Hargo.co.id, Zetizen-GP- Seulan  belakangan, euforia masyarakat tertuju pada program talent show hit, Indonesian Idol. Di waktu yang lain, program seperti Masterchef Indonesia, The Voice Indonesia, sampai Sasuke Ninja Warrior juga nggak kalah disambut antusias. Yep, konsep acara yang seru ditambah popularitas yang mendunia bikin program-program itu adaptasi punya daya tarik tersendiri. But little did you know, ternyata ada proses panjang yang harus dilalui program-program tersebut sebelum bisa kamu nikmati di layar kaca Indonesia loh. Seperti apa? (far/c22/nrm/hargo)
 Mencari Program Sesuai Minat Masyarakat
Dari banyaknya program hit di berbagai negara, tentu nggak semua bisa diadaptasi gitu aja. Untuk itu, pihak stasiun televisi lokal juga harus jeli melihat kondisi pasar dan minat masyarakat Indonesia. ’’Biasanya dilihat dulu kesuksesan rating program di negara asalnya. Lalu, dilihat kira-kira sesuai dengan minat masyarakat Indonesia atau tidak,’’ ujar Programming & Acquisition Director RCTI Dini Putri. Dengan demikian, program yang diadaptasi bisa diharapkan benar-benar sukses dan booming deh.
Pengurusan Izin Resmi
Meski udah menemukan program yang sesuai dengan minat masyarakat, stasiun TV Indonesia nggak bisa seenaknya melakukan proses adaptasi. Ada izin resmi yang harus lebih dulu didapat dari pemilik format asli program. Dalam hal tersebut, izin itu berupa lisensi. ’’Jika sebuah stasiun TV mengadaptasi tanpa lisensi, ada konsekuensi hukum karena melanggar hak cipta dan intellectual property pihak tertentu,’’ tutur Dini. Kalau udah gitu, bisa dijerat UU Hak Cipta dan dianggap plagiarisme deh!
Negosiasi dan Jual Beli Lisensi
Buat mendapatkan izin berupa lisensi, pihak stasiun TV lokal harus melakukan negosiasi dengan pihak pemilik format. Kalau kedua pihak setuju, baru deh dilakukan proses jual beli lisensi secara resmi. ’’Kami selanjutnya secara resmi membeli lisensi dari pemilik format atau intellectual property. Misalnya, ke pihak Fremantle untuk program Indonesian Idol atau ke TALPA untuk program Rising Star,’’ ungkap Dini yang mewakili RCTI sebagai salah satu stasiun TV lokal yang paling sering mengadaptasi program luar.
 Proses Produksi
Ketika negosiasi pembelian lisensi berhasil, pihak stasiun TV lokal sebagai pembeli lisensi pun bisa langsung melakukan proses produksi. ’’Proses produksi pun tetap harus dilakukan dengan supervisi atau pengawasan dari pemilik asli format,’’ jelas Dini. Yep, pengawasan dari pemilik asli program diperlukan buat memastikan versi adaptasi tetap sesuai dengan format aslinya. Dengan demikian, kualitas dan keseruan program nggak berkurang deh.
Menyisipkan Elemen Kreatif Lokal
Meskipun tetap berusaha mempertahankan format asli acara, tentu versi adaptasi juga harus dimodifikasi sesuai pasar lokal. Karena itulah, terkadang dalam versi adaptasi ditambah beberapa gimmick dan ciri khas tertentu. ’’Dalam hal tersebut, pihak kreatif kami akan berdiskusi dengan konsultan pemilik format untuk menyisipkan elemen-elemen kreatif lokal,’’ jelas Dini lagi. Penyisipan elemen lokal itu penting agar program bisa diterima masyarakat Indonesia dan mendapatkan rating yang memuaskan!
Pembaharuan Kontrak dan Lisensi
Nah, ketika rating yang diraih cukup baik dan mudah diterima masyarakat, program tersebut diteruskan dengan pembelian lisensi secara berkala. Pembelian lisensi bergantung pada jangka waktu yang disetujui dalam negosiasi sebelumnya. ’’Karena itu adalah format program asing, masa lisensi diberikan untuk jangka waktu tertentu. Bersifat seperti membeli franchise, jadi kontrak kerja sama harus kami perbaharui setiap season,’’ ucap Dini. Widih, ternyata buat menayangkan program adaptasi favorit kita harus ada proses panjang yang harus dilalui, ya
Jangan Ditiru yang Nggak Tentu
Berlikunya proses resmi suatu program adaptasi ternyata bikin beberapa pihak nekat berbuat curang loh. Nggak mau repot-repot membeli lisensi, beberapa pihak malah melakukan plagiarisme. Hasilnya, terciptalah program-program adaptasi ilegal seperti beberapa contoh berikut ini! (irm/c22/nrm/hargo)
 China’s Idol Producer 2018

Acara survival Produce 101 besutan stasiun TV Korea Mnet sukses besar pada 2017. Sayangnya, kesuksesan itu diikuti kabar nggak menyenangkan. Program tersebut dijiplak stasiun TV Tiongkok dengan nama Idol Producer 2018. Bahkan, menurut pihak Mnet, bukan cuma konsep acara, Idol Producer 2018 juga meniru persis prosedur audisi, desain, sampai logo program! ’’Kami belum resmi menjual hak cipta atas nama program survival di Tiongkok. Kami sangat menyesal mereka terus tampil tanpa membeli hak cipta dari kami,’’ tutur salah seorang perwakilan CJ E&M sebagai pemilik format program
Kau yang Berasal dari Bintang

Pada 2014, sebuah sinetron berjudul Kau yang Berasal dari Bintang ramai jadi sorotan masyarakat. Sebab, sinetron yang dibintangi Morgan Oey dan Nikita Willy tersebut dianggap menjiplak drama hit Korea milik stasiun TV SBS, You Who Came from the Stars. Beberapa portal berita besar seperti Soompi bahkan turut memberitakan kasus itu loh. Walaupun sang produser menyatakan bahwa sinetron tersebut punya izin resmi, pihak SBS menuturkan sebaliknya. ’’Drama itu dibuat tanpa mendapatkan hak publikasi yang legal,’’ klaim salah seorang staf SBS. Setelah diancam akan dituntut, sinetron tersebut akhirnya resmi berhenti ditayangkan.
Â
