KOTA,hargo.co.id – Kota Gorontalo menjadi salah satu dari 13 kabupaten/kota di seluruh Indonesia yang memperoleh sertifikat eliminasi filariasis dari Menteri Kesehatan RI.
Karena telah berhasil mengeliminasi filaria di Kota Gorontalo. Berdasarkan evaluasi penilaian penularan tahap ke-III pada tahun 2017 telah menunjukkan penurunan prevalensi filariasis di Kota Gorontalo.
Kasus filariasi di Kota Gorontalo pertama kali ditemukan pada tahun 2005 sebanyak 3 orang berturt-turut. Berdasarkan data tersebut dilakukan survey darah jari (SDJ) pada 2005 di Kelurahan Talumolo, Bugis dan Liluwo terhadap lebih kurang 300 sampel.
Hasil survey ditemukan 15 orang positif mikrofilaria dengan Mf Rate sebesar 1,7 persen. Semua kasus positif mikrofilaria sudah diobati selama 2 minggu. Kota Gorontalo mulai melaksanakan program pengendalian Filariasis pada tahun 2007.
Sebanyak lebih kurang 182 ribu penduduk Kota Gorontalo minum obat pencegahan filariasis secara serentak.
Kota Gorontalo melaksanan program penanggulangan filariasis dengan beberapa tahapan. Pertama, tahap persiapan. Di awali dengan peningkatan kapasitas SDM, sosialisasi baik tatap muka maupun lewat media massa, pelatihan kader tenaga pelaksanan eliminasi (TPE), penyiapan sarana prasarana, pos pemberian obat pencegahan massal filariasis, dan memperkuat sistem rujukan untuk penanganan efek samping minum obat dengan bekerjasama dengan rumah sakitpemerintah.
Kedua, tahap pelaksanaan. Pemkot melakukan pendataan sasaran sesuai kelompok umur (2-5 tahun, 5-14 tahun dan 15-65 tahun) serta kelompok yang pengobatannya sementara ditunda antara lain anak berusia < 2 tahun, ibu hamil, ibu menyusui, yang sedang sakit berat maupun ringan, penduduk usia lanjut (> 70 tahun), berikut mengundang penduduk untuk datang ke pos c, sampai mendatangi rumah penduduk untuk pemeriksaan screening sasaran (hipertensi, diabetes mellitus dan epilepsi).
Tahap ketiga, monitoring dan evaluasi. Pemkot mencatat dan melaporkan capaian jumlah penduduk minum obat. Di Kota Gorontalo penduduk minum obat > 80 persen setiap tahunnya selama 5 tahun berturut-turut sejak tahun 2007-2011. Setelah memenuhi kriteria penilaian yaitu cakupan minum obat > 80 persen pada tahun 2013 dilaksanakan survey evaluasi TAS (Transmission Assessment Survey) tahap I. Metode survey ini adalah cluster sampling dengan sasaran anak usia 6-7 tahun atau anak kelas 1 danKadis Kesehatan Kota Gorontalo, Nur Albar menerangkan,
penyakit filariasis atau kaki gajah ditularkan oleh nyamuk rumah. Untuk mencegah terjadinya penyakit filariasis diperlukan komitmen dan kerjasama lintas sektor dan masyarakat dalam hal pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan 3M plus (mengubur/menimbun, menguras bak mandi, menutup tempat penampungan air.
Jangan memberi kesempatan nyamuk berkembang biak. Diharapkan agar tetap mengaktifkan peran jumantik (juru pemantik jentik) yang telah dikukuhkan oleh Walikota Gorontalo beberapa waktu lalu, 1 rumah 1 jumantik.
“Intinya pengawasan dan pemantauan wilayah secara terus menerus dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Setiap kasus suspek akan diinvestigasi untuk memastikan tidak ada kasus baru atau infeksi setempat oleh seksi terkait di dinkes. Peran serta masarakat mendeteksi dini kasus yang dicurigai termasuk surveylance berbasis masyarakat,” tuturnya. (*)
