Tujuh Desa di Atinggola Masih ‘Terisolir’. Mau Tahu Kenapa?

×

Tujuh Desa di Atinggola Masih ‘Terisolir’. Mau Tahu Kenapa?

Sebarkan artikel ini
Lapangan Atinggola yang terletak di Desa Kota Jin menjadi tempat ngumpul warga dari tujuh desa ketika membutuhkan akses internet. (Foto Jamal De Marshal/Hargo.co.id)

GORONTALO, Hargo.co.id – Ada hal yang menarik ketika era di mana seseorang hendak mengenal dunia dari internet, justru terhambat. Ini terjadi pada tujuh desa di Kecamatan Atinggola, yang mana masyarakatnya sulit menemukan akses guna melakoni komunikasi lewat internet.

Tak pelak lagi, tujuh desa di Atinggola, Gorontalo Utara (Gorut) layak mendapat predikat ‘terisolir’, karena sulitnya layanan telekomunikasi. Ketujuh desa itu adalah Monggupo, Pinontoyonga, Bintana, Sigaso, Posono, Buata dan Tambulilato. Betapa tidak, warga pada tujuh desa tersebut harus ke Desa Kota Jin (ibukota Kecamatan Atinggola) ketika hendak mengakses internet. Padahal jaraknya hanya 500 meter antara Monggopa- Kota Jin, danpaling jauh 10 kilometer antara Tambulilato – Kota Jin.

Kenapa bisa? Bukankan jaringan telekomunikasi sudah hadir di Gorontalo sejak bertahun-tahun lalu? Usut punya usut, hingga saat ini, belum ada satupun provider yang berani membangun tower guna memenuhi kebutuhan masyarakat tujuh desa tersebut. Padahal kalau dihitung-hitung, ada ratusan konsumen yang dapat direbut ketika salah satu provider berani berinvestasi di wilayah tersebut.

Data yang kami peroleh, pada setiap desa, dihuni hampir 200 kepala keluarga (KK), bahkan ada yang lebih Jika setiap desa ada 100 KK yang menggunakan handphone sebagai sarana komunikasi, maka ada 700 pelanggan baru, dapat direbut oleh perusahaan telekomunikasi.

“Memungkinkan jumlah itu bertambah kalau setiap KK ada tiga orang anggotanya yang menggunakan handphone. Belum termasuk ketika seseorang memiliki lebih dari satu nomor handphone,” kata Yusuf Ahmad warga Pinontoyonga.

Saat ini, sudah menjadi kebiasaan ketika hendak menemukan jaringan dengan akses yang bagus (4G) harus ke lapangan yang ada di Kota Jin. Lapangan itu berada tepat di jalur Trans Sulawesi. Terkadang seseorang harus berlama-lama di lapangan, jika memang kebutuhan internet sudah mendesak.

“Signal payah kalau di rumah. Jangankan untuk internet, menelpon saja harus mencari tempat yang signalnya bagus. Itupun masih putus-putus. Padahal, kalau dilihat dari letak geografis, ketujuh desa ini tak sulit ditemukan. Artinya, tidak berada di pelosok yang sulit dijangkau. Tapi, gampang dijangkau namun tak terjangkau oleh jaringan telekomunikasi,” jelas Irvan Blongkod, warga Bintana.

Bahkan ada lelucon yang beredar di masyarakat yakni, jika ingin menyampaikan kabar, lebih baik menemui langsung orangnya. Hanya butuh waktu beberapa menit dengan mengendarai sepeda motor. Dari pada via telpon, suara tidak jelas. Via whatsapp (WA), blackberry messenger (BBM) dan Short Message Service (SMS), tidak tahu kapan terkirimnya.

“Intinya, kami butuh jaringan telekomunikasi. Kabarnya, sudah ada beberapa warga yang pernah melakukan pengajuan pada salah satu provider,” kuncinya. (jdm/hg)