Hargo.co.id – Runtuhnya tambang emas di bukit Busa, Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Bolaang Mongondow, Rabu (27/2) lalu, meninggalkan duka di bumi Totabuan.
Hingga Ahad (3/3) kemarin, proses evakuasi masih terus dilakukan, karena diduga masih ada puluhan penambang yang tertimbun, salah satunya Kadri Simbala (Odeng) warga Desa Bilalang. Ayahnya, Amrin Simbala (75) masih terus menanti di lokasi evakuasi.
Begitu mendengar lokasi tambang bukit busa, Desa Bakan, Lolayan, ambruk, Rabu (27/2) lalu. Amrin Simbala langsung mengumpulkan keluarganya di Desa Bilalang, dan memutuskan ia harus ke lokasi tambang, menjemput Kadri anak ketiganya yang memang berprofesi sebagai penambang.
Di lokasi, tim SAR sudah ada dan berusaha melakukan evakuasi di bukit yang menjadi lokasi tambang. Amrin tak diizinkan mendekat, sebab lokasi tambang sangat rawan ambruk. Bebatuan besar tepat di mulut gua itu, bisa saja runtuh dan menghambat proses evakuasi. Ia makin gelisah, karena yakin anaknya masih hidup.
Amrin, pria sepuh ini kemudian mendekati tim SAR dan meminta agar ia bisa mendekati mulut gua, ‘pintu’ masuk ke lubang tambang maut.
“Dia pa aku oi au’ biar ta lumongou kon bubu’ bo mo ku uk ke adi’ku ba mo sanang pa in dodobku (Tolong bawa saya sekalipun hanya mengintip saja di depan lubang dan memanggil anakku biar hati ini merasa tenang),”pinta Amrin kepada tim SAR dalam bahasa Mongondow.
Mendengar permintaan itu, ia diizinkan menuju mulut gua. Ditemani salah seorang relawan, ia berusaha memasukan badannya ke mulut gua, dengan ekstra hati-hati. Tak ada yang bisa dilihatnya, kecuali gelap dan bebatuan yang telah menutupi badan gua.
“Odeng…odeng… odeng, napa papa ee,”teriak Amrin di mulut goa itu. Odeng adalah nama kesayanganya untuk Kadri, anaknya. Upaya Amrin berbuah hasil. Dari dalam goa yang tertimbun itu, ia mengar balasan suara, yang terdengar sayup-sayup.
“Sapa ngana (siapa kamu),”kata Amrin, memastikan. “Napa kita pa (Ini saya Ondeng),”balasan dari dalam lubang tambang.
