Aksi Damai Peringati Hari Perempuan Internasional di Gorontalo Diwarnai Kericuhan

Metropolis
Puluhan perempuan saat menggelar aksi unjuk rasa di sekitar bundaran tugu saronde, kota Gorontalo, Selasa (28/02/2023). (Foto: Nazlia Busra untuk HARGO)
  Puluhan perempuan saat menggelar aksi unjuk rasa di sekitar bundaran tugu saronde, kota Gorontalo, Selasa (28/02/2023). (Foto: Nazlia Busra untuk HARGO)

Hargo.co.id, GORONTALO – Puluhan perempuan yang tergabung dalam ‘Aliansi Perempuan Merdeka’ menggelar aksi unjuk rasa untuk menyuarakan aspirasi mereka, di sekitar tugu bundaran Saronde, Kota Gorontalo, Rabu (8/3/2023).

Pantauan Hargo.co.id, Demo yang dimulai sekitar pukul 16.00 WITA tersebut digelar dalam rangka memperingati hari perempuan internasional.

banner 300x300

Masa aksi ini merupakan perkumpulan beberapa organisasi seperti PMII, IMPID, LMNID, GMNI, KEPMI, LMND, IPMR, UBM, HMI serta organisasi Korps HMI Wati (KOHATI).

Selain pengeras suara, masa juga membawa berbagai atribut mulai dari bendera hingga beberapa poster yang berisi tuntutan terhadap aspirasi yang mereka suarakan. Masa juga melakukan aksi bakar Ban.

Koordinator lapangan sekaligus Ketua Kohati Komisariat Ekonomi UNG, Istiana Iyou mengatakan, unjuk rasa ini diadakan untuk memperjuangkan hak dan kepentingan perempuan, serta mengekspresikan pendapat mereka tentang isu-isu yang mereka anggap penting.

banner 728x485

“Berikan pendidikan gratis, ilmiah dan tidak diskriminatif terhadap kaum perempuan. Dan yang paling penting hapuskan Budaya Patriarki,” kata Istiana Iyou.

Masa juga mengajukan tuntutan terkait pengesahan RUU PPRT, tolak RKUHP baru, tolak PERPU cipta kerja, laksanakan PERPU TPSK sesuai dengan harapan perlindungan terhadap kaum perempuan, hapuskan diskriminasi hak-hak bagi perempuan di tanah Papua dan yang terakhir stop perundungan anak dan perempuan.

Terpantau di lokasi, aksi damai yang digelar oleh Aliansi Perempuan Merdeka sempat diwarnai dengan kericuhan. Petugas kepolisian yang berada di lokasi sempat menyeret satu orang masa aksi ke dalam mobil. Meski beberapa saat kemudian dibebaskan kembali.

Mendapatkan tindakan represifitas dari oleh aparat kepolisian, masa berjanji akan kembali mengadakan demonstrasi dengan jumlah masa yang lebih banyak.

“Atas dasar tindakan represifitas aparat tersebut, kami akan melakukan aksi unjuk rasa kembali dengan jumlah massa yg lebih lagi,” kata Istiana Iyou.

Usai menyampaikan aspirasinya, sekitar pukul 18.00 WITA, masa aksi membubarkan diri.(*)

Penulis: Nazlia Busra/Mahasiswa Magang UNG

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *