Syaiful Suga Bangga Baju Adat Rancangannya Dipakai Menteri

×

Syaiful Suga Bangga Baju Adat Rancangannya Dipakai Menteri

Sebarkan artikel ini
Ka Pulu salah seorang pengrajin Pakaian Adat Gorontalo yang hasil karyanya dikenakan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) RI Sandiaga Uno beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa/tangkapan layar)
Ka Pulu salah seorang pengrajin Pakaian Adat Gorontalo yang hasil karyanya dikenakan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) RI Sandiaga Uno beberapa waktu lalu. (Foto: Istimewa/tangkapan layar)

Hargo.co.id, GORONTALO – Syaiful Suga adalah seorang pengrajin asal Desa Langge, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Sejak 10 tahun terakhir tepatnya dimulai dari 2011 ia mulai membuat baju adat, aksesoris pengantin bahkan puade (tempat duduk pengantin. 

Ia mengaku bahwa ia sama sekali tidak pernah sekolah desainer atau sejenisnya. 

“Saya tidak belajar serius cuma liat-liat saja, belajar otodidak hanya enam bulan,” kata Syaiful Suga yang kerap dipanggil Ka Pulu ketika menjadi bintang tamu di Femmy Udoki Podcast yang tayang di channel YouTube Femmy Kristina Kamis, (23/09/2021).

Ayah dari tiga orang anak ini mengaku sangat bangga ketika baju adat rancangannya bisa terkenal karena beberapa waktu lalu dikenakan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) RI, Sandiaga Uno dalam pembukaan pelaksanaan Global Tourism Forum (GTF) 2021.

“Saya merasa bersyukur, baju buatan saya bisa dipakai oleh seorang menteri (Pak Sandiaga Uno) dan juga bisa diberikan kepada mister (Presiden World Tourism Forum Institute (WTFI), Mr. Bulut Bagci),” ungkap Syaiful Suga ketika mengungkapkan rasa syukurnya.

Usut punya usut, ternyata Ka Pulu tergabung dalam komunitas Gerakan Masyarakat Wirausaha (Gemawira) Gorontalo. 

Gemawira sendiri adalah sebuah organisasi sociopreneur yang kantor pusatnya berkedudukan di Jakarta dan anggotanya tersebar di seluruh Indonesia, bahkan Luar Negeri. Organisasi ini Fokus dalam memberikan pelatihan, pendampingan dan pembinaan bagi para pelaku Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan UMKM. Berkat doa dan usahanya itu, karyanya bisa tembus ke tingkat internasional.

Ia bercerita dulunya ia hanya seorang pedagang barang harian di Terminal 42 Andalas. Namun, karena terminal tersebut dipindahkan ke Dungingi, ia beralih profesi sebagai pengrajin pakaian adat Gorontalo. Selain itu ia juga menyewakan segala bentuk aksesoris pernikahan adat Gorontalo mulai dari Dutu sampai malam resepsi.

Nasib seseorang memang tidak ada yang bisa menebak. Siapa sangka seseorang yang dulunya hanya berdagang barang harian, kini bisa menjadi seorang pengrajin Pakaian adat Gorontalo dengan omset jutaan dan bisa menyewakan jasa paket pernikahan adat Gorontalo dengan omset puluhan juta sekali sewa.

“Saya memiliki 14 karyawan ada yang bagian dekorasi, dekor bagian dalam, make up pagar ayu dan sebagainya. Dulu 2011 jasa sewa dari Dutu sampai malam resepsi Rp 3,5 juta. Kalau sekarang Rp 10 jutaan paling murah,” kata Ka Pulu.

Melalui kisah Ka Pulu ini kita bisa melihat bahwa pendidikan yang minim tidak menjadi tolok ukur kesuksesan seseorang. Ketika ia mau berusaha dan terus berusaha maka kesuksesan akan ada di depan mata. (***)

 

Penulis : Rita Setiawati