Agus Sutikno, Pendeta Bertato Pendamping Orang-Orang Pinggiran

×

Agus Sutikno, Pendeta Bertato Pendamping Orang-Orang Pinggiran

Sebarkan artikel ini
Pendeta Agus Sutikno di tengah anak-anak di pinggiran Kanal Banjir Timur Semarang. (Foto: dok.JPNN)

Begitu pula bagi dua waria sepuh yang sudah tidak berdaya di gubuknya tersebut. Bentuk wajahnya aneh, bengkak di pipi, dahi, dagu, serta hidung karena silikon. Rambutnya beruban dan lebih mirip nenek sihir sehingga mereka kian diabaikan masyarakat. Bahkan, banyak yang ”tidak berani” menatap wajah mereka.

”Kak Bon dan Kak Tesi (panggilan dua waria itu, Red) sudah lama tinggal di sini. Keduanya sudah terima Yesus,” ujar Agus.

Masa lalu yang kelam dan keterbatasan ekonomi orang-orang pinggiran itu mendorong Agus untuk menjangkau mereka. Sebab, dia pernah berada di titik terkelam manusia. Berkawan dengan iblis dan menjadi budaknya. Namun, nama Yesus jualah yang akhirnya mengentaskan Agus dari titik kelam tersebut.

Dibesarkan oleh orang tua yang keras membentuk karakter dan watak Agus yang keras pula. Tontonan live show tindak kekerasan sang ayah itu menyemai dendam dan kepahitan dalam diri Agus. ”Saya pernah menantang ayah untuk berantem. Sempat menyesal punya ayah seperti dia,” ungkap lelaki yang sempat diisi ilmu kebal tubuh oleh ayahnya tersebut.

Sejak itu, Agus tumbuh menjadi anak yang suka melawan orang tua. Hidupnya hanya bermabuk-mabukan dan menjadi penguasa jalanan. Namun, seiring perjalanan waktu, hati Agus melunak. Timbul kesadaran dalam hatinya untuk berdamai dengan Tuhan. Karena itu, dia pun bertobat.

Hanya, lantaran chasing fisiknya telanjur seperti preman, ketika Agus memutuskan untuk menjadi pelayan doa, kesannya jadi pendeta yang sangar. ”Tuhan Yesus kan sudah mengasihi saya. Kenapa dengan orang pinggiran kita jadi jaga jarak?” tegas lelaki yang pernah terlibat dalam kejahatan narkoba dan segala jenis kekerasan jalanan itu.

Sejak kedatangannya pada 2005 di kawasan tepian Kanal Banjir Timur Semarang, satu per satu warga tersentuh oleh sikap dan pengajaran Agus akan kebaikan Kristus. Tidak bermaksud mengkristenkan warga. Bahkan, Agus tidak peduli apakah warga yang dibina beragama Kristen atau beragama lain.

”Saya hanya ingin membaur dengan mereka. Mendampingi mereka dalam suka dan duka,” tegas pria kelahiran 17 Agustus 1975 itu.