+18+6+8: 40 4. Amat: 0+1+4+10+19: 34 5. Alay: 5+3+6+13+5: 32 6. Komentator Spesialis: 0+0+6+12+11: 27 7. Disway Reader: 6+9+4+5+3: 27 8. Mirza: 2+0+0+12+11: 25 9. Robban: 0+2+5+4+9: 20 10. Sadewa: 0+3+4+3+10: 20 11. Ahmad Zuhri: 0+1+8+7+3: 19 12. Aryo Mbediun: 0+0+1+4+14: 19 NB: Untuk akun Disway Reader bisa jadi tidak hanya satu orang. Komen terpilih hari ini akan masuk rekap di tahun 2022.

Bahrul Ulum
Tulisan ini terasa seperti pujian dan ejekan sekaligus. Pujian untuk yang menjalankan misinya dan ejekan bagi yang tidak sependapat. Saya tidak dapat menjabarkannya.

Tuk imen
dua periode pasti tidak cukup, uud harus disesuaikan agar mimpi besar itu terwujud. syukur tidak perlu pemilu agar tdk menguras energi dan emosi.

Ibnu Setyaningrum
2020 artinya hanya diam di tempat 2021 artinya melangkah lebih maju 2022 artinya melompat lebih tinggi. Amin

Anak Mama
Aku ingin begini . Aku ingin begitu . Ingin ini , ingin itu banyak sekali . . Semua, semua, semua Dapat dikabulkan dapat dikabulkan dengan kantong ajaib Aku ingin terbang bebas di angkasa “Hey! Baling-baling Bambu!!” La,la,la Aku sayang sekali… Doaremon… La,la,la aku sayang sekali Doraemon… Mau apa? Solusinya gampang: kantong ajaib Doraemon

Open MINDED
saya hanya terpilih sekali tapi itu pencapaian terbesar saya selama tahun 2021. karena saya hanya anak muda pengangguran from home.

Juve Zhang
Dr.India : datang ke sini transplant hati, murah dan sukses! Dr. SG: datang kesini transplant hati, agak mahal tapi track record banyak sukses!. Dr. Tianjin: datang kemari transplant hati, terjangkau sukses ! Harapan hidup panjang contoh Bos Besar Disway. Diramal Dr.Sg paling tahan 5 tahun setelah transplant.nyatanya masih semangat hidup nya. Dr.Mayo Bali: datang kesini kami transplant kepala anda, yg sudah keriput bisa tukaran sama donor yg ABG, yg otaknya iQ 99 bisa tukar sama yg140, yg sudah loyo gak bisa bahagiakan istri bisa tukar sama donor ABG!. Dr.India,Dr SG,Dr Tianjin:. Saya akan ke Mayo  Bali ganti sparepart yg sudah loyo! Wkwkwkwkwk.

Petani Konyol
Coba dikaji lagi. Sebelum Pandemi, konon dalam sehari ada 5 direct flight dari Medan menuju Penang. Hampir semuanya membawa pasien atau keluarganya. Belum lagi yang melalui jalur laut. Ada kapal dari Tanjung Balai menuju Penang. Kesimpulannya, ada ribuan orang SETIAP HARI yang menyetor uang ke Penang. Belum lagi yang dari Riau dan Kepri, yang juga adalah tetangga dekat Malaysia dan Singapura. Mengapa Penang dan Singapura menjadi pilihan? Selain karena kualitas yankesnya lebih baik, JUGA KARENA ONGKOS PERJALANANNYA MURAH. Lebih murah daripada ke Bali. Jauh selisihnya. Kalau pasien ditemani 1 atau 3 orang keluarganya,selisih ongkosnya akan sangat besar. Bisa dipakai buat biaya berobat. Atau bayarin hotel. Karena itu pasien dari Aceh, Sumut, Riau, dan wilayah Sumatera lainnya, sepertinya tetap km setor uang ke Penang atau Singapura. Berat diongkos kalau ke Bali. Biarpun itu di negeri sendiri. Alangkah baiknya kalau RS internasional juga dibangun di Sumatera Utara. Bisa di Medan, atau sekalian di Danau Toba. Apalagi Danau Toba sedang dipersiapkan untuk menjadi salah satu Bali Baru Indonesia.

Ma’roef M
Abah, berobat ke luar negeri agaknya bukan soal “ngoyak” kualitas saja tapi “tabiat” orang yang berduit, hampir semua kita begitu, kalo anggaran cekak, nrimo yang murah2, kalo duit tdk berseri, ya cari tempat agar bisa “buang” itu duit. Lha kalo saudara kita yg di sumatera pilih ke SG atau ke tempat upin ipin, mungkin karena efisiensi, bukan gengsi, dari pada terbang pakai Garuda ke Jkt dan biaya lain2 lebih mahal. Barang dan jasa juga berkelas kelas harganya termasuk Biaya satu RS dalam negeri (juga beda2), ada kamar kelas super vip s.d kelas 3, mengakomodir kemampuan bayar pemakainya. Buat sample saja ya Abah…, diagnosa BPH (benigna prostat hipertropi) biaya tindakan operasi di 1 RS beda2. Misal saja mbah Mars opname sehari di kelas Super Vip: 1. Tindakan operasi dokter 6.000.000 2. Tindakan anestesi: 2.000.000 3. Jasa asissten operasi: 1.500.000 4. Sewa kamar super vip: 1.500.000 5. Sewa kamar operasi dan Recovery room: 1.500.000 6. Visite dokter spesialis: 300.000 7. Obat2an: 8.000.000 8. Tindakan perawat dan staf medis lain : 1.000.000 9. Biaya administrasi: 300.000. Total: 22.100.000 Beli Leong Putu opname sehari di kelas 3: 1. Tindakan operasi dokter 2.000.000 2. Tindakan anestesi: 800.000 3. Jasa asissten operasi: 500.000 4. Sewa kamar kelas 3: 150.000 5. Sewa kamar operasi dan Recovery room: 800.000 6. Visite dokter spesialis: 80.000 7. Obat2an: 8.000.000 8. Tindakan perawat dan staf medis lain : 500.000 9. Biaya administrasi: 150.000. Total: 12.980.000 Selisih biaya Mbah Mars dan Beli Leong: 9.120.000, lumayan Abah…dan itu estiamsi RS di Jateng, kalo di Jakarta beda lagi, lebih mahal. Jadi seumpama mbah Mars dan Beli Leong one day care (opname) dgn sakit yg sama, di RS yang sama, tagihan dikasir beda jauh, padahal obat, dokter dan tindakannya sama persis. Meski di kelas 3 tidak mungkin dokter tindakan incisi prostatnya (tur prostat)Beli Leong disisakan sedikit sedangkan mbah Mars dibersihkan tuntas, soalnya sudah masuk ke wilayah etik dan sumpah profesi. Abah, soal kualitas dokter dan staf medis juga peralatan medis, sebenarnya kita juga sudah bagus kok, jadi kalo sekedar urusan kelenjar prostat yang membesar (BPH) tidak perlu ke Mayo Clinic di Amrik sana, RS di Nyamplungan, Pabean, Surabaya mah… beres. Lha soal gengsi (apa2 harus ke LN) dan banyaknya duit, itu mah urusan pribadi, kecuali negara bisa bikin aturan yg “memaksa” warganya untuk tidak sithik2 LN. Pas Abah sirosis hepatis sekitar th 2007, di Indonesia memang blm bisa tindakan transplantasi (5 th berikutnya RSCM baru merintis dgn para ahli dari China, Singapura serta Jepang dan sekarang Alhamdulillah sdh banyak yang operasi ganti hati di RSCM dan RS lain) jadi Abah bukan soal gengsi ya Bah ke LN, karena bener2 butuh dan punya duit.

Udin Salemo
Sesekali berobatlah ke rumah sakit yang dikelola tentara. Pelayanannya sedikit lebih baik. Saya operasi bahu yang patah di rumah sakit tentara di Bogor. Cukup memuaskan. Kalau saya operasi di RSUD  baik punya kota/kabupaten dan punya propinsi belum tentu sebaik yang saya dapatkan di rumkit tentara. Ini hanya pengalaman pribadi. Mungkin akan beda tiap orang menilainya.

Sadewa
setuju Pak Jo….yg bikin kami khawatir saat ini hampir tidak ada check and balance (semua partai besar ada di pemerintahan), yg kritis dilindes buzzer
Kata Ibu-ibu di komplek, (gas lpg 12 kg, cabe rawit, minyak goreng) semuanya naik, yg turun cuma sarung, apalagi kalau pas malem jumat.

Johan
Ide Bali itu sebenarnya ide yang brilian. Sementara pasien sedang rawat di ICU, keluarga bisa surfing di Uluwatu

Alexs sujoko sp
Hari ini juga bikin pecah rekor, rekor terlama baca Disway. ternyata, karena ada : 1. Komentar Pilihan DI terbanyak, saya baca lebih sesuai ekspetasi kemarin terutama tulisan Robban Batang.   2. Adanya Rekap Komentar Terpilih oleh Mbah Mars yang luar biasa   3. adanya Jurnal Komentar Desember 2021, sekali lagi dilakukan oleh Mbah Mars    4. Isi tulisan Abah hari ini yang menuliskan project besar pemerintah tahun 2022. Terutama di Kalimantan, adanya Project Ibu Kota Baru,, PLTA dan Green Industrial Park. Sisi lain juga perlu diperhatikan, jalan trans Kalimantan masih sempit dan kondisinya jelek. Jangan bandingkan dengan di Jawa yang sudah tersambung dengan tool.   5. Dan Rumah Sakit International di Bali yang akan dibangun, ini yang menggelitik : ada catatan bahwa banyak orang Sumatera lebih suka berobat ke SG atau Malaysia karena ongkos transportasinya yang lebih murah daripada ke Jakarta. Artinya alasan di Bali harusnya menarik warga luar negeri masuk ke Bali, bukan warga Pulau di Luar Bali berobat ke Bali. Matur suwun, salam.

Disway 17087206
berarti hutang nambah lagi wajib phajak sampai gemeteran ngumpet di kolong meja karena dikejar kejar.umkm badan dulu waktu mau kampanye jadi raja semut utk kedua kalinya umkm badan diturunin ke 0,5% namun mulai 2022 umkm badan harus bayar pajak 25% sang raja semut sudah tdk perduli lagi karena sudah tdk bisa maju lagi.Merdekaaaaaaa!

Masruroh Ruroh
Membaca koment panjenengan semua , hikmahnya banyak,sy anggap pelajaran dan pembelajaran,  Untuk  saat ini yg ibu2 harapkan stabilnya harga minyak dan telur, naiknya bikin sesak nafas ….

Aji Muhammad Yusuf
“GORENG DISWAY HARI INI, EDISI 01/1/2022”.  Pak Dahlan Iskan hari ini melaporkan ke pembaca Disway soal program pemerintah yang base data nya dari pemerintah, dan belum tentu mendapatkan persetujuan bersama dari sekitar 270 juta populasi. Ambisi besar ini saya apresiasi untuk meningkatkan nama “Indonesia” di mata International. Biar bagaimanapun tujuan Nya sudah benar. Supaya “Garuda” tidak jadi emprit lagi.  Tapi lagi-lagi di tunggangi dengan tujuan lain. Misal tujuan Nya untuk investasi. Mungkin dana dari SWF. Jadi pendapat saya pribadi ini masih program bancaan. Karena target Nya tidak jelas. Siapa yang akan di rawat. Apa cuma mau IPO?.

Liam
Orang Pontianak sakit serius ke kuching periksa. Ibu saya belasan tahun lalu operasi angkat rahim di Kuching ,habis 20-an jt