Hargo.co.id, GORONTALO – Perebutan empat kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dapil Gorontalo, dipastikan akan tetap sesengit pertarungan tiga kursi DPR-RI.
Meski menyandang status petahana, empat incumbent DPD yaitu Rahmijati Jahja, Abdurahman Bachmid, Dewi Sartika Hemeto, dan AD Khaly berada dalam posisi tidak aman.
Karena diantara calon pendatang baru beberapa diantaranya merupakan tokoh masyarakat yang memiliki basis masa yang kuat. Para pendatang baru ini dipastikan akan merepotkan posisi petahana.
Pengamat politik Bala Bakri memberikan isyarat ini. Akademisi dari Universitas Ichsan ini menyatakan, pertarungan calon DPD umumnya memiliki kekuatan yang merata.
“Karena orang-orang yang bukan petahana juga berasal dari calon-calon yang juga punya latar belakang yang sangat memungkinkan. Ada juga orang yang dari DPR yang menyebrang ke DPD, inilah sebetulnya basis-basis yang perlu diperhitungkan. ” ujarnya.
Dia mengatakan, pertarungan calon DPD yang sangat terbuka sesungguhnya membuka peluang yang sama bagi seluruh calon. Untuk bisa merebut kursi DPD. Karena calon memulai pertarungan dari titik yang sama.
“Kenapa dari nol sebab semua memiliki basis yang semua sama. Dan berangkatnya dari star yang sama,” jelas Bala Bakri yang saat ditemu di Universitas Ichsan, Senin (4/3).
Karena itu Bala Bakri mengatakan DPD menjadi satu-satunya kamar yang tidak mengenal istilah incumbent. “Karena itu sama-sama punya kekuatan dari berangkat yang sama. Jadi sekalipun pendatang baru, tapi sudah mengakar,” pungkasnya.
Analisis pengamat soal posisi pendatang baru yang relatif sama denan petahana memang, agak linier dengan hasil survei internal calon DPD. Misalnya ada survei internal yang menempatkan empat calon DPD di urutan teratas.
Dua diantaranya adalah pendatang baru dan sisanya adalah petahana. Empat figur itu masing-masing Fadel Muhammad, Weny Liputo, Abdurahman Bahmid dan Dewi Hemeto.
Di masyarakat mulai mengerucut figur calon DPD. Dari 29 calon, ada sekitar 8 hingga 10 figur yang perolehan suaranya diperkirakan bakal kompetitif. Selain empat nama yang disebutkan unggul dalam survei internal, ada nama-nama lain. Seperti Rahmijati Jahja, Mirnawaty Modanggu, Dahlan Usman dan AD Khaly.
Rahmijaty Jahja diunggulkan karena sudah dua periode duduk di DPD RI dengan perolehan suara yang signifikan. Begitupun dengan Mirnawaty Modanggu. Srikandi ini memiliki basis masa yang kuat di Pohuwato dan Gorut.
Serta Dahlan Usman yang mewakili generasi muda. Termasuk AD Khaly yang bukan wajah baru di panggung pemilihan DPD.
Sementara itu, sejumlah calon yang diunggulkan umumnya menyatakan optimis bisa terpilih.
Optimisme itu disampaikan Fadel Muhammad saat awak media ini mewawancarainya, kemarin (4/3). Meski begitu, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut tak mau jumawa. Dirinya akan terus melaksanakan agenda dan kegiatan untuk meraup dukungan masyarakat.
“Insya Allah masih tetap seperti yang dulu,†tandasnya.
Fadel memilih melangkah ke jalur DPD pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 karena mewakili daerah. ” Bukan hanya milik salah satu partai saja. Tetapi dia milik daerah dan bisa berkolaborasi dengan partai mana saja,†kata Fadel Muhammad.
Menurut Fadel Muhammad, sama halnya ketika duduk di DPR RI, dirinya akan konsen memperjuangkan kepentingan daerah. Terutama dalam hal peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Utamanya melalui bidang pertanian dan perikanan.
“Pertanian dan perikanan masih menjadi leading sektor dalam perekonomian daerah ini. Banyak masyarakat Gorontalo yang berkecimpung dan menggantungkan hidupnya di sektor pertanian dan perikanan,†tutur Fadel Muhammad.
Weny Liputo juga mengakui optimisme yang sama. Karena untuk lolos menjadi peserta Pemilu 2019, batas minimum 1.000 KTP yang dipersyaratkan aturan, sudah terpenuhi.
“Bahkan dukungan KTP lebih dari jumlah tersebut, namun ia berharap dukungan serta kepercayaan masyarakat terhadap dirinya yang dibutuhkan,” katanya.
Maju sebagai calon anggota DPD-RI mewakili Gorontalo, Wenny mengaku target utamanya akan berupaya mengintervensi sektor pendidikan di Gorontalo.
Ia mengaku kurang lebih selama 28 tahun dirinya berkecimpung di dunia pendidikan, dan kurang lebih 33 tahun menjadi ASN, sehingga ia paham betul kebutuhan pendidikan di Gorontalo.
