Sementara caleg-caleg lainnya tak ada yang memiliki elektabilitas di atas 5 persen. Karena itu, hampir mustahil bisa menyodok ke tiga besar.
“Menariknya, di antara nama-nama tersebut hampir tidak ada dari partai politik (parpol) baru seperti Perindo dan Berkarya,†kata Rudi.
Satu-satunya caleg parpol baru adalah Sri Indriani Sulaeman dari PSI (1,6 persen). “Masih ada 22,8 persen yang belum menentukan pilihan, menyisakan peluang bagi parpol baru untuk turut merebut ceruk elektabilitas,†pungkas Rudi.
Merujuk pada hasil survei tersebut, maka bisa dipastikan Golkar masih perkasa di Gorontalo, dengan perolehan elektabilitas ketiga Caleg-nya mencapai 27,9 persen. Seandainya rasio elektabilitas ini akan dikonversi ke perhitungan kursi menggunakan metode Saint League Murni (SLM), Golkar hanya akan bisa mendapatkan satu kursi.
Sebagaimana diketahui konversi kursi menggunakan metode SLM diatur dalam Pasal 415 (2), yaitu setiap partai politik yang memenuhi ambang batas akan dibagi dengan bilangan pembagi 1 yang diikuti secara berurutan dengan bilangan ganjil 3,5, 7 dan seterusnya.
Sehingga ketika Partai Golkar sudah mendapatkan 27,9 persen suara, maka otomatis mendapatkan kursi pertama, dan ketika suaranya dibagi 3 untuk perhitungan kursi kedua, hasilnya 9.3 persen. Suara 9,3 persen dari Partai Golkar ini tidak bisa mengantarkan partai Golkar untuk merebut kursi kedua.
