Hal ini sambung Nelson hanya bisa diterapkan di wilayah kota karena sekolah-sekolah yang ada sudah didukung fasilitas untuk pengembangan kreatifitas lebih tersedia. Di desa menurutnya, hal itu bisa saja dilaksanakan.
Namun dibuat pembagian khusus. Misalnya, setelah pukul 13.00 Wita, anak di izinkan kembali pulang ke rumah. Lalu masuk sekolah lagi pukul 14.30 Wita. “Konsepnya begitu. Tapi baiknya waktu pembelajaran hanya sampai pukul 16.00 Wita,” kata pria yang juga menjabat Bupati Gorontalo itu.
Penerapan konsep full day ini hakikatnya menurut Nelson sangatlah positif. Ia mencotohkan sistem demikian telah sebagaimana diterapikan di Iran. Di Negara Persia itu, seharian penuh siswa belajar. Tak heran bila kemajuan pendidikan yang capai begitu luar biasa.
“Saya pernah ke Iran. Di sana pembelajarannya seperti itu. Lihat saja, meski 30 tahun di embargo, tapi ilmu pengetahuan dan teknologi di Negara itu maju pesat,” ungkapnya.
Di Gorontalo sendiri kata Nelson sebenarnya sudah diterapkan di sejumlah madrasah. Pada sore hari mereka para siswa belajar pendalaman ilmu agama. Nah kedepan dengan adanya konsep full day ini, diharapkan tidak hanya pendalaman agama saja, tapi juga ilmu-ilmu kreatifitas.
Untuk lebih mengefektifkan konsep ini kedepan, yang perlu disiapkan selanjutnya adalah kualitas tenaga pendidikan serta fasilitas pembelajaran. Kesejahteraan guru tentu harus ditingkatkan sejalan dengan bertambahnya waktu pembelajaran.
“Dan ini tak mustahil dilakukan di Gorontalo. Saya kira jika dikeroyok antaran pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang diikuti dengan niat baik bersama untuk memajukan pendidikan, maka hal ini akan berhasil,” tandasnya.(tro/and/tr-51/JPG/hargo)
