Senada dikatakan Wajir Ismail, salah satu supir truk yang bingung dengan mencari nafkah dimana lagi dengan adanya penghentian masa giling tebu saat ini.
“Ini akibat pemerintah daerah yang tidak memberikan perlindungan terhadap hak-hak peruahaan sehingga terjadi kebakaran tebu dimana-mana oleh oknum tidak bertanggungjawab. Akhirnya kami masyarakat sendiri yang bergantung mencari nafkah di perusahaan ikut menjadi susah,” tudingnya.
Sementara itu, dikonfirmasi terpisah Staf Khusus Direksi PT PG Gorontalo Abdulah Hayati mengatakan, berhentinya aktivitas rutin tahunan ini dikarenakan bahan baku tebu yang ada di lahan sangat terbatas.
Persoalan ini, diakui Abdulah Hayati, dipicu oleh kejadian yang luar bisa akibat lahan tebu PT PG Gorontalo yang terbakar hinggga mencapai 300 hektar lebih pada awal tahun 2016 lalu. Selain itu, lahan yang mempunyai tebu berkualitas pun dimakan oleh hewan ternak milik masyarakat di kebun PG, disamping pengaruh cuaca yang ekstrim panas dan kering tahun 2015 dan awal 2016.
“Ya memang kondisi ini banyak menelan kerugian secara finansial diantaranya karyawan musiman seperti tenaga tebang mencapai 3.500 orang, supir truk angkot tebang sebanyak 300 orang, hingga para penjual makanan atau toko-toko penyedia kebutuhan sehari-hari,” kata mantan Wakapolda Gorontalo ini.
Namun demikian Abdullah Hayati mengungkapkan, jika tak ada aral melintang, masa giling akan kembali di mulai pada pasca lebaran nanti.(roy/hargo)
