GORONTALO, Hargo.co.id – Aparat keamanan memastikan siap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi dalam penyelenggaraan pilkada serentak 2018. Telah disiapkan skenario penanganan terhadap berbagai kejadian yang bisa mengganggu stabilitas. Misalnya, ancaman teror bom, penyerangan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), hingga tindakan anarkis dalam aksi unjuk rasa.
Hal itu tergambar saat simulasi pengamanan pilkada di Gorontalo yang berlangsung di bundaran HI, Kota Gorontalo, kemarin (9/2). Simulasi diawali dari aksi ratusan masyarakat yang melakukan penyerbuan di kantor KPU Kota Gorontalo.
Massa merasa tidak puas dengan hasil putusan KPU di Pilwako yang menetapkan kemenangan salah satu pasangan calon. Situasi makin memanas karena Ketua KPU dan komisioner lainnya tak mau menerima massa aksi. Puluhan personil aparat keamanan yang sudah berjaga di kantor KPU tak mengizinkan massa untuk masuk. Tapi pengunjuk rasa tetap bersikeras untuk masuk. Bahkan jumlah massa terus bertambah.
Melihat kondisi itu, Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Yan Budi Jaya,SIK langsung menambah jumlah polisi. Jumlah personil yang didatangkan dari anggota Sabhara Polres Gorontalo Kota, personil dari Polda dan Brimob.
Akhirnya, bentrokan antara dua pihak tak terhindarkan. Massa melempari polisi. Ada juga yang membakar ban. Melihat tindakan massa yang makin anarkis, polisi akhirnya mengerahkan mobil water canon dan melepaskan gas air mata dan anjik pelacak untuk membubarkan massa. Saat itu juga massa terpencar. Tapi ada yang tetap bertahan di kantor KPU.
Untuk memukul mundur para demonstran, beberapa anggota polisi dengan senjata lengkap, mendatangi kantor KPU menggunakan sepeda motor. Beberapa kali anggota melepaskan tembakan ke atas. Akhirnya masa melarikan diri.
Usai membubarkan massa, tak lama berselang, polisi mendapat informasi ada paket yang berisi bom yang diletakkan di dekat kantor KPU. Polisi lalu menerjunkan tim penjinak bom. Setelah dijinakkan, sebagian barang bukti diberikan kepada satuan reskrim untuk diselidiki dan sebagiannya lagi langsung dimusnahkan. Begitulah rangkaian simulasi pengamanan pilkada yang dimulai pada pukul 08.00 wita pagi itu.
Kapolda Gorontalo, Brigjen Pol. Rachmad Fudail mengatakan, apapun situasi yang terjadi baik Pilkada Gorut maupun Pilwako, TNI dan Polri sudah siap menghadapinya. Oleh karena itu, pihaknya terus melakukan koordinasi, membangun kerjasama dengan seluruh elemen.
“Kami akan mengarahkan kekuatan personil sesuai dengan tahapan yang ada. Selain personil Polres Gorontalo Kota, kami akan turut membeck up, baik itu dari TNI, Polda, maupun rayonisasi Polres serta Polsek lainnya,” tegasnya.
Dandim 1304, Letkol Inf Dadang Ismail Marzuki menambahkan, pihaknya akan menerjunkan kekuatan kurang lebih 200 personil dalam rangka pengamanan. Personil ini nantinya bersifat melekat atau membeck up tugas dari anggota Polri.
“Jika ada perkembangan situasi yang sudah tidak kondusif, maka kami pun sudah siap dengan anggota cadangan yang terdiri dari anggota Brigif, Angkatan Laut maupun Sat Radar guna membantu pengamanan,”tandasnya. Sementara itu, pelaksanaan simulasi pengamanan Pilkada yang digelar di jantung Kota Gorontalo itu, mengganggu aktivitas warga. (kif/tr-59/hg)
