Hargo.co.id, GORONTALO – Tak semua orang ingin menjadi pemulasaran jenazah Covid-19, sekalipun akan dibayar cukup mahal. Oleh sebab itu, hanya segelintir orang yang ingin melakukannya dari beribu manusia yang ada dimuka bumi. Hal tersebut disebabkan oleh nyawa sebagai taruhannya serta merupakan pekerjaan yang penuh resiko.
Menjadi pemulasaran jenazah merupakan panggilan hati. Pemulasaraan jenazah merupakan layanan yang diberikan oleh rumah sakit terhadap jenazah pasien yang dirawat dan meninggal di rumah sakit tersebut. Perawatan jenazah meliputi kegiatan memandikan, mengkafani, menyolatkan dan pemakaman jenazah sesuai dengan kebutuhan atau permintaan keluarga.
Salah satu dari segelintir orang yang ingin menjadi seorang pemulasaran di Gorontalo adalah Karim Hanipa. Ia banyak menceritakan pengalamannya saat menjadi bintang tamu di Femmy Udoki Podcast yang tayang di channel YouTube Femmy Kristina Jumat, (13/08/2021).
Karim Hanipa atau biasa dipanggil Pak Imam menceritakan bahwa ia sudah menjadi petugas yang memandikan pasien jenazah Covid-19 di salah satu rumah sakit di Gorontalo sejak Juni 2020. Sejak saat itulah ia mulai dijauhi tetangga, teman bahkan keluarga sendiri karena takut bisa menularkan virus tersebut.
“Namun, alhamdulillah sekarang tidak ada kekhawatiran karena kita Ikhtiar dan yakin bahwa kita menolong orang,” kata Pak Imam.
Setelah lebih setahun memandikan jenazah Covid-19, ia mengungkapkan tidak pernah terpapar virus tersebut. Rahasianya adalah ikhtiar dan doa. Ia pun sadar bahwa pekerjaannya merupakan pekerjaan yang penuh resiko namun sangat penting untuk kemanusiaan.
Sudah sejak 5 tahun lalu pak imam bekerja sebagai petugas yang memandikan jenazah bersama 4 orang rekannya sehingga banyak pengalaman yang ia dapatkan.
“Pengalaman memandikan mayat ini waktu tengah malam. Kadang-kadang dalam satu team hanya berdua untuk memandikan jenazah, tengah malam itu sekitar jam 2 malam atau jam setengah 1 malam. Karena susah menghubungi teman-teman ya apa boleh buat,” ungkap pak imam saat menceritakan pengalamannya.
Walaupun mempunyai pekerjaan penuh resiko, apalagi memandikan jenazah Covid-19 yang sangat beresiko terpapar virus walaupun sudah swab per minggu serta bekerja menggunakan APD, pekerjaan ini tidak mendapatkan intensif tambahan. Bahkan pemulasaran sering dianggap sebagai tenaga administrasi di rumah sakit.
“Saya dari pemulasar mewakili teman-teman bahwa kami yang berada di kamar mayat ini khususnya pemulasaran tolong ditambah intensifnya, tolong kami jangan dianggap sebagai tenaga administrasi,” harapan pak Karim mewakili teman-teman seprofesinya. (***)
Penulis : Rita Setiawati
