Aktivitas siswa sejak pagi hingga malam hari. Ada sejumlah sekolah di Gorontalo yang menerapkan sistem ini, misalnya MAN Insan Cendekia Gorontalo, SMA Terpadu Wirabakti, MTs/MA Alhuda, MTs/MA Hubulo, MTs Alkhaerta, serta pesantren Salafiyah Syafiiyah di Pohuwato.
Misalnya di MAN Insan Cendekia, kegiatan belajar mengajar dalam kelas dimulai sejak pukul 07.00 dan berakhir pukul 15.30. Setelah itu, siswa masih akan mengikuti bimbingan belajar untuk memperkaya pelajaran yang diterima dalam kelas. Malam hari akan ada ceramah dan belajar mandiri.
Bagi yang tidak ingin tinggal diasrama, maka bisa mencontoh MTs/MA Alhuda Kota Gorontalo. Sekolah ini menerapkan dua sistem, boarding school atau tidak. Hanya saja, siswanya tetap saja full day school, karena ada kegiatan ekstrakulikuler yang harus dijalani.
Berbeda dengan sekolah yang belum menerapkan full day scool. Saat siswa setelah pulang sekolah berpotensi keluyuran. Benar saja, pantauan Gorontalo Post, di kawasan gelora Nani Wartabone terdapat sejumlah siswa yang justeru asik nongkrong di tempat itu.
Waktu memang sudah menunjukan jam pulang sekolah, tapi mereka masih doyan mampir disitu. Di pasar sentral Kota Gorontalo pun demikian, terdapat sejumlah siswa yang tidak langsung pulang ke rumah, justeru ada yang asik menghisap rokok.
Lain lagi dengan siswi. Begitu pulang sekolah, keluar dari pagar sekolah, hijab yang mereka gunakan langsung di lepas. Ada pula yang menuju mall untuk ngongkrong. “Ini yang kami khawatirkan, kalau full day school tidak ada waktu untuk siswa keluyuran. Libur, kan ada sabtu dan minggu,”jelasnya.
Pengamat Pendidikan Gorontalo Prof. Nelson Pomalingo menilai kebijakan sekolah full day harus dipahami secara positif. Sebab, dilihat dari latar belakang, konsep ini dicetuskan Kemendiknas RI guna efektifitas pembelajaran agar siswa lebih cerdas dan kreatif.
Di Gorontalo menurut Prof. Nelson konsep sekolah full day ini bisa diterapkan untuk sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan. “Kalau untuk di sekolah-sekolah yang ada di desa, penerapannya perlu untuk dipertimbangkan lagi,” ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo (UMG) itu.
