Lebih lanjut, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Djalaluddin Gorontalo Fathuri Syabani mengatakan, masyarakat tak perlu khawatir berlebihan menyikapi fenomena gempa di Gorontalo.
“Patut disyukuri gempa di Gorontalo walaupun sering tetapi kekuatannya rendah. Itu artinya, pelepasan kekuatannya terjadi secara bertahap. Sehingga meminimalisir potensi terjadinya gempa besar,†kata Fathuri.
“Berbeda situasinya bila jarang gempa. Maka energi yang dikeluarkan sekaligus. Sehingga ketika gempa maka getarannya akan sangat kuat sekali,†sambung Fathuri menjelaskan.
Sementara itu Kepala Pos Geofisika Umar Said mengemukakan, untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat terhadap gempa, pihaknya sudah melakukan sosialisasi ke kesekolah.
“Termasuk penempatan sirine gempa di wilayah Kota Gorontalo dan Gorontalo Utara. Setiap tanggal 26 sirine tersebut kita ujicoba untuk mengetahui apakah masih berfungsi atau tidak,†ungkap Umar Said.
Terpisah, Dosen Teknik Goelogi, Jurusan Ilmu Teknologi Kebumian, Fakultas MIPA UNG Intan Noviantari Manyoe mengatakan, tempa yang terjadi selama ini di Gorontalo dipicu sesar aktif yang berada di wilayah Utara. Termasuk Gorontalo.
“Sesuai hasil penelitian kami tentang gempa, pada tahun 2005 lalu, memang di Gorontalo ada terdapat sesar yang aktif,†katanya.
Dalam Ilmu Geologi, lanjut Intan, sesar tersebut adalah fraktur planar atau diskontinuitas dalam volume batuan, di mana telah ada perpindahan signifikan sebagai akibat dari gerakan massa batuan.
Sesar-Sesar berukuran besar di kerak bumi merupakan hasil dari aksi gaya lempeng tektonik , dengan yang terbesar membentuk batas-batas antara lempeng, seperti zona subduksi atau sesar transform.
“Sesar inilah yang memang ada di Gorontalo, memang ketika bergerak dia bisa mengakibatkan gempa,” ungkapnya.(and/wan/hargo)
