Teror DBD Terus Mengintai, Selang Sehari Dua Nyawa Melayang 

×

Teror DBD Terus Mengintai, Selang Sehari Dua Nyawa Melayang 

Share this article
Ilustrasi DBD, Dok: Hargo.co,id

Hargo.co.id, GORONTALO – Kabupaten Bone Bolango (Bonbol) dan Kabupaten Gorontalo (Kabgor) saat ini dalam kondisi waspada penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Betapa tidak, teror DBD masing mengintai yang dibuktikan dengan adanya nyawa kembali melayang.

Informasi yang berhasil dihimpun, sehari penyakit mematikan itu merenggut nyawa Almarhumah Nurul Tiara Annisa Pou yang tak lain ponakan Bupati Bonbol Hamim Pou Kamis (28/2/2019. Pada Jumat (01/03/2019) giliran nyawa Andri Lamusu (21) warga lingkungan 4 Kelurahan Bulota Kecamatan Limboto Kabupaten Gorontalo melayang akibat DBD.

Informasi yang dihimpun media ini, sebelum meninggal dunia putra bungsu dari pasangan Juriati Nani dan Karim Lamusu ini ternyata sudah dirawat inap di RS Ainun Habibie sejak 5 hari kemarin.

“Ya awalnya demam tinggi bahkan sampai pendarahan dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di RS Ainun,” ungkap salah satu kerabatnya.

Seperti diketahui sejak Desember 2018 hingga januari 2019 kemarin jumlah penderita DBD yang terdata di Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo khusus untuk Kecamatan Limboto sebanyak 20 orang hanya beda satu pasien dari Kecamatan Limboto Barat yang merupakan jumlah penderita paling banyak, selang akhir tahun 2018 sampai memasuki tahun 2019 ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo Roni Sampir ketika dikonfirmasi kemarin mengaku sudah mendapatkan informasi atas kematian tersebut, tetapi memang diakui sebelumnya pihak dinas tak mengetahui jika ada pasien DBD yang dirawat inap.

“Karena memang saya cek di puskesmas Limboto tak masuk di puskesmas melainkan langsung ke rumah sakit dan tak ada informasi juga jika ada warga yang dirawat karena indikasi DBD,” ungkap Roni.

Roni menambahkan, saat ini jumlah penderita DBD sudah mengalami penurunan, namun jika memang warga Bulota meninggal karena DBD pastinya pihak dinas akan menginstruksikan kepada puskesmas untuk turun ke lokasi dan melihat jika memang ada bibit jentik diseputaran lokasi rumah almarhum.

“Memang kalo dilihat dari ciri-cirinya sampai kabar pendarahan bisa mengarah ke DBD, sehingga kita akan cek dan petugas akan turun lapangan untuk meninjau lokasi tersebut,” pungkas Roni.

Sementara itu di Kabupaten Bone Bolango selang Januari-Februari 2019 sebanyak 105 kasus DBD ada di 20 Puskesmas se Bone Bolango. Dari jumlah itu, kasus tertinggi DBD berada di Kecamatan Toto Selatan sebanyak 12 kasus. Urutan kedua yakni di Kecamatan Tilongkabila berjumlah 12 kasus dan urutan ketiga Kecamatan Suwawa berjumlah 9 kasus. Kondisi ini membuat Kabupaten Bone Bolango termasuk waspada DBD. (gp/hg)