Selasa, 26 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Tolak Vonis Hakim, Sidang Pembunuhan ‘Ricuh

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Metropolis , pada Jumat, 2 Februari 2018 | 11:59 AM Tag: , ,
  

Hargo.co.id -  Sidang kasus pembunuhan di Pengadilan Negeri (PN) Marisa berakhir ricuh, kemarin, Kamis (1/2). Sedikitnya dua orang diamankan petugas karena berusaha menghabisi pelaku pembunuhan, Yuliarto Markus (32) saat persidangan berlangsung.

Dari Pantauan Gorontalo Post, dalam sidang putusan dengan terdakwa Yuliarto Markus (32) tersebut nampak salah seorang keluarga korban digiring polisi karena didapati membawa senjata tajam saat hendak memasuki ruang sidang. Kericuhan semakin menjadi-jadi saat hakim memutuskan terdakwa Yuliarto Markus di vonis 10 tahun penjara.

Keluarga yang menuntut agar pelaku dihukum mati merasa tak terima dengan putusan majelis hakim. Kekacauan pun mulai terjadi. Di saat yang bersamaan, kegaduhan juga terjadi diluar kantor PN Marisa. Yanu (45) salah satu keluarga mengungkapkan jika majelis hakim tidak adil jika hanya memutuskan 10 tahun penjara karena telah menghilangakan nyawa orang. “Pokoknya Nyawa dibayar Nyawa,” teriaknya yang juga diikuti massa aksi lainnya.

Bentrok antara petugas dan keluarga korban tak dapat dibendung karena tuntutan massa tak bisa dipenuhi pihak pengadilan. Polisi anti huru-hara pun dikerahkan untuk membubarkan massa aksi. Salah seorang warga pun dilarikan ke rumah sakit karena terkena semprotan water canon. Aksi pun berangsur reda setelah anggota polisi Polres Pohuwato mengamankan salah seorang yang diduga sebagai provokator.

Sementara itu, Kapolres Pohuwato, AKBP Davcoriza SIK melalui Kabag OPS, AKP Anwar Saifullah mengungkapkan, jika kericuhan yang terjadi di PN Marisa tersebut merupakan sebuah simulasi yang dilakukan anggota Polres Pohuwato untuk mengamankan massa aksi yang tidak menerima putusan pengadilan. “Kami mendapat usulan dari Pengadilan Negeri Marisa untuk dilakukan simulasi pengamanan jika terjadinya kericuhan akibat protes warga terhadap putusan pengadilan,” ujar Anwar. Ditambahkannya, jika personil yang diturunkan dalam simulasi kali itu berjumlah 150 orang. “Alhamdulillah simulasi kali ini berjalan lancar dan tidak ada yang mengalami luka-luka,” tambahnya.

Kepala PN Marisa, Wiyanto, menjelaskan jika simulasi tersebut bertujuan untuk lebih memaksimalkan kesigapan petugas dalam mengamankan proses persidangan yang memang rentan terjadi kericuhan. “Kami juga sangat berterima kasih kepada pihak Polres Pohuwato yang mau bekerja sama dalam simulasi ini dan juga dengan sigap jika terjadi aksi di Pengadilan Negeri Marisa,” singkatnya. Bahkan, sebelumnya PN Marisa sendiri pernah terjadi kericuhan yang sama pada tahun 2013 silam yang membuat kantor PN Marisa dilempari telur oleh massa aksi.(tr-56/hg)

(Visited 2 times, 1 visits today)

Komentar