Senin, 17 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Berekspresi lewat Suara, Mainkan Karakter lewat Suara Dub and Dubber

Oleh Berita Hargo , dalam Post , pada Senin, 10 April 2017 | 12:03 PM Tag: , ,
  

Hargo.co.id – TAHU nggak sih apa itu profesi dubber? FYI, mereka inilah yang berjasa mengisi suara karakter-karakter pada film animasi dan kartun agar lebih hidup.

Bahkan, dubber diperlukan saat film atau drama dari luar negeri akan ditayangkan di layar kaca. Di Indonesia, profesi itu booming mulai era 70 hingga era 80-an. Tepatnya ketika serial Oshin dan Rin Tin Tin mulai tayang di Televisi Republik Indonesia (TVRI).

Penguasaan karakter, bakal mempermudah pekerjaan seorang dubber. Nggak heran jika dubber profesional mampu mendalami minimal 10 karakter suara. ’’Dubber harus punya ciri khas suara pada setiap karakter.

Menyenangkannya, kita bisa menentukan suara karakter favorit dan tahu lebih dulu jalan cerita dari karakter yang suaranya dibawakan,’’ ujar Ian Saybani, pengisi suara karakter Musa di film animasi Battle of Surabaya.

Untuk mencari seorang dubber, biasanya rumah produksi akan melakukan casting. Bahkan, jika film tersebut berasal dari luar negeri seperti Jepang, dikirimkan rekaman versi asli dari suara setiap karakter. Kemudian, pengarah dialog dari setiap rumah produksi bakal menonton keseluruhan film atau kartun untuk mengetahui suara dubber seperti apa yang dicari.

Setelah melalui tahap casting, dubber diarahkan menuju proses rekaman. Diajak berdiskusi tentang karakter yang suaranya akan diisi hingga menjelaskan hasil terjemahan dari naskah asli menjadi bahasa yang mudah dipahami penonton.

Setelah melewati proses rekaman, lanjut dengan tahap mixing oleh seorang editor. Editor juga mengatur level dan keseimbangan suara, serta memberikan efek suara dan musik pelengkap.

Nah, apa bedanya dubbing dengan voice-over? Keduanya sama-sama merupakan pengisian suara, tapi voice-over lebih digunakan untuk iklan, newsreader, dan tayangan pada channel TV. ’’Voice-over lebih ke membantu memberikan informasi ketika suatu gambar atau video ditayangkan,” tutur Ian.

Biasanya, profesi sebagai voice-over lebih banyak ditemukan di industri pertelevisian. So, udah tahu bedanya kan? Kalian lebih tertarik menjadi dubber atau voice-over nih? (nao/erc/c14/dhs)

Adjie Yusman
News Voice-over.
Teknik Khusus Untuk Jadi Voice-over .
Nggak perlu sekolah khusus untuk jadi dubber/voice-over. Buktinya, Adjie Yusman yang merupakan alumni dari jurusan Matematika UNG bisa menjadi seorang voice-over loh sahabat Zetizen. Adjie mengaku bahwa awalnya voice-over bukan ‘pekerjaan utama’ di Kantor. Melainkan Adjie ini awalnya adalah seorang presenter. Namun karena pengaruh suaranya yang mendukung dan terlatih karena sering baca berita, maka jadilah ia seorang voice-over sejak tahun 2014 di sebuah stasiun Televisi di Gorontalo.
“Dukanya jadi voice-over adalah ketika Wartawan salah bikin naskah berita, sehingga harus diulang dari pertama. Dan biasanya kalau naskah salah biasanya voice-over sering disorot, padahal kan tugas voice-over hanya tinggal membaca saja. Sementara sukanya, jadi voice-over bisa tambah populer dan sering dapat tambahan Job dari luar seperti mengisi suara iklan, profil dan lain-lain.” ujar Adjie.
Untuk menjadi seorang voice-over tentunya harus banyak belajar dan jangan takut salah serta harus banyak bertanya. Saat belajar, sebaiknya direkam. Karena seorang voice-over News harus tahu intonasi untuk berita kriminal. Sementara untuk voice-over Destinasi Wisata, suara harus happy dan mendayu-dayu. (ZT-08)
(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar