Ekonomi

Tangani Stunting dan Kemiskinan Ekstrem, Pemprov Butuh Support Investor Seperti BJA Group

×

Tangani Stunting dan Kemiskinan Ekstrem, Pemprov Butuh Support Investor Seperti BJA Group

Sebarkan artikel ini
Plh Sekda Provinsi Gorontalo ketika memberikan sambutan pada FGD yang digelar Asosiasi Produsen Energi Biomassa (APREBI) di Gorontalo, beberapa waktu lalu. (Foto: Hms BJA)
Plh Sekda Provinsi Gorontalo ketika memberikan sambutan pada FGD yang digelar Asosiasi Produsen Energi Biomassa (APREBI) di Gorontalo, beberapa waktu lalu. (Foto: Hms BJA)

Hargo.co.id, GORONTALO – Pemerintah Provinsi Gorontalo mengapresiasi kehadiran PT Biomasa Jaya Abadi (BJA) yang beroperasi di Kabupaten Pohuwato.

Berita Terkait:  Langkah Menjaga Riwayat Kredit Agar Tetap Sehat dan Terpercaya

Produsen wood pellet terintegrasi dengan izin kapasitas produksi terbesar secara nasional itu telah membawa berkah bagi masyarakat di Gorontalo maupun Pohuwato serta memberikan kontribusi nyata bagi pemerintah daerah.

Pelaksana harian Sekretaris Daerah Provinsi Gorontalo Handoyo Sugiharto mengatakan, hingga 2024, BJA bersama mitranya telah memberikan kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp47,5 miliar.

Berita Terkait:  Dukung Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, PT. Gorontalo Minerals dan BPDAS Bonbol Gelar Penanaman Ribuan Pohon

PNBP tersebut dibagi tiga. Sebesar 30 persen untuk pusat, 30 persen untuk Provinsi Gorontalo, dan sebesar 40 persen untuk Kabupaten Pohuwato.

“Masyarakat Pohuwato seharusnya senang, karena dengan keberadaan BJA ini, ada dana bagi hasil yang bisa mereka nikmati. Investasi seperti yang dilakukan BJA akan membuat Pohuwato nantinya menjadi daerah maju,” kata Handoyo saat memberikan sambutan mewakili Gubernur Gorontalo dalam Forum Group Discussion dengan tema Membangun Gorontalo dengan Menjaga Etika Lingkungan yang digelar Asosiasi Produsen Energi Biomassa (APREBI) di Gorontalo, beberapa waktu lalu.

Berita Terkait:  Perkuat Keandalan Distribusi Aviation Fuel Nasional, Elnusa Petrofin Bersama Pertamina Patra Niaga Gelar Go Live Project Aviation Bali - Nusa Tenggara

Menurut Handoyo, ada dua persoalan krusial di Provinsi Gorontalo. Pertama, kemiskinan. Per Maret 2024, persentase penduduk miskin di Provinsi Gorontalo sebesar 14,57 persen atau sebanyak 177.900 jiwa. Dari jumlah tersebut, penduduk miskin ekstrem di Gorontalo sebanyak 17.410 jiwa atau 1,46 persen terhadap total penduduk.

Meski persentase penduduk miskin menurun dari 15,15 persen di tahun lalu, Gorontalo masih bertahan dalam daftar 10 provinsi termiskin di Indonesia. “Dari 2016 sampai sekarang, kalau tidak ada pemekaran provinsi baru, kita masih rangking lima provinsi termiskin,” ujar Handoyo.

Berita Terkait:  Wujudkan Layanan Pangan Aman, SUCOFINDO Gelar Sosialisasi bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi

Kedua, masalah stunting. Pada 2022, Handoyo mengatakan, angka prevalensi stunting Provinsi Gorontalo ada di angka 22 persen. Namun, di 2023, angkanya malah naik menjadi 26,9 persen.

Selain itu, Provinsi Gorontalo merupakan salah satu daerah dengan beban ganda permasalahan gizi, yakni undernutrition, overweight, obesitas, dan defisiensi mikronutrien.

Berita Terkait:  Perluasan Akses Pembiayaan di Jayapura, BRI Finance Hadir di BRI Consumer Expo 2026b

Untuk mengatasi masalah kemiskinan dan stunting, menurut Handoyo, Provinsi Gorontalo tidak bisa hanya menggantungkan diri pada sektor pertanian tradisional. Dibutuhkan sentuhan investor untuk membangun dan memajukan Gorontalo.

Apalagi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Gorontalo terbilang kecil, hanya sebesar Rp 1,8 triliun. Dari jumlah tersebut, pendapatan asli daerah (PAD) Provinsi Gorontalo hanya sebesar Rp 500 miliar.

Berita Terkait:  Catat 172 Barang Penumpang Tertinggal, KAI Daop 4 Imbau Pelanggan Jaga Barang Bawaan dengan Baik pada Penghujung Libur Nataru

Anggaran tersebut jelas tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam membangun Provinsi Gorontalo sehingga dibutuhkan anggaran dan sentuhan dari berbagai pihak.

“Kita harus membuka diri. Kita persilakan investor membangun di Provinsi Gorontalo. Jadi, ini kebijakan kita dalam rangka penanggulangan kemiskinan,” ujar Handoyo.

Berita Terkait:  SNEAK PEEK: PURANA DAN PURAGRAPH UMUMKAN KOLABORASI "LIVABLE ART" REVOLUSIONER BERSAMA AFGANIAL DI YATS COLONY YOGYAKARTA

Pria yang juga menjabat sebagai Plh. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo ini menambahkan, Provinsi Gorontalo membutuhkan investor untuk menambah lapangan kerja.

Kenaikan pertumbuhan ekonomi sebesar 1 persen akan membuka 400.000 lapangan kerja baru. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo hanya ada di angka 4,5 persen.

Berita Terkait:  Hisense Pimpin Evolusi Layar Televisi yang Lebih Berorientasi pada Manusia di CES 2026

“Kalau tidak membuka diri terhadap investor, maka Gorontalo akan begini-begini terus. Investasi dari industri biomassa seperti BJA ini nantinya akan menjadi sumber pendapatan bagi Provinsi Gorontalo, khususnya masyarakat Pohuwato,” imbuh Handoyo.

Sejauh ini, BJA telah menggelontorkan investasi sebesar Rp1,4 triliun. Kucuran investasi tersebut ditujukan dalam rangka pembangunan dan operasional pabrik pengolahan wood pellet (pelet kayu). Saat ini, BJA memiliki izin kapasitas produksi pelet kayu sebesar 900.000 ton per tahun.

Berita Terkait:  LindungiHutan Terbitkan e-Book 25 Inisiatif CSR Pembentuk Masa Depan Konstruksi

Sementara kedua mitra BJA, PT Banyan Tumbuh Lestari (BTL) dan PT Inti Global Laksana (IGL) telah merealisasikan investasi masing-masing sebesar Rp 237,6 miliar dan Rp 107,2 miliar hingga Juni 2024. BTL dan IGL merupakan pemegang hak guna usaha (HGU) yang memasok bahan baku wood pellet untuk BJA.

“Investasi sebesar itu membuktikan keseriusan BJA, IGL, dan BTL dalam membangun dan mengembangkan bisnis jangka panjang. Dari investasi awal tersebut, BJA bersama IGL dan BTL telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari seribu orang tenaga kerja yang berdampak langsung terhadap berkurangnya pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Pohuwato dan sekitarnya,” kata Direktur BJA Burhanuddin.

Berita Terkait:  Perkuat Keamanan Sambut Nataru, Pelindo Multi Terminal Parepare Tambah Fasilitas X-Ray

BJA bersama IGL dan BTL telah menyerap tenaga kerja sebanyak 1.064 orang. Jumlah tersebut setara dengan 28 persen dari total tenaga kerja di perusahaan besar di Pohuwato.

Dari jumlah tersebut, jumlah tenaga kerja lokal di BJA bersama BTL dan IGL mencapai 80 persen atau 803 orang. Dengan jumlah tenaga lokal tersebut, BJA bersama IGL dan BTL tercatat sebagai perusahaan dengan penyerapan tenaga kerja lokal terbesar di Kabupaten Pohuwato.

Berita Terkait:  Perkuat Keandalan Distribusi Aviation Fuel Nasional, Elnusa Petrofin Bersama Pertamina Patra Niaga Gelar Go Live Project Aviation Bali - Nusa Tenggara

Pelaksana tugas (Plt) Bupati Pohuwato, Suharsi Igirisa mengatakan sangat mendukung investasi di Kabupaten Pohuwato. Ia berharap, investor bersama-sama pemerintah daerah bisa menyejahterakan masyarakat dan memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku.

Hal ini Suharsi sampaikan dalam kunjungannya bersama forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) Kabupaten Pohuwato pada Selasa (8/10/2024) untuk meninjau operasional BJA, IGL, dan BTL.

Berita Terkait:  Perluasan Akses Pembiayaan di Jayapura, BRI Finance Hadir di BRI Consumer Expo 2026b

Suharsi menegaskan, operasional BJA bersama IGL dan BTL sudah memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan dan harapan masyarakat.

“Ternyata mereka sudah memenuhi apa yang diharapkan oleh masyarakat. Legalitas perusahaan juga alhamdulillah sudah memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan,” kata Suharsi.(*) 

Berita Terkait:  SNEAK PEEK: PURANA DAN PURAGRAPH UMUMKAN KOLABORASI "LIVABLE ART" REVOLUSIONER BERSAMA AFGANIAL DI YATS COLONY YOGYAKARTA