Universitas Rakyat dari Hati Rukun Abadi

×

Universitas Rakyat dari Hati Rukun Abadi

Sebarkan artikel ini
Dahlan Iskan

”Kami sudah menyekolahkan 600 dosen S-1 ke S-2.”

Saya menyempatkan diri dialog panjang dengan Dayat. Ingin belajar: bagaimana gaya manajemennya. Kok bisa.

Pertama, ketua yayasan dan rektornya ternyata seperti nama bus antarkota: rukun abadi.

Ini agak langka. Biasanya, yang kita dengar, dua pejabat itu bertengkar. Kadang di bawah selimut. Di mana-mana. Ya, kan? Di Unpam keduanya rukun dalam segala hal. Terutama dalam memilih cara hidup: sama-sama sederhana.

Penampilan pak rektornya seperti Oemar Bakri dalam lagu Iwan Fals. Demikian juga ketua yayasannya. Demikian juga ruang kerjanya. Demikian juga cara bicaranya.

Dayat memang guru. Asli. Tamatan SPG (sekolah pendidikan guru). ”Sampai sekarang saya masih guru SMP. Masih mengajar,” ungkap Dayat.

Kedua, fleksibel. Mahasiswa boleh memilih. Kuliah jam berapa saja boleh. Pilihan jam itu boleh berubah-ubah. Setiap saat. Sesuai dengan waktu kosong mahasiswa. Malam pun bisa. Di sini perkuliahan sampai jam 22.00.

Ini karena ini: banyak mahasiswa sambil mencari uang untuk biaya kuliah dan biaya hidup. Sebanyak 30 persen mahasiswanya kos di kampung Pamulang.

Betapa hidupnya kampung ini. ”Saya jualan bakso,” ujar seorang mahasiswa.

Unpam boleh dibilang didirikan oleh hati. Bukan oleh ambisi materi. Awalnya H Darsono melihat begitu banyak tamatan SMP yang tidak bisa masuk SMA.

Maka dia dirikan SMEA. Sekolah ekonomi ini maju pesat. Siswanya 5.000 orang. Orang tua siswalah yang menuntut Darsono mendirikan universitas.

”Cita-cita kami punya 200.000 mahasiswa,” kata Dayat. Cius? ”Serius. Serius sekali,” jawabnya. ”Akan terjadi sepuluh tahun lagi.”

Darsono-Dayat adalah contoh guru paripurna. Asli. (*)