Hargo.co.id GORONTALO – Dua pekan terakhir, wilayah Gorontalo sering diguncang gempa. Bahkan Sabtu (13/8) pukul 16.19 wita, wilayah Gorontalo sempat digoyang gempa bumi tektonik. Analisis Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menujukkan gempa memiliki kekuatan 4,6 Skala Ritchter (SR).
Pusat gempa diperkirakan di laut pada jarak 28 kilometer(km) arah tenggara Kota Gorontalo dengan kedalaman 10 km. Meski dilaporkan tak berpotensi tsunami, getaran gempa cukup membuat sejumlah warga kaget. Bahkan ada yang sempat dibuat panik lantaran khawatir getaran gempa akan bertambah kuat.
Berbicara soal gempa, ternyata Gorontalo merupakan salah satu daerah yang tak asing dengan gempa. Dalam artian daerah ini sering digoyang gempa.
Data yang dirangkum dari BMKG Stasiun Djalaluddin Gorontalo, setiap bulan tak kurang 100 kali gempa terjadi di wilayah Gorontalo. Bila dirata-ratakan itu artinya setiap hari ada tiga kali gempa di Gorontalo.
Sementara sejak 2008 hingga 2016, gempa di Gorontalo yang tercatat oleh BMKG sudah 6.000 kali. Dari ribuan gempa tersebut, ada enam gempa monumental yang membawa dampak cukup besar.
Salah satunya pada tahun 2000 yang menyebabkan ribuan rumah warga rusak di wilayah pesisir utara Gorontalo. Tepatnya wilayah Sumalata dan sekitarnya Kabupaten Gorontalo Utara.
Di Gorontalo titik pusat rawan gempa berada di Pantai Selatan maupun Pantai Utara. Di Pantai Utara rawan patahan lempeng yang memicu gempa rata-rata berada di kedalaman 20 kilometer.
Sementara untuk Pantai Selatan, Kota Bone Pantai, termasuk pula wilayah Pohuwato dan Bolaemo berada di rata-rata kedalaman 100 kilometer. Sejatinya, selain gempa, Gorontalo termasuk daerah yang berpotensi tsunami.
Namun potensi Tsunami yang bisa muncul di Gorontalo tak separah Aceh. Itu karena dari kondisi geofrafis laut, areal patahan lempeng tidak begitu luas.
“Gorontalo merupakan daerah yang aktif gempa,†ungkap Kepala BMKG Stasiun Gorontalo Indar Adi Waluyo,SSi.
Beruntung gempa yang terjadi di Gorontalo sebagian besarnya berada di bawah 5 SR.
Selain itu pusat gempa berada di laut. Sehingga getarannya kurang dirasakan. “Berbeda bila gempanya berada di darat. Maka getarannya akan sangat terasa,†ungkap Indar Adi Waluyo.
