Hargo.co.id GORONTALO – Tak bisa dipungkiri, hingga saat ini, sistem ijon dalam jual beli hasil pertanian masih ada. Apalagi, memasuki masa panen cengkih, tak sedikit para tengkulak yang memanfaatkan momen ini untuk meraup keuntungan besar.
Ya, meski cengkih belum panen, namun para tengkulak sudah membayar total hasil panen dengan harga jauh lebih rendah. Padahal, dengan menunggu panen nanti, harga cengkih bisa lebih tinggi.
Deriyanto, petani cengkih di Gorontalo mengatakan, salah satu penyebab petani memilih untuk menjual potensi perkebunannya lebih dulu, disebabkan oleh kebutuhan mendadak yang tak bisa ditunda. “Misalnya kalau ada yang sakit atau anak kuliah, pasti jual hasil perkebunan lebih cepat meski belum masa panen,” ungkapnya.
Biasanya, menurut Deriyanto, harga cengkih petani dibayar oleh para tengkulak dengan harga Rp 40-50 ribu per kg saat buah cengkih masih mentah. “Kalau dihitung memang sangat murah, tetapi mau apa lagi, di tengkulak uang sudah ada, kalau kita pinjam ke bank atau koperasi, prosesnya panjang dan belum tentu cair,” jelasnya.
Ia mengaku, sering kali, karena sudah terbiasa bekerjasama dengan tengkulak, petani meski tak membutuhkan dana, terpaksa harus mengijonkan tanamannya karena tawaran dana cepat dari tengkulak. “Biasanya masih jauh sebelum panen, tengkulak sudah berikan uang, nanti hasil panen mereka yang ambil. Kita terima uang, tidak perlu repot repot untuk mengurus panen,” ungkapnya kepada Gorontalo Post, kemarin (12/8).
Sementara itu, Kepala Dinas Kumperindag Provinsi Gorontalo, Abdul Haris Hadju saat dikonfirmasi terkait sistem ijon yang masih menghantui para petani di Gorontalo mengatakan, dalam mengatasi persoalan ini, pemerintah sebenarnya telah meluncurkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Bunganya itu hanya 9 persen saat ini, jadi kalau butuh dana silahkan manfaatkan KUR ini, jangan lari ke tengkulak,” kata Haris baru baru ini.
Menurut Haris, kebiasaan petani yang meminjam di tengkulak menjadi peluang tengkulak untuk melancarkan aksinya. “Kalau kita manfaatkan fasilitas dari pemerintah, saya yakin petani akan menikmati hasil panennya. Yang terpenting petani harus sabar menunggu hingga panen nanti, kemudian menjual hasil panen sesuai dengan harga pasaran,” jelasnya.
Menurut Haris, sejauh ini, pemerintah telah memberikan perhatian serius untuk para petani di Gorontalo. Tak hanya bisa menikmati KUR, petani juga memperoleh bantuan bibit dan subsidi pupuk untuk menekan biaya tanam. “Ini beberapa program kita untuk meringankan beban para petani,” tutupnya.(dan/hargo)
