Selamat Datang Bunga Rendah Rasa Berdebar

×

Selamat Datang Bunga Rendah Rasa Berdebar

Share this article
Dahlan Iskan

Skenario 1: Bunga turun, ekonomi bergairah, produksi naik, infrastruktur beres, logistik efisien, dan seterusnya. Inflasi pun akan rendah. Bunga rendah pun bisa terus dipertahankan. Bahkan dibuat lebih rendah lagi. Itu skenario happy ending. Meski awalnya berdebar, akhirnya membuat penonton tersenyum. Bahagia.

Skenario 2: Bunga rendah, ekonomi bergairah. Tapi, produksi tidak naik. Infrastruktur tidak oke. Jalan macet, listrik mati-mati, pelabuhan ruwet, birokrasi lambat. Akibatnya, harga-harga naik. Inflasi tinggi.

Kalau skenario 2 ini yang terjadi, itulah skenario tragic ending. Dalam waktu dua tahun dunia perbankan sesak napas. Termehek-mehek. Tidak kuat lagi. Ekonomi runtuh secara mendasar.  Perbankan, yang semula dipaksa ibarat dokter yang harus menyembuhkan pasien, justru dia sendiri yang sakit.

Dunia perbankan sudah berhasil takluk. Ditaklukkan. Masa depan perbankan sepenuhnya menunggu kinerja ekonomi pemerintah.
Kalau pemerintah berhasil menjaga inflasi maksimum 3,5 persen, dunia perbankan selamat. Kalau sebaliknya, dunia perbankan wasalam.
Mampukah pemerintah menciptakan inflasi maksimum 3,5 persen? Bisakah pemerintah meningkatkan produksi di segala bidang? Lalu mengendalikan harga-harga? Dalam waktu yang panjang?

Seharusnya bisa. Terutama karena ini: harga minyak mentah dunia turun begitu rendahnya. Tapi, kenaikan harga-harga beras, daging, cabai, dan sejenisnya membuktikan hal yang sebaliknya.

Sungguh berat tugas pemerintah saat ini. Meningkatkan produksi bukanlah masalah sepele. Peningkatan produksi tidak sama dengan ”citra meningkatnya produksi”. Yang satu berada di dunia nyata. Yang satunya di dunia fatamorgana.