Adhyaksa Dault, Rindu Tumbilotohe dan Selalu Dikirim Ilabulo 

×

Adhyaksa Dault, Rindu Tumbilotohe dan Selalu Dikirim Ilabulo 

Sebarkan artikel ini
APRESIASI : (dari kiri) Pimpinan RRI Gorontalo, Pimpinan TVRI Gorontalo, Dirut Gorontalo Post Mohamad Sirham, Ketua Kwarnas Adhyaksa Dault, Gubernur Rusli Habibie, Ketua Kwarda Idah Syahidah Rusli Habibie, Wagub Gorontalo Idris Rahim, Pimpinan Radio RH, perwakilan Mimoza TV dan Koordinator Ciber Pramuka, foto bersama usai penganugerahan Kwarda Award bagi media yang peduli Pramuka.

Hargo.co.id – Nama Adhyaksa Dault tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Pria berdarah Gorontalo kelahiran tahun 1963 ini, pernah dipercaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora) 2004-2009, Kini Adhyaksa menjabat Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka. Kemarin, Adhyaksa ‘Pulang Kampung’.

Penampilan pria berkumis ini selalu energik, pidatonya selalu berapi-api yang membakar semangat generasi muda. “Gorontalo ini hembat, orangnya pintar-pintar,”kata Adhyaksa Dault pada sambutanya pada acara pelantikan Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gorontalo di gedung Belle Li Mbui, Kota Gorontalo, Rabu (11/7).

Pernyataanya bukan omong doang, Adhyaksa menyebut deretan orang sukses asal Gorontalo. Misalnya BJ Habibie (Presiden RI ke 3), Prof Jhon Ario Katili (pakar Geologi), termasuk saat ini Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.

Tentunya masih banyak lagi tokoh-tokoh Gorontalo yang menurutnya patut dijadikan motivasi generasi muda Gorontalo kedepanya. Unggulnya orang-orang Gorontalo juga nampak di Gerakan Pramuka.

Sejak mempin Kwarnas, ia melihat Pramuka Gorontalo hebat-hebat. Terlebih saat forum-forum nasional seperrti Raimuna Nasional Pramuka maupun Jambore Nasional, Gorontalo selalu jadi terdepan dan unggul. “Anak-anak SMP-SMA bicara Presiden. Itu luar biasa,”Ahdyaksa Dault.

Lepas dari itu, Adhyaksa pun bangga mengaku sebagai orang Gorontalo. Orang tuanya Hj. Mariam Hadju adalah asli Suwawa, Bone Bolango. Sewaktu kecil ia pernah hidup di Gorontalo kurang lebih dua tahun, sebelum kemudian pindah ke Palu lalu ke Jakarta.

Adhyaksa lahir Donggala, Sulawesi Tengah. Ayahnya HM Dault Khan merupakan asli Kaili, Sulteng. Kendati sudah menetap di Jakarta, Adhyaksa selalu rindu Gorontalo. Terlebih tradisi Tumbilotohe setiap menjelang Idul Fitri. Tradisi malam pasang lampu ini selalu diingatnya, termasuk kenangan ketika naik bendi keliling Gorontalo.

“Saya lahir di Sulteng, mama orang Suwawa. Saya (ingat) tumbilotohe, naik bendi,”ujarnya.

Setelah pindah ke Jakarta, ia baru balik lagi ke Gorontalo saat ada pencanangan bukit Suharto saat pekan pencanangan nasional (PPN) di Limboto, sekira tahun 1992. Ketika itu, ia menjabat sebagai Ketua DPD KNPI DKI Jakarta, ia ke Gorontalo melalui Manado.

“Dari Manado ke Gorontalo lewat Kwandang. Setelah balik (ke Jakarta) sudah naik (pesawat) Hercules,”terangnya. Gorontalo mendapat perhatian tersendiri bagi Adhyaksa. Saat menjabat Menpora pada era periode pertama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia banyak membantu Gorontalo, termasuk pembangunan gelanggang olaraga UNG pada tahun 2007.

“Saya terakhir ke Gorontalo tahun 2007, membantu GOR Univesitas Negeri Gorontalo, waktu itu Kak Prof Nelson masih Rektor UNG,”kenangnya.

Beraktivitas di Jakarta, bukan berarti membuat Adhyaksa lupa Gorontalo. Untuk mengobati rindunya terhadap tanah leluhur, Adhyaksa selalu mendapat kiriman makanan khas Gorontalo, ilabulo. Setiap pekan, saudaranya dari Gorontalo selalu mengirim paket Ilabula ke rumahnya di Jakarta.

“Tante di Gorontalo itu setiap minggu kirim Ilabulo,”ujarnya. Adhyaksa termasuk tokoh nasional yang berpengaruh. Suami Drg. Mira Arismunandar ini sebelum menjabat Menteri Pemuda dan Olahraga, pernah bekerja bekerja sebagai penasehat hukum.

Namun kemudian melanjutkan pendidikan ke Program Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Dan selanjutnya berhasil meraih gelar Doktor (S3) Jurusan Teknik Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2007 (wikipedia).

Pada Pemilu 2009, Adhyaksa Dault, mengajukan pengunduran diri sebagai calon legislatif dari daerah pemilihan Sulawesi Tengah (Sulteng). Padahal saat itu ia dipastikan sebagai calon terpilih melalui Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Ia memilih mengabdikan dirinya kembali kepada dunia pendidikan dengan kembali mengajar sebagai Dosen Program Doktor Manajemen Sumberdaya Pantai-Universitas Diponegoro dan menjadi Kandidat Guru Besar pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Diponegoro .

Selain mengajar, tugas yang diemban Adhyaksa Dault menjadi Komisaris Independen PT.BRI.Tbk, sejak tahun 2010. Adhyaksa Dault juga beraktivitas sebagai Ketua Umum VANAPRASTHA, yaitu suatu wadah dari para Penggiat Alam Terbuka dan Aktivis Lingkungan yang berdiri sejak 1976.

Pada tahun 2013 ia terpilih sebagai ketua Kwarnas ke 7. Melalui Pramuka, ia banyak mengkampanyekan pendidikan karakter untuk generasi muda. Pendidikan karakter dipandangnya penting karena untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Rabu (11/7) kemarin, Adhyaksa ‘pulang kampung’.

Ia melantik jajaran Kwartir Daerah Pramuka Gorontalo yang diketuai Idah Syahidah Rusli Habibie. Termasuk mendapingi Kwarda Gorontalo menyerahkan penghargaan kepada Gorontalo Post sebagai media cetak yang banyak mengabarkan kegiatan-kegiatan Pramuka. (tro/gp/hg)