Kamis, 8 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Subhanallah! Warga Salat Berjamaah di Atas Banjir

Oleh Aslan , dalam Headline Kabar Nusantara , pada Senin, 29 Mei 2017 | 04:00 Tag: ,
  

Hargo.co.id KUKAR – Siklus 10 tahun. Setelah 2007, banjir di kawasan hulu dan hilir sejumlah daerah aliran sungai (DAS) di Kaltim kembali terulang tahun ini. Tak hanya karena intensitas hujan tinggi, imbas luapan sungai disebut menjadi faktor utama.

Kawasan banjir pun berpindah-pindah. Jika kawasan hulu surut, air diprediksi menggenangi kawasan permukiman di hilir sungai untuk menuju laut.

Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (ForDAS) Kaltim Mislan menjelaskan, surutnya banjir di kawasan hulu DAS menjadi pertanda banjir akan menggenangi kawasan di hilir. “Yang terpenting sekarang adalah menyiagakan masyarakat di hilir di Muara Kaman (Kutai Kartanegara), juga terutama Tenggarong,” ujar Mislan.

Dia menjelaskan, banjir yang terjadi di kawasan danau (Danau Jempang, Semayang, dan Melintang) disebabkan curah hujan tinggi dalam waktu yang lama di hulu DAS Mahakam. Tiga daerah terdampak menurut adalah Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kutai Barat (Kubar), dan Kukar. Untuk kenaikan tinggi muka air di kawasan danau sekitar 2,94 meter terhitung pada 1 April 2017 hingga 21 Mei 2017.

Sementara itu, volume air mencapai 1.176 juta meter kubik, untuk setiap luasan danau 40 ribu hektare. Kejadian banjir saat ini mirip dengan 2007 lalu. Namun, tetap di bawah kondisi tahun 2015. Pria yang merupakan akademisi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Unmul itu juga menyebut, fungsi danau mengalami penurunan. Itu terjadinya karena pendangkalan sehingga berpengaruh pada perikanan dan kualitas air.

“Yang terpenting saat ini adalah tindakan darurat untuk membantu korban banjir dan menyiagakan masyarakat di hilir Muara Kaman. Termasuk Tenggarong,” tambahnya. “Banyak variabel yang menyebabkan hal ini (banjir). Bisa karena siklus intensitas hujan dan sebagainya. Terkadang siklus juga tidak mesti harus beberapa tahun sekali. Tapi memang sebelum ini banjir besar pada tahun 2007 lalu,” katanya lagi.

Dua hari lalu, saat salat Jumat, warga tetap menjalankan ibadah itu meski Masjid Al-Ukhuwwah di Jalan Awang Long RT 01, Desa Liang Ilir, Kota Bangun terendam banjir. Warga bersama pengurus masjid membuat panggung di dalam masjid untuk menghindari genangan air. Sehingga rumah ibadah tersebut tetap bisa digunakan untuk salat.

Kurniawan Sandi, warga sekitar mengungkapkan, banjir yang melanda Kota Bangun dan sekitarnya sudah terjadi sejak sebulan belakangan. “Saya tidak tahu persis berapa jumlah rumah warga terendam. Tapi ada ratusan rumah. Ketinggian banjir rata-rata 1 hingga 2 meter,” paparnya.

Karena banjir, kata dia, warga menggunakan perahu sebagai transportasi hari-hari di Kota Bangun. “Mau ke masjid juga biasanya kami pakai perahu. Kami sudah terbiasa seperti ini. Karena sudah hampir tiap tahun banjir seperti ini terjadi,” jelasnya. (hg/qi/far/fab/JPG)

(Visited 3 times, 1 visits today)

Komentar