Hargo.co.id, GORONTALO – Tokoh masyarakat Gorontalo Rachmad Gobel, siap merapikan dan memajukan wilayah pesisir Gorontalo yang merupakan desa-desa nelayan. Salah satunya, Rachmad akan menjadikan desa nelayan menjadi desa wisata.
Menurut Rachmad, dengan wilayah Gorontalo yang diapit oleh Teluk Tomini dan Laut Sulawesi, menjadikan banyak potensi hasil laut yang dihasilkan oleh Gorontalo. Rachmad menyebut bila perikanan bisa menjadi salah satu penopang perekonomian Gorontalo.
“Wilayah Gorontalo ini kan diapit oleh dua perairan, jadi sudah pasti memiliki potensi perikanan yang sangat besar disini. Perikanan harus menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Gorontalo,” kata Rachmad, Sabtu (23/2/2019).
“Saya ingin mencoba menjadikan wilayah pesisir ini, khususnya desa-desa nelayan menjadi desa wisata,” lanjutnya.
Rachmad mengatakan, saat ini masih banyak nelayan Gorontalo yang masih melaut menggunakan cara-cara tradisional. Selain itu, sambung Rachmad, para nelayan pun masih secara langsung menjual hasil tangkapan mereka ke pasar.
“Nelayan masih menggunakan cara-cara tradisional dalam menangkap ikan dan hasilnya pun langsung dijual tanpa ada pengolahan terlebih dulu. Ini yang akan saya coba ubah,” ucap Rachmad.
Rachmad menyebut, dirinya akan mendorong pada nelayan dan masyarakat di pesisir untuk membangun koperasi dan pelatihan UMKM. Hal ini untuk menjamin kehidupan nelayan saat cuaca buruk yang mengharuskan nelayan untuk tidak melaut.
Sebab Rachmad menilai, saat ini nelayan masih sangat bergantung pada hasil tangkapan sehari-hari guna menghidupi kebutuhan sehari-hari. Rachmad ingin para nelayan bisa terus mendapatkan penghasilan meskipun mereka tidak melaut karena cuaca buruk.
“Saya akan coba dorong mereka untuk membuat koperasi nelayan di lingkungan mereka. Selain itu, saya juga akan berikan mereka pelatihan UMKM, agar masyarakat khususnya para ibu bisa menjadi pengusaha,” tutur Rachmad.
“Sehingga mereka tidak lagi bergantung pada hasil tangkapan saja dalam menghidupi keluarga mereka. Saat cuaca tidak bersahabat pun mereka bisa tetap dapat penghasilan,” ucapnya.
Salah satu jenis UMKM yang akan dibawa dan diajarkan oleh Rachmad pada para masyarakat pesisir adalah usaha pengolahan hasil laut yang memiliki nilai tambah bagi nelayan. Karena itu, Rachmad mengatakan bila keberadaan koperasi juga menjadi penting agar tidak ada persaingan harga antar rumah produksi, serta menjamin produk-produk rumahan masyarakat bisa dipasarkan dengan baik.
Rachmad juga menjelaskan bila dirinya akan memberikan studi banding pada beberapa masyarakat di daerah pesisir ke daerah-daerah sentra pengolahan ikan seperti sarden dan bandeng presto. Ini dilakukan agar mereka bisa belajar langsung bagaimana cara mengolah hasil laut.
“Saya akan berikan pelatihan membangun UMKM bagaimana cara pengolahan hasil laut, packaging (pengemasan) serta manajemennya. Karena itu, saya mendorong juga adanya koperasi di desa-desa nelayan,” ucap Rachmad.
“Nanti ada juga nelayan dan masyarakat yang saya berikan program studi banding ke Semarang misalnya untuk pengolahan bandeng presto atau wilayah lain yang terkenal dengan sardennya. Ini agar mereka bisa belajar langsung pengolahannya,” tutur mantan Menteri Perdagangan itu.
Menurut Rachmad, bila desa nelayan bisa dijadikan sebagai pusat kegiatan UMKM dan memiliki hasil produksi yang berbeda dari provinsi lain di Indonesia, hal ini akan membawa nilai tambah bagi para nelayan. Sebab, Rachmad memprediksi akan banyak wisatawan yang datang untuk belajar maupun membeli oleh-oleh langsung pada mereka. Ini akan membawa nilai tambah bagi mereka.
“Saya yakin ini akan membawa nilai tambah bagi para nelayan. Apalagi bila mereka bisa membuat olahan hasil laut yg sangat khas dan berbeda dari wilayah lain di Indonesia,” pungkas Rachmad. (adv)
