Sabtu, 27 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Trauma Kembali ke Palu, Ingin Menetap di Gorontalo

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Jumat, 5 Oktober 2018 | 16:01 PM Tag: ,
  

Hargo.co.id GORONTALO – Rombongan pengungsi korban bencana gempa dan tsunami Palu, mulai berdatangan di Gorontalo, Kamis (4/10). Mereka memang difasilitasi pemerintah daerah untuk ‘pulang’, ke Gorontalo. Seperti ratusan warga korban bencana yang tiba di Suwawa, Kabupaten Bone Bolango, kemarin. Suasana haru saat para pengungsi keluar dari mobil dan disambut keluarga yang memang telah menunggu mereka. Robin Hasan, warga Desa Dumbaya Bulan, Kecamatan Suwawa Timur ini langsung memeluk Tian Lamuhu bersama lima anaknya yang selamat dari tsunami.

Ia terus bersyukur, mereka terhindar dari maut dan bisa pulang ke Gorontalo. “Kebetulan ada rumah tua milik keluarga kami, akan kami tempatkan buat saudara kami Tian Lamuhu bersama lima orang anaknya yang dari Palu. Mereka akan tinggal disitu untuk memulai kehidupan mereka,”kata Robin Hasan. Ketua TP PKK Bone Bolango Loly Yunus juga terlihat langsung menyambut para pengungsi, ia bahkan seketika mengendong seorang Balita, ia mengaku bersyukur para warga itu selamat dari bencana.

Sementara itu, gempa bermagnitudo 7,4 SR itu tidak saja mempora-porandakan kota Palu, tapi juga meninggalkan trauma yang mendalam bagi para korban. Tak terkecuali, Maimuna Salilama warga asal Gorontalo yang tinggal di Jl Nenas Kota Palu ini mengaku sudah trauma untuk kembali lagi ke Palu dengan mengingat kondisi yang menyeramkan saat kejadian gempa dan tsunami yang menimpa Palu dan Donggala. “Kami sudah tidak mau kembali lagi ke Palu.

Terus terang kami merasa trauma berat dengan apa yang kami alami saat itu. Nyawa kami hampir melayang akibat gempa dan tsunami yang menerjang kota Palu,”kata Maiumuna Salilama kepada awak kepada Gorontalo Post, kemarin. Senada dikatakan Hapsa Gobel.

Ia mengatakan tidak akan pulang lagi ke Palu dan akan menetap di Gorontalo. Ia masih terbayang masa terhindar dari maut karena tsunami. “Sudah nda mau lagi pak kita balik ke Palu. Kami mau mulai hidup baru disini dengan penuh kedamaian,”kata Hapsa Gobel, warga memiliki keluarga di Suwawa itu diamini para pengungsi lainnya.

Pantauan Gorontalo Post, kemarin, rombongan relawan Pemda Bone Bolango dan para pengunsi itu tiba di Bone Bonebol sekitar pukul 17.00 wita. Suasana haru nampak dari pertemuan antara para korban bencana Palu-donggala dengan keluarga mereka yang sudah menunggu di Bandayo Rudis Bupati. Tangisan keluarga korban pecah tak kuasa melihat anggota kondisi keluarga mereka yang dari palu ada yang telah mengalami luka-luka di sejumlah anggota tubuh bahkan sulit untuk berjalan.

“Saya kaget ketika baru pertama tiba di lokasi bencana, sudah banyak yang berdatangan karena mendengar ada Bupati Bone Bolango datang membawa misi kemanusiaan. Ternyata mereka datang bukan meminta bantuan logistik melainkan minta untuk mengungsi ke keluarga mereka di Gorontalo,”kata Bupati Hamim Pou.

Setelah membagikan bantuan logistik berupa sembako serta melakukan pengobatan gratis. Sore harinnya, Hamim memutuskan untuk pulang Gorontalo dan membawa para pengungsi tersebut dengan menggunakan sejumlah mobil, termasuk truk dalmas Satpol PP yang sebelumnya digunakan untuk mengangkut bantuan logistik.

Sebelumnya juga kata Hamim Pou, pada Rabu malam pihaknya membawa bayi yang baru sehari dilahirkan, ada tiga Kepala Kaluarga turun di Parigi Moutong perbatasan, karena kondisinya sudah sangat parah dan dikhwatirkan akan terjadi apa-apa di jalan, maka diantar kepada keluarga mereka di kecamatan Tomini Parimo. “Jadi para pengungsi yang kami bawa ini ada yang petani, pedagang, mahasiswa, ASN.

Mereka semua ingin menemui keluarga di Gorontalo,”jelas Hamim Pou. Selain itu ada juga yang akan diantarkan langsung kepada keluarga bagi yang tidak dijemput. Bagaimana bagi yang tidak punya keluarga di Gorontalo? maka Pemda Bone Bolango kata Hamim melalui dinas sosial akan upayakan untuk siapkan tempat tinggal bagi mereka. “Sebenarnya ini peran kita semua untuk membantu para korban, jika ada yang meminta untuk dijemput lagi kita akan kirim armada untuk lakukan penjemputan,”tandasnya.

Selain di Bone Bolango, rombongan pengungsi juga tiba di Kabupaten Pohuwato. Menariknya, diantara para korban bencana ini bukan saja warga Pohuwato, tapi warga Sultra dan Sulut.
Ali Mardin asal Wakatobi, Provinsi Sultra, menceritakan bahwa saat itu dia bersama rekan-rekannya dari Sulut mengikuti pelatihan guru. Mereka baru dua hari berada di Kota Palu.

“Pada kejadian itu mungkin tidak ada harapan lagi entah kita masih bisa hidup atau tidak karena memang kondisi bencana alam di Palu dan sekitarnya sangat mengerikan,”katanya. Apalagi kata dia, mereka baru dua hari di Palu, dan belum mengenal suasana kota Palu. “Di dekat kost kami ada satu rumah runtuh. Kami lari terpisah ada yang menuju lapangan, bandara serta di tempat-tempat lainnya yang dianggap aman,” kenang Ali Mardin.

Mewakili rekan-rekannya dari Sultra yakni Wakatobi, Buton, Buton Utara, Kota Betawi, Kenali Kepulauan serta dari Sulut, Ali Mardin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya ke Pemda Pohuwato yang telah telah menyelematkan masyarakatnya termasuk mereka yang berasal dari luar daerah.

Sementara itu Irmawaty Saleh, (23) Mahasiswa asal Desa Taluduyunu Kecamatan Buntulia, Pouwato yang juga selamat dari bencana gempa dan tsunami mengatakan dirinya sungguh tidak sanggup membayangkan apa yang mereka alami di Palu. Dimana saat kejadian dirinya bersama rekan-rekan sesama mahasiswa berada di asrama HPMIG, Palu.

Bupati Pohuwato Syarif Mbuinga mengatakan, saat sudah ada 42 warga asal Palu, termasuk 27 mahasiswa yang difasilitasi ke Pohuwato. “Kita doakan Insya Allah Palu segera pullih, Insya Allah musibah dan bencana segera berhenti,”harapnya. Di Kabupaten Gorontalo, warga korban gempa juga disambut Pemerintah Daerah. Sebanyak 37 pengungsi tiba sekira pukul 18:30 Wita.

Mereka langsung diberikan makanan dan minuman, serta diberikan pelayanan kesehatan. Tak lama beristirahat di Kasmat Lahay, para pengungsi kemudian berangkat ke daerahnya masing-masing, ada yang dijemput keluarga. Ada pula yang diantar oleh Dinas Perhubungan Kabupaten Gorontalo, menggunakan dua bus.

Dari data yang ada, sebanyak 37 pengungsi tersebut tersebar di beberapa daerah 10 warga Kwandang Gorontalo Utara, 20 warga Kota Gorontalo, 3 warga Limboto Kabupaten Gorontalo, 2 Warga Paguat Kabupaten Pohuwato, 1 warga Paguyaman, dan 1 warga Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo.  Yusuf Liputo mewakili Pemerintah Kabupaten Gorontalo, yang mendampingi para korban dari palu menjelaskan para pengungsi ini dari palu menggunakan 3 armada truk. (nat/hg)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar