Kabar Politik

Penyebab Bencana di Bone Bolango Bukan Karena Menyalahi Adat, Tapi Hutan yang Semakin Gundul

×

Penyebab Bencana di Bone Bolango Bukan Karena Menyalahi Adat, Tapi Hutan yang Semakin Gundul

Share this article
Penyebab Bencana di Bone Bolango Bukan Karena Menyalahi Adat, Tapi Hutan yang Semakin Gundul
Calon Bupati Bone Bolango, Merlan Uloli ketika meninjau bencana banjir yang terjadi di wilayah pesisir beberapa waktu lalu.

Hargo.co.id, GORONTALO – Sudah diduga sedari awal, Calon Bupati Bone Bolango, Merlan Uloli akan diserang dengan adat daerah.

Berita Terkait:  Tak Hanya Sosialisasikan Diri, Di Kampanye Dialogis Paslon BUPATI Serap Aspirasi Warga

Hal itu pun terbukti. Di salah satu kampanye pasangan calon (Paslon) kompetitornya, ada pernyataan bahwa bencana yang terjadi di Bone Bolango disebabkan pemimpin daerah berasal dari kalangan perempuan.

Pernyataan ini, kontradiktif dengan hasil pengamatan pakar di berbagai universitas ternama di Indonesia yang menyebut dalang atau pemicu terjadinya bencana alam dikarenakan aktivitas manusia yang melakukan penebangan hutan secara liar.

Berita Terkait:  Pemilih Pemula dan Lansia di Tilamuta Sambut Meriah Blusukan BUPATI

Ya, banjir dan longsor terjadi lantaran hutan yang bergungsi sebagai penyerap air tidak dapat menyerap dan menyimpan air dalam jumlah yang banyak ketika hujan lebat terjadi.

Untuk itu, warga jangan sampai terjebak dengan pernyataan para juru kampanye (Jurkam) yang tak berdasar. Terlebih, Ketua Dewan Adat Provinsi Gorontalo, Alim S. Niode menegaskan, jika perempuan tak dilarang adat untuk menjadi pemimpin di Gorontalo.

Berita Terkait:  Alasan Yulan Warga Kabila Dukung Merlan di Pilkada Bone Bolango: Pemimpin yang Adil

“Siapa bilang perempuan tidak bisa jadi pemimpin di Gorontalo yang merupakan daerah adat.

Perempuan bisa jadi pemimpin di Gorontalo,” tegas Alim ketika diwawancarai usai sebuah kegiatan

yang bertemakan penguatan nilai demokrasi melalui penjaminan atas hukum adat, yang berlangsung di Gedung Bele li Mbui beberapa waktu lalu.

Alim juga mengungkapkan, dalam adat Gorontalo, kedudukan perempuan lebih mulia daripada laki-laki.

Berita Terkait:  Idah dan Marten Taha Mesra di Deklarasi Ryan-Budi, Begini Reaksi Pendukung NasDem

“Bahkan, kemuliaan perempuan itu dipinjam oleh laki-laki, untuk digunakan laki-laki dalam tahta kepemimpinannya,” terang Alim Niode.

Pun kalau bencana disebabkan perempuan yang memimpin, lantas bagaimana dengan daerah lain di Gorontalo yang dipimpin laki-laki juga yang sering dilanda bencana? Kota Gorontalo misalnya. Waktu Covid-19 melanda, daerah itu diterjang banjir sebanyak sembilan kali hanya dalam sebulan.

Berita Terkait:  Orang Telaga Harus Pilih Calon Asli Telaga, Menggema saat Deklarasi ST-12 di Tuladenggi

Kemudian di Kabupaten Gorontalo, Gorontalo Utara, Boalemo, dan Pohuwato. Empat daerah itu juga setiap tahun terdampak banjir. Waktu banjir melanda seluruh daerah di Gorontalo belum lama ini, yang paling parah di Kabupaten Gorontalo. Ya, banjir di daerah itu, warga terdampak banjir hampir sebulan.(*)

Penulis: Rendi Wardani Fathan 

Berita Terkait:  Merlan-Syamsu Menang, Tiap Wilayah di Bone Bolango akan Ada Sekolah Unggulan