Hargo.co.id – Musim panen sudah mulai berakhir. Bahkan, sejumlah petani di wilayah Kabupaten Gorontalo yang sudah mulai menggarap kembali sawahnya. Namun panen musim ini dianggap petani berkurang dan berujung kerugian. Selain persoalan hama, para petani mengaku banyak hal yang mempengaruhi turunnya produksi sehingga berharap pemerintah dapat memberikan perhatian.
Menurut sejumlah pengakuan petani di Kabupaten Gorontalo, produksi gabah menurun drastis diakibatkan banyaknya hama dan kurangnya ketersediaan pupuk. Samsudin Otoluwa, salah seorang petani di Limboto mengakui bahwa dua hal tadi sangat berpengaruh terhadap produksi gabah.
“Kami terlambat melakukan pemupukan karena pupuk tidak tersedia sesuai kebutuhan. Kadang Ponstan tersedia, tapi pupuk ureanya yang tidak ada, atau begitu sebaliknya. Makanya kami terlambat untuk melakukan pemupukan pak,” keluh Samsudin.
Dia mengakui, hasil panen para petani menurun drastis. Jika sebelumnya bisa mendapatkan 70 sampai 80 karung gabah per hektar, hasil panen kali ini hanya bisa mendapatkan 18 karung gabah per hektar. “Hasilnya sangat jauh dibandingkan musim panen kemarin. Kami hanya dapat 11 sampai 18 karung gabah,” jelas Samsudin lagi.
Selain itu, peran dari penyuluh pertanian yang dianggap masyarakat kurang aktif membuat proses penaburan benih hingga penanaman padi tidak serentak, khususnya di wilayah Limboto cs. “Dulu itu pak, semua petani serentak saat mau menabur benih, menanam padi, hingga panen.
Karena dulu para penyuluh masih aktif. Sekarang, yang lain so ba tanam, yang lain baru saja mau bajak sawah. Makanya hama pun tidak merata dan hanya terfokus tiap-tiap petak sawah yang akhirnya merusak hampir semua persawahan,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo, Rahmad Pomalingo, tidak menampik kurangnya produksi padi gabah tersebut. Dia mengatakan, sampai saat ini sedang berupaya semaksimal mungkin agar para petani tidak mengalami kerugian saaat panen.
Terkait masalah pupuk yang dikeluhkan langka, Rahmad berjanji akan berusaha mengalihkan petani kepada pemakaian pupuk organik. “Kami berusaha secara maksimal agar petani bisa beralih ke pupuk organik.
Saya optimis bisa mengubah masyarakat petani meski membutuhkan waktu, pikiran, tenaga yang ekstra karena pupuk organik lebih banyak keuntungannya dibanding pupuk non organik,” ungkap Rahmad. Terkait peran penyuluh pertanian, yang paling terpenting adalah tidak berdampak kepada masyarakat.
“Memang para penyuluh ini juga membutuhkan nutrisi, bukan dibiarkan begitu saja. Selama ini kita sering menyalahkan penyuluh, namun kurang memperhatikan kondisi para penyuluh itu sendiri.
Olehnya, dengan diberikannya support baik dari segi sarana dan prasarana dari dinas pertanian kepada para penyuluh, diharapkan bisa lebih memaksimalkan kerjasama antara para penyuluh dan masyarakat,” tutup Rahmad.(tr-56/hg)
