Hargo.co.id GORONTALO – Listrik di Gorontalo termasuk dalam kategori mahal. Ini tidak terlepas dari biaya/ongkos produksi yang harus dikeluarkan cukup besar.
Biaya puluhan miliar itu hanya untuk membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar, yang menggerakkan mesin diesel pembangkit listrik. Sehingga bila ditambah pembiayaan komponen lainnya seperti oli maupun suku cadang maka bisa dipastikan biaya yang dikeluarkan akan membengkak lagi.
Seperti diketahui, rata-rata pembangkit listrik di Gorontalo menggunakan mesin diesel, termasuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) 100 MW Paguat, yang baru saja diresmikan Presiden RI Joko Widodo. PLTG masih akan menggunakan Solar untuk setahun mendatang.
Sebetulnya, biaya operasi listrik di Gorontalo ini bisa ditekan lebih rendah lagi, jika potensi pembangkit listrik non diesel di Gorontalo dimanfaatkan. Misalnya pembangkit listrik tenaga air (PLTA), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) maupun pembangklit listrik tenaga micro hydro (PLTM) dan pembangkit listrik tenaga biomass (PLTB) dapat dikelola dengan baik.
Dari sejumlah potensi itu, beberapa diantaranya telah dimanfaatkan, yakni PLTM di Desa Taludaa Kabupaten Bone Bolango kapasitas 2,3 MW dan PLTM Mongango kapasitas 1,2 MW di Desa Buata, Kecamatan Atinggola, Kabupaten Gorontalo Utara.
Termasuk PLTB 500 KW di Pulubala. PLTB tersebut merupakan pembangkit listrik biomassa dengan bahan bakar tongkol jagung, pertama di Indonesia.
Sementara untuk PLTA dengan pemanfaatan sungai Bone, masih akan menunggu pembangunan waduk bone hulu. Waduk yang direncanakan sejak era Presiden BJ Habibie ini, dipastikan akan dibangun dalam waktu dekat.
