Tidak Full Day School, Siswa Berpotensi Keluyuran

×

Tidak Full Day School, Siswa Berpotensi Keluyuran

Share this article
Sejumlah siswa seusai pulang sekolah pukul 13.00 wita duduk nongkrong di salah satu sudut Kota Gorontalo sambil menghisap rokok. (Foto diambil pada Rabu (10/8) pukul 13.24 wita) (natha/Gorontalo Post)

Hargo.co.id GORONTALO – Pro kontra rencana penerapan full day school (jam sekolah sehari penuh) terus bergulir. Bila kalangan Dinas Pendidikan menyatakan belum siap, lain halnya para orang tua. Sebagian besar para orang tua menginginkan dan mendukung penerapan full day school.

Alasannya cukup rasional. Dengan full day school, para orang tua terutama yang keduanya bekerja akan merasa lebih tenang. Mereka tak lagi khawatir anak-anaknya tak terkontrol selepas mengikuti pembelajaran di sekolah.

Sebab, selepas jam pendidikan formal, para anak-anak akan dibekali dengan kegiatan yang dapat meningkatkan ketrampilan maupun kepribadian.
“Yang penting kegiatan belajarnya seperti saat ini sampai jam 1 siang, setelah itu ekstrakulikuler,”ujar Razak Rauf, salah satu orang tua siswa, kemarin.

Ia menilai, dari pada anak-anak setelah pulang sekolah keluyuran, ada baiknya masih ada di lingkungan sekolah. “saya menilai ini bagus. Program ini tentunya akan dikaji matang,” terangnya. Misalnya kata Razak soal kekawatiran siswa akan belajar seharian full. “Saya kira tidak juga seperti itu. Semua tahu kemampuan dan batas anak-anak belajar itu sampai dimana,”terangnya.

Sama halnya dengan Sriyanti M Abdul, pekerja swasta yang memiliki putri yang kini duduk dibangku SMP itu mengatakan, penerapan full day school justeru lebih bagus. Sebab ia pasti tidak khawatir dengan putrinya. “Saya pulang kerja sore, bapaknya juga kerja pulang sore.

Biasanya dia pulang sendiri, dan sendiri di rumah. Kalau pulang sore, berarti akan sama-sama tidak terlalu khawatir,”tandasnya. Indrawati, orang tua lainya menambahkan, dengan full day school orang tua juga akan merasa aman. Soal biaya dan fasilitas, lanjut Idrawati sudah pasti dipikirkan pemerintah.

“Kalau ada yang tanya uang makan, itu kan tetap tanggungjawab orang tua. Pendidikan itu ada keterlibatan orang tua. Sudah sekolah gratis, makan minum ditanggung, seragam juga mau gratis. Tanggungjawab orang tua dimana kalau seperti itu,”terangnya.

Penerapan full day school bisa mencontoh sekolah dengan sistem boarding school atau pesantren. Sudah bisa dibandingkan kualitas pendidikan dan out put dari sistem itu. Seperti diketahui boarding school dan pesantren menerapkan full day school terlebih dahulu.