Hargo.co.id, Zetizen-GP-Â Zetizen Gorontalo tahu tidak ada peristiwa apa di tanggal 21 Februari? Nah, sebagian besar orang tidak mengetahui tentang peristiwa ini lho. Padahal ada cerita menarik dan wajib diketahui oleh muda-mudi masa kini. Karena peristiwa tersebut menyangkut bahasa dan aksi-aksi heroik dari mahasiswa di tahun 1948, 1952 sampai pada 1999.
Hari ini, 21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day). Di mana sebelumnya, Hari Bahasa Ibu Internasional ditetapkan oleh badan PBB Unesco pada tanggal 17 November 1999. Lho? Gimana ceritanya sampai ada International Mother Languange Day? Yuk simak ulasan di bawah ini.
Sejarah penetapan Hari Bahasa Ibu Internasional cukup diwarnai perjuangan penuh darah dan air mata. Sejarahnya, berawal pada tahun 21 Maret 1948 saat Mohammed Ali Jinnah, Gubernur Jenderal Pakistan, mendeklarasikan bahasa Urdu sebagai bahasa resmi Pakistan. Warga Pakistan Timur yang memiliki bahasa Bangla tidak terima klaim tersebut. Maka mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan demonstrasi menentang keputusan sepihak tersebut. Demonstrasi mahasiswa pada 21 Februari 1952 tersebut menelan korban. Polisi Pakistan yang represif menembaki pendemo. Sejumlah mahasiswa terbunuh.
Gerakan ini telah memicu pemberontakan selama bertahun-tahun. Banyak korban berjatuhan dari pihak Pakistan berbahasa Urdu maupun Pakistan Timur. Hingga akhirnya kemenangan berpihak pada Pakistan Timur yang berhasil memisahkan diri dan membentuk negara Bangladesh pada tahun 1971.
Lalu, salah seorang kerabat korban, Rafiqul Islam, menggagas diadakannya Hari Bahasa Ibu Internasional pada 9 Januari 1998. Ia mengirimkan gagasan itu ke Sekjen PBB Kofi Anan. Rafiqun menyerukan agar PBB mengambil langkah untuk melestarikan semua bahasa di dunia dari kemungkinan kepunahan. Cara yang diusulkannya adalah dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional pada tanggal 21 Februari (mengacu pada peristiwa 21 Februari 1952).
Usulan itu kemudian disampaikan ke UNESCO. Dan usulan tersebut nyaris gagal. Karena pengajuan usulan pada tanggal 16 November 1999 tak bisa diajukan karena kurang dukungan. Namun keesokan harinya, 17 November 1999, usulan itu disetujui oleh 188 negara, termasuk Pakistan. Sejak saat itu tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. (ZT-10/malahayati.ac.id/hargo)

Abdul Wahid Wartabone
SMAN 2 Gorontalo
Lestarikan Bahasa Ibu
Bahasa ibu merupakan identitas dari bangsa itu sendiri. Saat ini penggunaan bahasa ibu (bahasa Gorontalo) di kalangan remaja saat ini sudah begitu miris. Banyak yang merasa malu, padahal kalau kita berbicara dengan bahasa Gorontalo, itu menandakan bahwa kita adalah remaja yang berbudaya. Saya sendiri beberapa kali masih menggunakan bahasa Ibu dalam komunikasi sehari-hari agar tetap lestari. Karena gak cuman menguasai bahasa asing, kita juga harus menguasai bahasa Ibu biar jadi remaja kekinian yang berbudaya. (ZT-07)
Muthia A.R Hiola
MAN 1 Kab. Gorontalo
Menulis Dengan Bahasa Ibu
Aku sendiri baru tahu kalau tanggal 21 Februari itu diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional, tapi dari hasil googling, aku jadi tahu kalau Hari Bahasa Ibu Internasional ini adalah hasil dari gerakan sosial yang dibangun atas semangat untuk membela hak-hak menulis menggunakan “bahasa ibu”. (ZT-11)

Rahmin Djafar
Ilmu Komunikasi UNG
Perlu DipelajariÂ
Bahasa ibu sangat perlu untuk dilestarikan agar bisa diwariskan kepada anak cucu kita di masa yang akan datang. Untuk melestarikan bahasa ibu itu sendiri tentu harus dipelajari. Cara mempelajarinya sendiri bisa dilakukan dengan sering mendengarkan audio, lagu atau terjemahan-terjemahan, banyak bertanya pada orang tua dan yang paling penting adalah mencoba untuk memprakteknya dalam kehidupan sehari-hari.(ZT-08)
Bahasa yang Baik dan Benar
Dalam berkomunikasi sudah seharusnya menggunakan bahasa yang baik dan benar, di peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional ini, jadikan sebagai momen untuk melestarikan dan meningkatkan bahasa Ibu kita, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Seperti program yang dibuat oleh pemerintah daearah Gorontalo tentang penggunaan bahasa daerah. (ZT-07)


