Era digital itu, kata dia, tidak bisa dilawan. Sebuah keniscayaan, yang cepat atau lambat akan terjadi. Karena itu, cara yang paling cerdas adalah menjemput masa depan dengan digital marketing.
Dia pernah diprotes oleh asosiasi travel operator dan traver agent konvensional, karena melempar ide ini. “Tetapi sekali lagi, teknologi tidak bisa dilawan, kreativitas tidak bisa dibendung, digital tidak bisa ditunda. Dalam persaingan ke depan, yang cepat dan sigap akan mengalahkan yang besar dan lambat,†kata dia.
Lalu bagaimana bentuk market place itu? Kemenpar akan membuat semacam mall, atau pasar, atau lapak paket-paket wisata ke Indonesia. Sebut saja itu market place, di mana isinya adalah industri yang bergerak di inbound, untuk memasarkan paket wisata ke Indonesia.
Industri akan bersaing membuat paket-paket yang menarik, sehingga ada ribuan paket tour ke berbagai destinasi di Indonesia, di dalam wadah itu.
Kemenpar akan mempromosikan market place itu ke semua channel, baik paid media, own media, social media maupun endorser media. Digencarkan ke mancanegara, dan nusantara.
Orang dengan mudah akan bisa mengakses paket-paket itu melalui phone cell-nya. Ke mana saja, kapan saja, dengan banyak pilihan harga, pilihan services, sampai ke skema pembayaran. “Orang semakin mudah ke berbagai destinasi di Indonesia,†ujarnya.
Lalu? Bagaimana mekanismenya bagi industry? “Tunggu saja tanggal mainnya jelas,” jelas dia.(vr/hargo)
